Saat burung hud-hud datang dari negeri Saba’, ia melaporkan kepada Nabi Sulaiman dan berkata: “Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ dengan membawa suatu berita yang meyakinkan”.
وجئتك من سبإ بنبإ يقين.
Ia benar-benar telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang berita yang ia sampaikan. Tidak hanya sebatas mendengar atau membaca berita.
“Ora mung jare-jare”. Begitulah kata orang Jawa.
Walaupun begitu, apakah Nabi Sulaiman serta merta mempercayai berita yang disampaikan?.
Jawabannya adalah “tidak”.
Nabi Sulaiman mengetahui bahwa hud-hud tidak akan mungkin berani berbohong kepada beliau. Walaupun demikian, beliau tetap mencari kepastian dan memastikan kebenaran berita yang disampaikan.
Beliau bersabda kepada hud-hud: “Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta”.
سننظر أصدقت أم كنت من الكاذبين.
Memastikan kebenaran berita yang belum diketahui dengan pasti adalah salah satu metode dan manhaj Nabi.
Hal itu juga seringkali kita saksikan pada diri Mbah Maimoen Zubair.
Nabi Sulaiman waktu itu belum mengetahui bahwa di Saba’ Yaman terdapat ratu Balqis. Hal itu dibuktikan dengan perkataan hud-hud sebelumnya: “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui”.
أحطت بما لم تحط به.
Lantas bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh hud-hud saat menghadap kepada Nabi Sulaiman?.
Diceritakan oleh Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitab Tafsir Al-Jalalain:
وحضر لسليمان متواضعا برفع رأسه وإرخاء ذنبه وجناحيه.
Hud-hud datang menghadap Nabi Sulaiman dengan tawadlu’, tidak berlagak karena membawa berita penting. Ia mengangkat kepalanya, mengendorkan ekor dan menurunkan sayapnya.
Begitulah sikap yang ditunjukkan seekor burung kepada Nabi.
Kramatsari 3 Pekalongan Barat.

No responses yet