Santri itu banyak dikritik karena terlalu fatalis, punya paham yg meniadakan diri gara2 sok makrifat. Kritik ini bisa jadi benar karena memang ada beberapa pihak santri yg salah paham tentang tawakal hingga melenceng jadi fatalis. Tapi bisa jadi kritiknya yg salah karena yg mengkritik kurang paham kalo gak semua kayak gitu dan bagaimana sebenarnya tawakalnya para santri.
Kalo lihat sejarah, dulu para ulama Nusantara dalam menerapkan tawakal, pinter banget. Gak cuma wiridan atau bikin majelisan. Tapi juga bikin perkumpulan (jam’iyyah). Perkumpulan itupun walau berbasis agama tapi mengatasnamakan organisasi ekonomi. Awalnya tidak murni mengatas namakan ormas keagamaan.
Makanya dulu berdiri Syarikat Dagang Islam, embrio Syarikat Islam. Berdiri pula Nahdlotut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang), jauh sebelum ada Nahdlotul Ulama. Semua pergerakan umat Islam dulu berangkat dari perlawanan ketidakadilan di bidang ekonomi. Ekonomi jadi concern pertama mereka.
Karena para ulama itu sadar, ekonomi ini adalah pertahanan vital umat Islam. Kyai gagal jadi wali gara2 diimingi kemudahan ekonomi secara gak bener, diiming-iming, disogok dan sebagainya. Orang awam dengan mudah jadi murtad ya gara2 ekonomi. Bahkan Mbah Sholeh Darat dawuh tauhidnya orang awam itu ada pada uang.
Kalo sekarang umat Islam saat berkiprah di masyarakat kok cuma mengandalkan wiridan biar kuat tawakal ini sebenernya salah kaprah. Apalagi kalo sampai sok-sokan zuhud trus mengacuhkan bidang ekonomi. Sama saja mengkhianati para ulama dahulu.
Nah, ada baiknya para santri kekinian, selain berkutat pada ilmu akhirat, ada concern ke ilmu dunia terutama bidang ekonomi. Bikin perkumpulan atau koperasi yang bisa jadi pertahanan ekonomi umat. Masalah nasionalisme dan religiusitas, tanpa pondasi ekonomi, gak akan berhasil.
Kalo ekonomi terurus walau gak kaya, mau tawakal, zuhud bahkan jadi wali qutub itu mudah. Hal itu pun sama saja menjalankan perintah Kanjeng Nabi Muhammad SAW lewat dawuh:
إعقلها وتوكلوا
“Ikatlah unta itu baru bertawakallah”
Artinya, amankan dulu ekonominya baru kita bicara tawakal. Maka medan mencari ridho lewat tawakal ini jangan kebalik-balik. Perlu ilmu, biar gak salah kaprah.

No responses yet