Sholatullahi ma laahat kawakib * ‘Ala Ahmad khairi man rakiban najaib…
itulah awal bait dari salah satu qasidah maulid Dibai’ yang sudah sangat akrab dengan telinga kita sejak dulu. meski sudah berkali-kali mendengarkannya, aku tak pernah memahami artinya dengan sempurna bahkan ketika aku bisa dikatakan telah mampu mengusai bahasa Arab dengan baik. Alasan utamanya tentu karena Qasidah itu disusun dengan sastra tingkat tinggi, memakai lafadz-lafadz asing yang bahkan jarang kita temukan di kitab-kitab salaf.
Aku baru memahami betul makna Qasidah itu ketika berada di Tarim. saat itu Habib Umar menguraikan satu persatu makna bait-bait ini dengan sangat mengagumkan. Seakan-akan aku tak pernah mendengar Qasidah itu sebelumnya.
Qasidah itu ternyata memiliki makna yang sangat indah dan dalam. Menceritakan tentang fenomena nyata yang disaksikan langsung oleh para pengunjung kota Madinah di masa lalu. Ketika mereka dengan unta-unta yang mereka tunggangi telah mendekati Kota Madinah, dan ketika mereka mulai melantunkan pujian-pujian untuk Baginda Nabi, keluarga dan sahabatnya. Ketika itu sebuah fenomena unik terjadi : unta-unta yang mereka tunggangi perlahan-perlahan mulai menggerakkan punggungnya, mengencangkan langkahnya dan mata mereka tampak berkaca-kaca, seakan-akan ada sosok agung yang begitu mereka rindukan berada di Madinah sana. bahkan konon jika tali kekang mereka dilepas, dengan sendirinya mereka akan sampai di pelataran Masjid Nabawi..
?ﺻَﻠَﺎﺓُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎﻟَﺎﺣَﺖْ ﻛَﻮَﺍﻛِﺐ * ْ ﻋَﻠﻰَ ﺍﺣْﻤَﺪْ ﺧَﻴْﺮِ ﻣَﻦْ ﺭَّﻛِﺐَ ﺍﻟﻨَّﺠَﺂئب
Selagi bintang masih berkelip dan bercahaya, semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad sebaik-baiknya penunggang unta
?ﺣَﺪَﻯ ﺣَﺎﺩِﻯ ﺍﻟﺴُّﺮَﻯ ﺑِﺎﺳْﻢِ ﺍﻟْﺤَﺒَﺂئب * ﻓَﻬَﺰَّ ﺍﻟﺴُّﻜْﺮُ ﺍَﻋْﻄَﺎﻑَ ﺍﻟﺮَّﻛَائب
Ketika pengiring unta mulai melantunkan nama-nama para kekasih. Saat itu pula rasa rindu yang memuncak menggerakkan pundak-pundak unta-unta itu..
?ﺍَﻟَـﻢْ ﺗَﺮَﻫَﺎ ﻭَﻗَﺪْ ﻣَﺪَّﺕْ ﺧُﻄَﺎﻫَﺎ * ﻭَﺳَﺎﻟَﺖْ ﻣِﻦْ ﻣَّﺪَﺍمعها ﺳَﺤَﺂﺋِﺐ
Tidakkah engkau lihat, semakin cepat langkah unta-unta itu ? Air mata mengalir deras dari mata mereka bagaikan air hujan.
?ﻭَﻣَﺎﻟَﺖْ ﻟِﻠْﺤِﻤَﻰ ﻃَﺮَﺑًﺎ ﻭَّﺣَﻨَّﺖْ * ﺍِﻟﻰَ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎلم ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﺎﻋِﺐ
Semakin cepat pula langkah mereka menuju tempat agung itu, mereka merintih merindukan tempat mulia penuh kegembiraan itu.
?ﻓَﺪَﻉْ ﺟَﺬْﺏَ ﺍﻟﺰِّﻣَﺎﻡِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺴُﻘْﻬَﺎ * ﻓَﻘَﺎﺋِﺪُ ﺷَﻮْﻗِﻬَﺎ ﻟِﻠْﺤَﻲِّ ﺟَﺎﺫِﺏ
Maka biarkan mereka, lepaskan tali kekang unta-unta itu dan janganlah kau menggiringnya, karena kerinduan mereka pada sang nabilah yang akan menarik langkah mereka..
?ﻓَﻬُﻢْ ﻃَﺮَﺑًﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻫَﺎﻣَﺖْ ﻭَﺇِﻟَّﺎ * ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻓِﻰ ﻃَﺮِﻳْﻖِ ﺍﻟْﺤُﺐِّ ﻛَﺎﺫِﺏ
Maka Tunjukkan lah rasa cintamu sebagaimana unta-unta itu. jika tidak, maka pengakuanmu sebagai peniti jalan cinta Nabi adalah dusta..
?ﺍَﻣَّﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌَﻘِﻴْﻖُ ﺑَﺪَﺍ ﻭَﻫَﺬِﻱ * ﻗِﺒَﺎﺏُ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ﻟَﺎﺣَﺖْ ﻭَﺍﻟْﻤَﻀَﺎﺭِﺏ
Perhatikan, inilah lembah Aqiq (nama lembah di Madinah ) telah nampak. dan inilah Qubah Nabi tanpak gemerlap bermandikan cahaya yang menyilaukan.
?ﻭَﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻘُﺒَّﺔُ ﺍﻟـْﺨَﻀْﺮَﺍﺀَ ﻭَﻓِﻴْﻬَﺎ * ﻧَـﺒـِﻲُّ ﻧُﻮْﺭُﻩُ ﻳَـﺠْﻠُﻮْ ﺍﻟْﻐَﻴَﺎهب
dan (lihatlah) Itulah qubah hijau yang di dalamnya bersemayam seorang Nabi yang cahayanya menumpas seluruh kegelapan.
Madinah memang menyimpan kesan yang sangat dalam bagi setiap orang yang pernah mengunjunginya. ribuan bait-bait dan lagu diciptakan untuk mengungkapkan kerinduan ke Kota Cahaya ini. Mulai dari Ya Thoibahnya Haddad Alwi sampai lagu Madinah-nya Maher Zain. Salah seorang sabahat bertanya :
” kenapa ya di Madinah ini banyak orang merasakan kenyamanan dan ketenangan yang berlebih ? bahkan dari Mekkah sekalipun.. ? “
Aku menjawab : ” ada Rasulullah disini.. Kurang apa lagi.. ?? “
اللهم بلغنا مكة و المدينة مرات و كرات في خير و لطف و عافية
sore di kota Madinah, 16 September, 2018.

No responses yet