Sebelum Islam lahir, di Jazirah Arab telah berkembang berbagai jenis agama, baik agama asli maupun agama yang berasal dari pengaruh wilayah lain, seperti Yahudi dan Nasrani. Namun demikian, bedasarkan data sejarah, kedua agama tersebut tidak berpengaruh banyak pada sistem kepercayaan bangsa Arab Jahiliyah yang tinggal di Mekah tempat agama Islam lahir. Masyarakat Arab pada masa Jahiliyah mempercayai agama pagan, yakni penyembahan berhala. Kepercayaan asli mereka pada dasarnya adalah gabungan antara pengkultusan nenek moyang, fetisisme, totemisme, dan animisme.

Fetisisme adalah suatu kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan terhadap benda, seperti kayu dan batu. Oleh bangsa Arab, batu diyakini mempunyai kekuatan berupa roh yang menempati batu. Rohlah yang disembah mereka, bukan batunya. Batu dan benda lainnya, hanyalah tempat bersemayam roh. Maka dapat dipahami ketika Aus ibn Hajar dalam syairnya menyebut nama Latta dan Uzza dengan didahului kata Allah:

وباللات والعزى ومن دان دينها ۞ وبالله إن الله منهن أكبر

Demi Latta dan Uzza dan orang yang mempercayainya. Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih agung dari mereka (berhala-berhala itu)

Hal ini membuktikan bahwa pada dasarnya mereka percaya pada kekuatan yang ada dalam batu (berhala-berhala), bukan pada berhala itu sendiri. Fetisisme adalah kepercayaan Arab kuno yang paling banyak berkembang di Jazirah Arab.

Selain fetisisme, kepercayaan lain yang juga berkembang di Jazirah Arab kuno adalah totemisme. Totemisme adalah pengkultusan terhadap hewan dan tumbuhan yang dianggap suci. Pengkultusan ini mungkin disebabkan oleh ketergantungan mereka terhadap hewan dan tumbuhan-tumbuhan yang dianggap suci. Oleh karena itu, mereka melarang membunuh, memotong, atau makan daging hewan dan tmbuh-tumbuhan tersebut. 

Salah satu bentuk pengkultusan mereka terhadap binatang dan tumbuhan, tampak pada pemberian nama Kabilah yang disandarkan pada hewan dan tumbuhan, seperti Bani Asad (keturunan Singa), Bani Fahd (singa), Bani Namir (harimau), Bani Dhabbah (Biawak), Bani Kalb (anjing), Bani Handalah (Timun) dan lain sebagainya.

Kepercayaan lainnya yang dianut masyarakat Arab Kuno adalah animisme, yakni kepercayaan terhadap roh. Mereka percaya bahwa roh itu ada yang baik dan ada yang jahat, sehingga baik air, udara, api, kayu, dan lainnya memiliki roh baik dan buruk. Keyakinan lainnya adalah percaya terhadap Jin, bintang, matahari, dan bulan.

Keyakinan masyarakat Jazirah Arab pada masa Pra Islam, dalam syair-syair Jahiliyah sendiri tidak banyak simbol keagamaan yang bisa kita temukan, baik dalam syair sebagai satu dari tiga bukti sejarah yang tertinggal dari masa pra-Islam. Hal ini membuktikan, bahwa kehidupan beragama pada saat itu belum banyak dikenal oleh bangsa Arab. Namun demikian, hal ini bukan berarti bangsa Arab Jahiliyah sama sekali tidak memiliki kepercayaan terhadap wujud supranatural. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya ungkapan yang menggunakan kata Allah (الله) dalam syair mereka.

