Sebelum menjawab saya hanya ingin meyakinkan kepada sampean bahwa apa yang sampean lakukan dengan mencium Mushaf Al-Qur’an itu sudah benar. Tidak akan berdosa ketika melakukannya, apalagi ketika menciumnya penuh rasa cinta bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah SWT sebagai sumber ilmu pengetahuan, sumber hidayah, dan pedoman hidup seorang muslim. 

Ketika ada yang membid’ahkan… anggap aja mainnya kurang jauh. Ah sudah begitu aja. Gw mah heran ama ngustadz model begini, sedikit2 bid’ah. Udah kayak paling ngerti aja. Nah, jika masing kurang yakin? Silakan bertanya ke Kyiai2 di pesantren, jgn cari di Google.

Dalam Kitab Tuhfah al-Habiib jilid I halaman 551

ويندب كتبه وإيضاحه أي تبيين حروفه ، واستدل السبكي على جواز تقبيل المصحف بالقياس على تقبيل الحجر الأسود ويد العالم والصالح والوالد ، إذ من المعلوم أنه أفضل منهم قال الدميري

( Disunahkan menulis dan memperjelas tulisan mushaf ) Imam As-subky menarik kesimpulan akan bolehnya mencium mushaf dengan mengqiyaskan pada mencium Hajar Aswad, tangan orang Alim, tangan Orang Shalih, tangan orang tua karena sudah maklum bahwa mushaf lebih utama ketimbang semuanya.

Dalam Kitab Al-Itqaan Fii ‘Uluum al-Quraan Jilid 2 halaman 458

يستحب تقبيل المصحف لأن عكرمة بن أبي جهل رضي الله عنه كان يفعله وبالقياس على تقبيل الحجر الاسود ذكره بعضهم ولأنه هديه من الله تعالى فشرع تقبيله كما يستحب تقبيل الولد الصغير

Disunahkan mencium mushaf karena sahabat ‘Ikrimah Bin Abu Jahal ra melakukannya dan dengan diqiyaskan pada mencium Hajar Aswad dan karena mushaf adalah sumber hidayah dari Allah maka disyariatkan menciumnya seperti kesunahan mencium anak kecil.

Dalam Kitab al-Mausuuah al-Fiqhiyyah XIII/133

ذَكَرَ الْحَنَفِيَّةُ : وَهُوَ الْمَشْهُورُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ – جَوَازُ تَقْبِيل الْمُصْحَفِ تَكْرِيمًا لَهُ ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ ، وَرُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ اسْتِحْبَابُهُ ، لِمَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ : كَانَ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ كُل غَدَاةٍ وَيُقَبِّلُهُ ، وَيَقُول : عَهْدُ رَبِّي وَمَنْشُورُ رَبِّي عَزَّ وَجَل ، وَكَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُقَبِّل الْمُصْحَفَ وَيَمْسَحُهُ عَلَى وَجْهِهِ .

Kalangan Hanafiyyah (pendapat ini juga mashur dikalangan Hanabilah) bolehnya mencium mushaf sebagai bentuk penghormatan padanya, pendapat ini yang dijadikan madzhab dikalangan Hanabilah bahkan diriwayatkan dari Imam Ahmad akan kesunahannya berdasarkan riwayat dari Umar ra “Adalah Umar setiap pagi mengambil mushaf dan menciumnya seraya berkata : Perjanjian dan surat dari Tuhanku ‘Azza wa Jalla”. “Adalah Utsman ra mencium mushaf dan mengusapkan pada muka mukanya”.

Wallaahu A’lam Bis Showaab

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *