Salah satu prilaku paling “primitif” manusia adalah meniru orang lain. Maka tidak perlu heran jika smapai sekarang “meniru” dianggap sebagai pilihan paling “rasional” yang akan terus diulang dan berulang dalam perjalanan sejarah peradaban manusia. Namun tidka semua peniruan berujung keberhasilan, bahkan mungkin jauh lebih banyak kegagalannya. Dalam hal yang bersifat instingtif sekalipun peniruan terkadang juga tidak bisa sempurna. Kemiripan pikiran, karakter, sikap, perilaku, suara dan kondisi biologis lainnya juga tidak pernah akan selalu sama 100 persen.
Manusia jarang sekali menyadari bahwa perbedaan adalah sebuah anugera penting yang harus disyukuri. Kebanyakan mereka menghindari perbedaan dengan lebih banyak mencari persamaan. Padahal menuntut persamaan dalam latar perbedaan tidak akan pernah efektif tanpa memahami prinsip perbedaan itu sendiri. Karena itulah peniruan dalam bentuk apapun tanpa memahami karakter dasar diri sendiri adalah sebuah kesalahan yang banyak berujung kegagalan.
Lihat saja peniruan dalam dunia pendidikan, ekonomi, politik dan kebudayaan yang sedang terjadi secara massif dewasa ini. Alih-alih membantu memperbaiki keadaan justru semakin merusak pondasi perbedaan karakter bangsa yang penuh keluhuran nilai lokalitas. Era Orla kita mencoba meniru demokrasi terpimpin setelah kurang sabar merintis demokrasi Pancasila, era Orba kita memanipulasi Pancasila untuk meniru konsep “pembangunan” kapitalistik yang serba kwantitatif dan materialistis ukurannya. Bangsa kita pun terpuruk dalam kegagalan.
Era reformasi kita coba meniru kebebabsa demokrasi atau demokarasi liberal tanpa memperhatikan karakter bangsa yang harusnya “tepo seliro”, ujungnya kita terpecah belah karena kepentingan politik, ekonomi dan ideologis yang saling menjatuhkan. Jauh seklai dari karakter bangsa yang mencintai persatuan dan persaudaraan. Peniruan-peniruan yang hanya bersifat simbolik ini terus saja melahirkan kegagalan sistemik dalam perjalanan sejarah bangsa. Sekarang ini pun yang menjadi ujung era reformasi kita tetap saja diarahkan untuk meniru bangsa lain dengan kembali menjadikan “pembangunan infrastruktur” sebagai panglima dengan meniru China sebagai standard nya. Belum sempat menuai tanda kesuksesan “Corona” malah datang memporak-porandakan keadaan.
Beruntung Corona ini sedikit membuat sebagian kecil orang Indonesia sadar bahwa bangsa kita ini sangat kaya dengan sumber daya alam, budaya dan manusia. Karena itulah sudah saatnya kita mulai mengenali identitas jati diri bangsa Nusantara yang beragam, mulai dari tradisi pesisir sampai tradisi agraris pedalaman. Dimana jika keduanya disinergikan dalam latar perbedaannya bisa melahirkan kekuatan bangsa yang besar dalam bidang ekonomi dan kebudayaan. Inilah sebenarnya salah satuatu kunci kebangkitan peradaban kita. Tak perlu lagi kita meniru bangsa lain, negri ini pernah memiliki Sriwijaya dan Majapahit yang besar karena mengembangkan dirinya tanpa harus terlalu berlebihan meniru bangsa lain. Meniru adalah sebuah keniscayaan, tapi meniru tanpa memperhatikan potensi diri yang dianugerahkan Tuhan kepada kita adalah sebuah kebodohan yang sudah berulangkali kita lakukan. #SeriPaijo

No responses yet