..ويصبر للغريب على الجفوة في منطقه ومسألته، حتى إن كان أصحابه ليستجلبونهم. ويقول: إذا رأيتم طالب حاجة يطلبها فأرفدوه ولايقبل الثناء إلا من مكافئ ولا يقطع على أحد حديثه حتى يجوز فيقطعه بنهي أو قيام. اه
“Kanjeng Nabi Muhammad SAW sabar menghadapi orang asing (a’robi, arab badui) dengan perkataan dan permintaannya yang tidak sopan, sehingga para sahabat Nabi kadang mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu, karena dari badui itu, para sahabat mendapat manfaat.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh pada sahabatnya, ‘Bila kalian melihat orang yang membutuhkan bantuan, maka bantulah dia’
Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali yang sewajarnya.
Beliau tidak mau memutuskan pembicaraan seseorang, kecuali orang itu melanggar batas. Apabila seseorang berbuat itu, maka dipotongnya pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau dengan berdiri”
Selesai.
Penjelasan :
23. Kanjeng Nabi Muhammad SAW sabar menghadapi orang asing dengan perkataan dan permintaannya yang kasar, bermakna sikap orang a’robi atau badui arab yang perilakunya tak punya sopan santun, ngomongnya keras, srudal-srudul dan tidak beretika itu dihadapi oleh Kanjeng Nabi dengan sangat sabar, padahal secara kasat mata, Kanjeng Nabi dilecehkan dan tidak dihargai kehormatannya sebagai Nabi dan pemimpin.
Dengan kesabaran ini, Kanjeng Nabi terbukti punya derajat tinggi dalam kesabarannya menghadapi masyarakat. Karena telah diriwayatkan bahwa orang mukmin yang mau bergaul akrab dengan masyarakat dan mau bersabar atas sifat buruk masyarakat, itu derajatnya lebih baik daripada yang anti sosial. Orang anti sosial diidentikkan dengan orang sok suci, punya pandangan hina pada orang lain dan meninggikan diri sendiri, yang dikecam Gusti Allah dalam surat An Najm 32
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ
“Jangan merasa dirimu suci sendiri”
Masyhur juga cerita akhlak Kanjeng Nabi lewat hadits yang menceritakan seorang Badui yang bernama Dzul Khuwaishiroh datang-datang ke hadapan Kanjeng Nabi dan menyuruh Kanjeng Nabi berbuat adil. Kanjeng Nabi menanggapinya santai dan menjawab “Wah-wah, Lha kalau aku gak adil, lalu siapa lagi di dunia ini yang bisa berbuat adil? Kalau aku gak adil maka aku Nabi penipu dan korup, dong?”
Sayyidina Umar yang dari tadi getem-getem dgn sikap badui itu pun angkat bicara, “Ijinkan pedang saya ini saya hantamkan kepada orang ini, Ya Rosulallah !”
Kanjeng Nabi pun meredam kemarahan Sayyidina Umar, “Jangan, santai bro, saya gak ingin dianggap Nabi yang membunuh sahabatnya sendiri,”
Aw kama qool Imam Baihaqi dari Sayyidina Abu Sa’id.
24. Sehingga kadang para sahabat Nabi mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu, karena dari badui itu, para sahabat mendapat manfaat.
Para sahabat itu saking menjaga adab di depan Kanjeng Nabi, sampai tidak ada yang berani untuk sekedar menanyakan sesuatu. Sehingga para sahabat kadang senang dengan ketidaksenonohan orang badui yang gak sungkan tanya apa saja pada Kanjeng Nabi dengan ceplas-ceplos. Dan Kanjeng Nabi pun menjawab pertanyaan badui itu dengan sabar. Sehingga dari keceplas-ceplosannya badui tadi, para sahabat mendapat berbagai faidah yang mereka tidak berani menanyakannya. Dari situ dihasilkan berbagai hukum syariat.
Ini hikmah diciptakannya orang ngawur dan tak beradab di sekeliling Kanjeng Nabi. Jadi, kita gak perlu benci banget sama orang yg suka ngawur perilakunya.
25. Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh pada sahabatnya, “Bila kalian melihat orang yang membutuhkan bantuan, maka bantulah dia”. Yakni dibantu semampunya hingga orang tersebut mendapat apa yang dibutuhkan.
26. Kanjeng Nabi tidak mau menerima pujian orang kecuali yang sewajarnya. Yakni Kanjeng Nabi tidak menerima pujian yang berlebihan, yaitu pujian yang tidak berdasarkan fakta. Jika memang pujian itu berdasarkan anugerah yg memang ada dalam Kanjeng Nabi, beliau menerimanya.
Hal ini menjadi pengamalan firman Gusti Allah
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih” (Ali Mron 188)
27. Kanjeng Nabi tidak mau memutuskan pembicaraan seseorang. Namun beliau menyimak dan memperhatikan pembicaraan orang yang berbicara pada beliau hingga selesai. Sehingga tidak salah paham.
28. Kecuali orang yang berbicara itu melanggar batas. Batas di sini adalah batas kebenaran seperti menyinggung kehormatan Gusti Allah dan menyinggung hal sensitif yang bila diteruskan, akan terjadi fitnah.
29. Apabila seseorang berbuat melanggar batas dalam pembicaraan, maka Kanjeng Nabi memotong pembicaraan tersebut dengan melarangnya berbicara lagi atau dengan berdiri dan meninggalkan majelis.
Ini jadi kaidah adab, kalau pembicaraan sudah tegang, melanggar aturan forum dan sudah tidak sehat, kita dibolehkan memotong pembicaraan itu atau meninggalkan majelis.
Sifat ini mengisyaratkan bahwa kebebasan berpendapat itu secara alamiah dibatasi oleh norma orang lain. Maka kebebasan harus punya aturan dan tata caranya agar tercipta kehidupan sosial yg sehat.
Secara global, hadits ini bisa menggambarkan secara eksplisit bagaimana kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya. Namun akhlak mulia Kanjeng Nabi yang dijabarkan dalam hadits ini, belum semua termuat. Masih banyak lagi akhlak mulia beliau dalam hadits lain yang bisa kita ambil pelajaran dan bisa kita teladani.

No responses yet