Pasar lama terletak di Kecamatan Banjarmasin Tengah, perkampungan lama yang bersejarah tempat bertemu dan berinteraksi berbagai suku bangsa yang ada di Nusantara. Ia seperti menjadi epicentrum yang mempertemukan atau menjadi titik temu dari keragaman yang mengelilinginya. Di sebelah Barat ada Kampung Bugis dan Kampung Arab. Di sebelah Timur ada kampung Cina (Pacinan), kampung Gadang (Madura), Seberang Masjid, Sungai Mesa. Di Sebelah Utara ada kampung Jawa dan kampung Sumatera (Andalas). Di sebelah Selatan ada Sungai Jingah, Sungai Miai, Antasan Kecil Barat dan Antasan Kecil Timur. Bukan itu saja bahkan berbagai organisasi Islam dengan lembaga pendidikannya tumbuh dan berkembang di sekitar Pasar Lama ini.

Syarikat Islam (SI) dengan lembaga sekolahnya berbasis di daerah Sebrang Masjid, Nahdlatul Ulama (NU) dengan berbagai underbouwnya berada di Sungai Mesa, Muhammadiyah (MD) dengan beragam sekolahnya bermukim di Kampung Kristen (Sekarang Jl. S. Parman, Jl. Kalimantan dan Sungai Kidaung), Al-Irsyad dengan Sekolah Arab Ashriyahnya berdiri dan berkembang di Kampung Bugis (sekarang Jl. Sulawesi, Jl. Antasan Kecil Barat dan Kampung Arab), Musyawaratut Tholibin dan SMIPnya berpusat di Sungai Jingah tepatnya di Masjid Jami’ yang mempunyai pondok Hunafa dan STAI Al-Jami’, dan SPIAIN punya pemerintah di Kampung Melayu (sekarang menjadi MAN I).

Desain ruang kota yang mengkotak-kotakkan berdasarkan etnis ini, dicanangkan penjajah Belanda pada mulanya untuk bisa mudah mengontrol, mengawasi dan mengadu domba. Namun sebaliknya yang terjadi, menjadi sambung rasa, interaksi dan silaturrahmi antar suku bangsa yang merasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa terjajah. Khusus bagi masyarakat Banjar menjadi sudah terbiasa dengan berbagai perbedaan dan keragaman.

Berangkat dari keragaman ini, tumbuh secara perlahan kultur demokrasi pada masyarakat Banjar dan masyarakat lainnya yang bisa dikatakan refresentasi dari Indonesia mini minus suku Betawi dan suku Sunda. Masyarakat Pasar Lama dan sekitarnya mempunyai solidaritas yang kuat, toleransi yang berderajat tinggi dan kegotong-royongan yang mengakar. Di sini, nyaris tidak pernah ada gejolak masalah pendirian tempat ibadah, ada Masjid, Gereja, Vihara dan Klenteng. Bisa dikatakan masyarakat Pasar Lama dan sekitarnya telah bertumbuh menjadi masyakat terpelajar dan demokratis. Demokrasi terus bertumbuh dan berkecambah baik secara sosial, politik dan ekonomi. Demokrasi yang disebut terakhir yakni demokrasi ekonomi nampak pada pembagian secara alami barang yang didagangkan di Pasar Lama, seperti Urang Arab kebanyakan menjual minyak harum, jamu dan obat-obatan, Urang Cina pada umumnya berdagang onderdil kendaraan, sepeda dan segala perlengkapannya, Urang Madura menjual daging dan tukang potong rambut, Urang Jawa berdagang tahu, tempe dan kacang-kacangan, Urang Bugis menjual berbagai ikan laut yang masih segar, Urang Banjar Kuala berdagang beras, telur dan pancarekenan, Urang Banjar Hulu menjual kasur, bantal, guling, peralatan masak, menjahit pakaian dan pancarekenan, Urang Banjar Batang Banyu berdagang kain, pakaian jadi dan perhiasan. Bangunan pasarnya dibiarkan tradisional, seolah tidak tertata, padahal penuh tepo seliro dan kebersamaan, hampir tak ada bangunan megah dan bertingkat sehingga tak ada kesenjangan satu sama lain.

Menurut catatan sejarah, dahulu hingga awal awal abad 20, daerah Pasar Lama bernama sungai Parit. Dinamai Sungai Parit karena ada alur sungai yang bercabang-cabang dan dalam. Ada yang menyatakan parit itu merupakan selokan-selokan yang dalam sebagai wilayah benteng pertahanan dan biasanya dekat dengan daerah pelabuhan. Kemudian berubah menjadi Pasar Lama karena di sana bermula pasar di daratan memperlihatkan eksistensi, sebab sebelumnya pasar pada umumnya tempo doeloe berada di atas air (sungai) atau dikenal sebagai pasar terapung. Kenapa disebut Pasar Lama tidak Pasar Lawas ? Jawabnya karena mungkin kata “lama” pada waktu itu termasuk bagian dari bahasa Banjar atau orang di sekitarnya terdiri dari berbagai etnis, lalu dicarikan kata yang bisa dipahami oleh semua.

Begitulah Pasar Lama menjadi Candradimuka pertumbuhan dan perkembangan kultur demokrasi hingga menjadi tradisi yang panjang yang terus dirawat dan dilestarikan. Hampir tak pernah terjadi konflik terbuka antar etnis yang ada. Hanya ada sedikit letupan dua suku bangsa (Arab vs Madura) pada tahun 1995 yang dikenal sebagai “peristiwa ninja” yang tidak berlangsung lama.

Keterpelajaran masyarakat sekitar Pasar Lama, di samping beragamnya ormas Islam yang ada dan melakukan kegiatan pendidikan, juga tak bisa dibantah adanya ulama-ulama yang membuka majlis pengajian. Sebut saja umpama, Surgi Mufti Jamaluddin di Sungai Jingah, Datu Anggah Amin di Sungai Parit (kemudian pindah ke Benua Anyar), Tuan Guru H. Hanafie Gobet di Masjid Jami’ dan Tuan Guru H. Muhammad Tsani yang tinggal di Antasan Kecil Timur (Pendiri Pondok Al-Falah).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *