Catatan Singkat Disertasi Inaya Rakhmani 

Beberapa minggu yang lalu, ketika secara berseri mengikuti diskusi terbatas dengan pengelola program keagamaan di TV, saya baru tahu jika satu pengisi acara (ustadz/ustadzah) dalam satu kali tampil, 30-60 menit, honornya bisa tembus di angka 45-50 juta. Nominal ini untuk satu kali tampil atau satu episode. Tinggal dikalikan saja jika acara keagamaannya tayang harian. Ada yang beseloroh bahwa profesi dai di TV lebih menjanjikan dibanding dengan dosen ataupun guru besar di kampus. Tentunya, fakta ini bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif. Hanya saja, mengapa hal ini mungkin terjadi?

Terkait hal ini, buku yang berjudul “Mainstreaming Islam In Indonesia; Television, Identity, and the Middle Class” (2016) karya dosen muda Fisip Universitas Indonesia ini menarik kita telaah. Buku setebal  220 halaman yang awalnya adalah disertasi di Murdoch University Austarlia ini fokus mengkaji geliat kesalehan kelas menengah dan problematika pertemuannya dengan industri penyiaran televisi. Jika yang pertama bersifat profan, maka yang kedua bersifat sekular. Bekerja sesuai hukum pasar. Secara ide, keduanya sering dipandang sebagai dua hal yang berseberangan, namun dalam praktikya, dapat berjejalin secara harmonis. Dakwah agama membutuhkan panggung TV. Demikian halnya industri TV membutuhkan konten religi untuk memenuhi kebutuhan penonton.

Secara lebih detail, bab kedua dan ketiga buku terbitan Palgrave MacMillan ini mengulas tipologi acara keagamaan di televisi. Ibarat supermaket dakwah, TV mengemas acara keagamaan ke dalam ragam bentuk. Disesuaikan dengan minat pasar (penonton). Mulai dari ceramah dibalut dengan hiburan (da’wahtainment), majlis dzikir akbar (the great dzikr), lomba pencarian dai (da’wah competition shows), acara supranatural religius (supernatural reality shows), musik religi (da’wah music), dan sinetron religi (sinetron religion). Keragaman acara ini merupakan kreativitas industri TV untuk dapat bersaing meraup angka rating/share. Semakin tinggi ratingnya, maka sponsor dan iklan akan berjibun antri. 

Di bab ketiga, sub judul  “Commercial Da’wah”,  kita dapat melihat bagaimana pertemuan korporasi multinasional dengan program keagamaan di TV. Dipaparkan dinamika pasang iklan di sela-sela jam tayang sinetron religi. Di antaranya adalah Unilever, Frisian Flag, Suzuki, Honda, dan Daihatsu. Di satu sisi, geliat kelas menengah muslim perkotaan membutuhkan hiburan dan tontonan religius meningkat. Sehingga acara acara religi ratingnya relatif tinggi. Di satu sisi, perusahan-perusahan besar di atas berkepentingan untuk memasarkan produknya. Karena itu, nominal puluhan juta hingga ratusan juta di awal paragraf ini tidaklah besar.

Lantas seperti detail jalinan hal profan dan sekular di atas? Hubungan simbiosis mutualisme antara dakwah, kesalehan, dan komersialisasi pasar. 

Menarik untuk kita telaah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *