Mungkin dari kita ada yg punya orang tua, anak, saudara atau orang terdekat yang punya kelainan secara fisik maupun jiwanya. Dan mereka butuh perawatan full dari kita sebagai orang yang sehat. Tapi sebagai orang yg sehat, kadang kita juga sambat.

Bahkan ada kasus, karena yg dirawat itu sudah divonis tidak berumur panjang atau gak bisa disembuhkan, yg merawat jadi merasa percuma terus melanjutkan perawatan. Merasa semua perawatan itu cuma menghabiskan energi, waktu dan biaya, karena ujung-ujungnya udah gak tertolong.

Ini sekedar sharing. Almarhumah anak saya yg nomer 2, Mawlie Syarifah Ali, punya kelainan organ dalam. Serambi jantung yg harusnya ada 4, dia cuma punya 3. Dan dia tidak punya limpa. Karenanya, anak saya susah bernafas dan susah menelan makanan.

Semua itu baru ketahuan ketika di usianya yg ke 3 bulan, dia difoto organ dalamnya. Dokter yg menanganinya pun angkat tangan, tidak ada tindakan medis yang bisa dilakukan. Operasi pun percuma. Dokter pun mengatakan umur anak saya tidak akan panjang, bisa meninggal sewaktu-waktu. Maksimal jangka hidup hanya 6 tahun. Kami hanya disarankan melakukan perawatan seperlunya untuk menunjang sisa hidupnya yg sebentar.

Mendengar itu semua, tentu saya dan istri syok berat. Membayangkan ditinggal anak yang lagi lucu-lucunya tentu tekanan tersendiri. Tapi saya dan istri pun bertekad untuk merawatnya semaksimal mungkin. Saya yakinkan istri, ini bukti cinta kami pada Mawlie.

Saya pun sampai resign dari kantor, karena tidak bisa kalau terus bekerja sambil merawat anak saya yg istimewa itu. Terlalu capek bagi saya dan istri. Bayangin, tiap 2 jam sekali, harus menyuntik makanan lewat selang sonde dan gak boleh telat. Kalo telat, dipastikan akan kelaparan. Kalo udah kelaparan, dia akan nangis. Kalo nangis, dipastikan akan susah bernafas dan mukanya membiru. Maka saya dan istri harus gantian tidur biar gak kecapekan demi tugas 24 jam sehari mengawasi anak kami.

Hingga satu ketika, anak saya harus masuk ICU kedua kalinya karena tiba2 susah bernafas. Setelah beberapa hari udah mendingan, dia dipindah bangsal biasa. Saya dan istri tetap saling menguatkan agar gak menyerah walaupun secara kasat mata itu percuma. Perawatan yg kami lakukan itu tidak akan menghilangkan sakitnya dan tidak akan memperlambat kematian.

Tapi kami yakin, walau gak ikut merasakan sakit yg dideritanya, paling tidak, perawatan yg kami usahakan itu jadi bukti cinta kami sebagai orang tua pada anak kami itu. Sehingga ketika kami ditanya di hadapan pengadilan Gusti Allah, apa bukti cinta kami pada anak kami itu, kami siap menjawabnya dengan bukti kesungguhan semampunya usaha kami.

Hingga tak lama kemudian, anak kami meninggal mendadak di usia 9 bulan. Walau ini sudah diprediksi, kami pun tetap saja sedih, terpuruk dan lelah jiwa raga. Tapi di dalam hati, kami tidak menyesal karena sudah berusaha semampunya untuk membuktikan cinta kami pada Mawlie. Walau butuh waktu lama untuk bangkit, kami pun senang saja akhirnya sakit anak saya sembuh dan dirawat oleh Gusti Allah sendiri.

Nah, di sini saya bisa menarik pelajaran bahwa kita jangan pernah merasa usaha kita sia-sia. Gak ada usaha yg sia-sia selama usaha itu diniatkan untuk mencari ridho dengan hati yg penuh cinta. Walau kata cinta tidak terucap, lewat usaha yg semaksimal mungkin itu jadi tanda kecintaan yg lebih nyata dari sekedar kata. Walau waktu terasa sempit, jangan merasa terlambat untuk mengungkapkan cinta lewat keyakinan dan amal kita. Perpisahan itu haq dan pasti datang, namun tergantung kita mau mengisinya dgn apa kebersamaan sebelum perpisahan tersebut.

Untuk Mawlie Syarifah Ali, Al Faatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *