Terhitung sejak maraknya corona saya menyimpan beberapa ijazah dari beberapa kyai. Dan saya berusaha menjalani ijazah itu sampai tuntas. Disamping segala perangkat kesehatan yang juga selalu tersedia; masker, handsanitizer, vitamin dkk. Nampaknya mental spiritual saya menuntut lebih, iya saya butuh do’a-do’a.
Seorang kawan menyela; “ah irrasional banget kamu, masak iya doa-doa semacam itu bisa menangkal virus?”
Saya jawab balik; “jadi selama ini kamu anggap virus ini bekerja berdasarkan rel rasionalitasmu?”
Paparan segala telaah medis telah saya baca, dan hasilnya: misteri. Kemarin bilang virus ini menular hanya melalui sentuhan, hari ini ada revisi bahwa virus ini bisa menular perantara angin.
Kekuatan antibodi tubuh bisa menghancurkannya, maka kamu hanya perlu menjaga imun tubuhmu. Lalu 30 tenaga medis yang meninggal itu kamu kira lalai menjaga imunitas dan kacau dalam mengatur pola kesehatannya?
Iya jujur saya skeptis, bukan alasan semata-mata perdebatan sains vs agama yang juga kian maraknya.
Nalar berpikir kita nampaknya melompat terlalu jauh dari local genuine kita. Kita sering menyangkal, seperti delingu bawang yang ditanam petani sebagai penangkal hama padi hanya sebuah mitos belaka. Juga tanaman sirih, jahe, bidara cina, bengkle sawan, apalagi ritual selametan kita cibir sebagai sugesti atas ketidakmampuan bernalar sains.
Kurang saintifik apa Ibnu Sina, ahli medis prestisius di mata ilmuwan barat dan timur. Yang pada abad ke-10 menganjurkan karantina, bukankah ini senjata yang kita pakai saat ini?
Sungguhpun demikian, Ibnu Sina tidak lantas menanggalkan dimensi spiritualnya. Dalam risalahnya ia menjelaskan karantina ar-arba’iniyyah (the-forty) sebagai media kontemplasi sarat do’a, puasa dan olah rasa.
Hal ihwal dari segala ikhtiar ini saya yakini sebagai manifestasi atas petuah Plato bahwa manusia tercipta sebagai makhluk percaya (homo credens), karenanya saya meyakini do’a-do’a ini pasti ada khasiatnya.
Jika perdebatan antara munculnya sebuah rasa percaya sering dipertentangkan dengan hal-hal yang ilmiah dan non-ilmiah, maka kali ini saya mengamini adagium Anselmus bahwa semua tindakan manusia harusnya dimulai dari sikap percaya. Credo et intellegum. Jika engkau tak percaya engkau takkan mengerti.
Manusia sekalipun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi harus tetap merawat “kesadarannya” sebagai “hamba” yang tunduk, bergantung, dan berharap kepada Tuhan-nya.

No responses yet