Di antara cara yang apik saat menjumpai hadits-hadits yang berisi  himbauan Nabi untuk melakukan perbuatan tertentu, yaitu dengan menangkap makna substansial dari suatu sunnah di balik bentuk lahiriyah atau simbolitasnya.

Sebagai contoh, kesunnahan untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis, menyemir rambut dengan warna pirang, atau kesunnahan bersahur saat hendak melaksanakan puasa baik puasa wajib maupun puasa sunnah, memanggil untuk shalat dengan seruan adzan, juga puasa hari Tasu’a (9 Muharram), di samping puasa ‘Asyura (10 Muharram). Itu semua substansinya adalah mengajarkan agar kita harus berbeda dalam segala hal dengan Yahudi dan Nasrani, bukan semata-mata ibadah tersebut dikerjakan secara kaku, sebagaimana yang tercantum dalam redaksi haditsnya.

Karena melihat konteks hadits-hadits saat Rasul menganjurkan semua itu adalah dikarenakan kaum Yahudi dan Nasrani melakukan hal-hal kebalikannya.  Mereka memelihara kumis dan mencukur jenggot, menyemir rambut dengan warna hitam, jika berpuasa tidak pernah bersahur, hanya berpuasa di hari ‘Asyuronya saja, memanggil untuk beribadah dengan membunyikan lonceng atau meniup terompet. 

Maka suatu kekeliruan jika seseorang sangat fanatik untuk memelihara jenggot, tapi dalam dalam berpolitik, ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan atau jabatan tertentu dengan rajin melancarkan fitnah, caci maki, ujaran kebencian, maupun menebar hoax. Begitu pula  dalam bermuamalah (transaksi bisnis), ia mengikuti cara orang Yahudi, seperti cedera janji, tidak amanah, tipu menipu sebagaimana banyak terjadi kasus penipuan investasi kebun kurma, perumahan syari’ah yang bodong,  juga merugikan puluhan ribu jama’ah haji dan umrah karena medmbawa larii uang jema’ah.

Jadi, penting sekali seorang Muslim menjaga integritas moral, menunjukkan akhlaqul karimah kepada siapapun, dan di mana pun, walaupun dalam penampilan, ia tidak fanatik menggnakan atribut kemusliman yang Kearab-araban. Dengan begitu, hakikatnya ia telah menjalankan sunnah Rasul yang paling utama serta menampilkan wajah Islam yang indah, ramah, dan substansial. 

(bersambung)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *