Mengapa ide dan gagasan orang-orang dahulu begitu mengagumkan dan cemerlang? Karena ide itu lahir dari proses panjang, menghabiskan bertumpuk buku tebal untuk dibaca dan riset jlimet yang melelahkan. Setelah menjadi gagasan, kemudian memunculkan respon beragam, hingga melahirkan polemik berkepanjangan atau diskusi bermalam-malam. Demikian orang mengapresiasi sebuah ide yang dilahirkan melalui proses intelektual dan perenungan panjang.
Sekarang? Tak ada lagi ide brilian maupun gagasan cemerlang. Semua telah diamputasi oleh kekuatan bernama teknologi. Internet, wabil khusus Google, telah melipat semua koleksi buku dan semua informasi dalam lipatan sangat kecil dan tipis. Orang kebanyakan lebih memilih memelototi ciutan dan status di Medsos sebagai sumber pengetahuan.
Bencana terbesarnya, kita tak bisa lagi membedakan, mana intelektual mana pembual, orang terdidik dan sekadar penghardik, hingga ulama beneran sampai ulama karbitan. Di depan Mbah Google semua sama. Tulisan-tulisan cemerlang dari para cendekiawan, yang saat menulis butuh bertumpuk-tumpuk buku referensi, akan disiuli dan dibully orang-orang pandir bermodal kuota hanya karena tak memenuhi selera dan keinginan mereka.
Kondisi seperti ini tak pelak melanda dunia akademis. Diskusi-diskusi menarik di kampus telah beralih ke media sosial, bercampur dengan orang-orang yang kesehariannya tak mengenal tradisi keilmuan di dunia pendidikan. Lebih ironi lagi para akademisi di kampus lebih tertarik mengundang pengajian monolog dan memilih menjadi pendengar pasif macam orang awam.
Sekali lagi, dunia ide benar-benar telah sekarat dan digantikan ciutan pendek, singkat dan nyaris ejakulatif. Internet benar-benar telah meninabobokkan. Segala sesuatu ditanyakan kepada mesin pencari bernama google, bukan kepada para cerdik pandai atau orang yang memiliki kompetensi di bidangnya. Buku-buku tak lagi tersentuh. Perpustakaan lebih sering jadi tempat kencan daripada tepekur dalam kenikmatan membaca.
Mengapa mereka memilih bertanya ke internet? Karena mereka tak sungguh-sungguh belajar. Mereka ingin serba instan, setengah-setengah dan tak serius.
Akhirnya ide pada hari ini adalah cuitan dan status singkat di media sosial. Sesuatu yang menguntungkan orang yang tidak bisa menulis panjang, macam orang2 yang bergelar doktor dadakan dan sekadar akademisi tukang. Hanya bermodal kuota gratisan dengan ciutan tak lebih dari 150 karakter, mereka bisa dianggap profesor hingga ulama.
Dan hari ini, ide maupun gagasan lebih menyerupai keriuhan sesaat yang akan terus berganti setiap detik setiap saat dan kemudian dilupakan.

No responses yet