Kata Allah (الله) dalam bahasa Arab berasal dari kata a-la-ha (أله). Menurut ibnu al-Manzhur dalam kitab Lisan al-‘Arab disebutkan bahwa al-Ilah (الإله) berarti Allah (الله), dan setiap yang disembah oleh selainnya, maka ia adalah Tuhan bagi penyembahnya. Jamak dari Ilah (إله) adalah alihah (آلهة). Dan al-Alihah (الألهة) diartikan oleh Ibnu al-Manzhur dengan berhala (الأصنام). Dinamakan demikian, karena keyakinan bangsa Arab saat itu, bahwa yang berhak disembah adalah berhala. Nama tersebut mengikuti keyakinan mereka, bukan pada makna yang ada dalam hakekatnya. Kata Allah menurut Ibnu Atsir diambil dari kata Ilah dari wazan ulhaniyah (ألهانية) dengan asal kata aliha ya’lahu (أله – يأله), yang berarti tahayyara (تحيّر). Kata tersebut berarti apabila seseorang terjatuh dalam pengagungan Allah atau sifat-sifat ketuhanan lainnya, atau seseorang yang abghadha (أبغض) sehingga hatinya tidak pernah berpaling pada yang lain.

Yahudi adalah salah satu agama Samawi yang berkembang di Jazirah Arab. Penganut agama Yahudi yang masuk ke Jazirah ini berasal dari Suriah, Paletina, dan Irak. Agama yahudi akhirnya mendapatkan penganut yang kuat di Yaman. Perpindahan orang Yahudi ke Yaman ini disebabkan oleh adanya peperangan yang terus-menerus di Pelastina pada abad pertama Masehi. Hal tersebut mendorong pindahnya orang Yahudi dari tanah air mereka untuk menyelamatkan diri. Meskipun demikian, di Yaman mereka juga mendapatkan kesulitan karena Yaman tetap menjadi ajang pertikaian antara dua kekuatan besar, yakni Binzantium yang beragama Nasrani dan Sasaniah yang beragama Zoroaster. Kedua imperium ini menggunakan agama sebagai alat pembenaran bagi ekspansi mereka ke Yaman, wilayah yang memiliki sumber alam potensial.

Di samping Yaman, daerah yang menjadi tujuan pengikut Yahudi ialah Madinah, Lembah al-Qura’, Khaibar dan Taima. Penganut agama Yahudi juga terdapat di Bahrein. Ketika Nabi Muhammad SAW mengajak penduduk wilayah ini untuk masuk Islam, ternyata mereka beragama Yahudi. Pengikut Yahudi bekerja di sektor perdagangan, pertanian, dan industri, di samping sebagai rentenir di kalangan masyarakat miskin. Di Nejran sebuah wilayah pertanian yang subur, para penganut Yahudi mendirikan pemukiman dan tempat tinggal bersama penduduk Arab asli yang menyembah berhala, dan pemeluk agama Nasrani. Berbeda dengan orang Nasrani, orang Yahudi tidak menekankan bimbingan agama untuk sesama Yahudi atau menyebarkan agamanya bagi masyarakat lain. Mereka juga tidak memiliki fasilitas khusus untuk kepentingan agama Yahudi. Oleh karena itu, orang Yahudi biasanya hanya mendiami tempat-tempat yang dapat dijangkau transportasi. Mereka lebih mementingkan pengumpulan harta sebanyak-banyaknya.

Hal yang paling penting yang perlu diketahui bahwa meskipun kaum Yahudi itu lebih mementingkan materi, namun demikian berkat tangan mereka, pemikiran tentang ketuhanan, termasuk ajaran-ajaran tentang kejadian alam, kebangkitan, perhitungan amal di akhirat, surga, neraka, setan dan iblis di Jazirah Arab mulai dikenal.

Kaum Yahudi pada masa Jahiliyah tidak mengembangkan karakteristik tertentu dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu, nama orang, keluarga, maupun kabilah diambil dari nama-nama Arab. Dan syair yang digubah oleh penyair Yahudi pun memiliki cirri-ciri khas Arab pada masa itu.Begitu juga halnya dalam kehidupan sosial politik, tidak terdapat perbedaan yang menonjol antara kaum Yahudi dengan bangsa Arab pada umumnya. Untuk itu, banyak orang Arab yang memeluk agama Yahudi, sehingga istilah Yahudi pada saat itu lebih berkonotasi agama.

Agama Yahudi adalah agama yang sempat berkembang pada masa Jahiliyah, seperti halnya agama Nasrani. Pemeluk agama Yahudi menempati kota Yatsrib yang kemudian dinamakan Madinah. Mereka terdiri dari Bani Nadhîr, Bani Qainuqâ, dan Bani Quraizhah. Mereka menempati kota Madinah bersama-sama dengan suku Aus dan Khazraj. Hubungan mereka terkadang bersahabat, namun juga terkadang bermusuhan. Sebagaimana agama Samawi lainnya, simbol-simbol keagamaan dalam kehidupan mereka tampak jelas. Sebagai contoh syair religi yang digubah oleh Umayyah ibn Abi al-Shult Penyair Yahudi berikut ini:

الحمد لله مُمسانا ومُصبحَنا ۞ بالخير صبحنا ربّى ومسّنا

Segala puji bagi Allah di pagi hari dan sore hari. Wahai Tuhanku, berikan kami kebajikan di pagi dan sore hari

ربّ الحنيفة لم تنفذ خزائنها ۞ مملوءة طبق الآفاق سلطانا

Tuhan (pemilik agama) Hanif yang kekayaannya tidak pernah habis. Kuasanya meliputi seluruh lapisan cakrawala

Pada bait berikutnya, kata hanifahyang terdapat dalah syair tersebut adalah simbol agama samawi. Hanifahsecara bahasa berarti condong ke jalan yang lurus (benar). Yakni sikap yang berpihak pada kebenaran yang datang dari Allah SWT melalui ajaran agama Islam yang dibawa Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad SAW.

Di dalam al-Qur’an terdapat 12 kata hanif dan kata-kata lain yang berasal dari derivasi yang sama. Dari syair Abu al-Shult di atas, terbukti bahwa istilah hanif sudah dikenal sejak zaman pra Islam. Memang dalam bait tersebut tidak disebutkan apakah yang ia maksudkan dengan kata hanifah adalah agama Nabi Ibrahim as atau bukan, namun dari mashra’ berikutnya dapat diketahui bahwa ada sebuah keyakinan agung dari sang penyair akan adanya penguasa yang menguasai jagat raya ini, sebagaimana keyakinan agama hanif yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Sebagaimana terdapat dalam bait syair:

ألا نبيٌّ لنا منا فيخبرنا ۞ ما بعد غايتنا من رأس محيانا

(ingatlah Ia telah mengutus) Seorang Nabi dari (golongan) kita untuk kita, untuk memberitahukan kita, tentang tujuan akhir kehidupan kita.

بينا يرببّنا آباءنا هلكوا ۞ وبينما تقتنى الأولاد افنانا

Apa yang diajarkan oleh nenek moyang kita pasti hancur. Dan apa yang didapat oleh anak-anak akan berkembang

وقد علمنا لو أن العلم ينفعنا۞ أن سوف يلحق أخرانا بأولانا

Kita tahu, bahwa ilmu itu bermanfaat (dengan itu pasti kita juga tahu), bahwa kehidupan akhir adalah awal perjumpaan dengan kehidupan awal lainnya.

Dari bait-bait syair di atas, tampak jelas bahwa kata rabb al-hanifah (Tuhan pemiliki agama yang lurus), terkait erat dengan kata nabi yang diutus untuk umat manusia yang berasal dari kelompoknya masing-masing. Untuk itu perlu diperhatikan syair ini:

ألا نبيٌّ لنا منا فيخبرنا ۞ ما بعد غايتنا من رأس محيان

(ingatlah Ia telah mengutus) Seorang Nabi dari (golongan) kita untuk kita, untuk memberitahukan kita, tentang tujuan akhir kehidupan kita.

Kata nabi pada bait syair tersebut tidak ditujukan pada satu nama nabi, tidak Ibrahim, tidak Isa, tidak juga Muhammad. Hal ini terlihat dari kata Nabi yang menggunakan isim nakirah bukan ma’rifah.

Hal ini sudah ditegaskan dalam syair sebelumnya bahwa rabb al-hanifah(Tuhan pemilik agama yang hanif), Dialah yang mengutus Nabi kepada setiap umat yang akan menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan yang sebenarnya, yang akan memberitahukan tentang akhir tujuan hidup ini.

Udah ah pegell…. Saya ngak cocok nyetatus terlalu serius…. Enakan nyetatus yg nakal.

Bersambung………………………..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *