Imam Ghozali tidak mempermasalahkan ekspresi kecintaan. Karena pada dasarnya, ekspresi itu diijinkan oleh syariat seperti dalam akhir surat Adh Dhuha. Dan yg namanya ekspresi kecintaan itu pastinya berjalan berdasar naluri kecintaan. Semua itu sunnatullah yang tidak bisa kita tahan. Kalau ditahan, kita jadi gelisah.

Seperti dawuh Sayyidina Umar yang mengagumi Sayyidina Kholid bin Walid dengan perkataan “Kholid ini orang yang mematahkan pedang orang musyrik hingga di jaman Kholifah Abu Bakar”

Padahal semua tahu bahwa yang menjadikan berhasilnya agama Islam itu Gusti Allah sendiri. Tapi gak ada ulama yang bilang Sayyidina Umar penyembah makhluk gara2 perkataan tersebut.

Seperti contoh Mawlidun Nabi sebagai momen perayaan dalam rangka mengekspresikan kecintaan pada Kanjeng Nabi. Bukan kok kita menyembah Nabi, melainkan satu bentuk ekspresi kecintaan.

Untuk itu, agar kita mencintai secara proporsional dan tidak melenceng dari aqidah, setiap ekspresi kecintaan harus punya dua unsur :

1. Adanya al ihsan

Ihsan diartikan bahwa ekspresi kecintaan itu harus didasari keyakinan bahwa kita melihat Gusti Allah. Saat pecinta melihat yang dicinta, akan menunjukkan gejala kegembiraan di luar kebiasaan. Atau paling tidak, kita yakin bahwa kita diperhatikan Gusti Allah, sehingga muncul rasa butuh untuk berekspresi untuk menunjukkan kecintaan kita pada-Nya.

Cara paling sederhana agar bisa merasakan ihsan, kita yakin bahwa sumber kebaikan yang bisa dirasakan panca indera dan perasaan lewat sesuatu itu muncul dari Gusti Allah.

Misal kita tahu istri kita ya gitulah, gembrot, gak cantik2 amat. Tapi kok bisa sueneng banget sampai Luna Maya kalah pokoknya. Kalo dipikir secara akal materialis ini gak masuk akal. Ini kalo gak punya pikiran ini semua fadhol dan qudroh dari Gusti Allah, pasti mumet mikirnya.

Otomatis kita mikir, hal yang gak masuk akal ini pasti udah disetting sama Gusti Allah. Akhirnya, kita sadar bahwa ternyata kita gak lepas sedetik pun dari perhatian Gusti Allah.

2. Dalam niat, ekspresi kecintaan itu untuk memancing kesadaran diri bahwa Jalaliyah, Kamaliyah, Jamaliyah, hikmah, ilmu, tashdiq itu hanya milik Gusti Allah.

Kadang kita perlu memuji sesuatu untuk sadar bahwa bagusnya sesuatu itu pasti punya pendahulunya. Misal kita lihat ada anak pinter banget, lalu ingin memujinya. Spontan kita menghubungkan kepintaran anak itu dengan orang tuanya yang memelihara anak itu. Maka kita juga memuji orang tuanya, “Duh, anak siapa sih pinter banget?”

Begitu juga saat kita melihat alam yang bergerak secara harmoni, lalu kita memuji alam. Kalo kita sadar bahwa alam ini punya Pencipta. Otomatis kita juga memuji Sang Pencipta alam tersebut, “Gusti Allah ini memang joss tenan bisa mencipta alam ini!”

Seperti lagu “Pelangi” ciptaan AT Mahmud, itu lagu anak yg tasawuf banget. Pertama kita memuji pelangi yang alangkah indahnya. Trus kita diajak sadar dengan asal usulnya, pelukis (pencipta) pelangi ini sangat Agung, siapa gerangan? Lalu muncul pencerahan, bahwa pelangi itu ciptaan Tuhan.

Nah, di sinilah hakikat pentingnya kita mengekspresikan cinta kita. Sehingga kita terus ta’alluq (terhubung) dengan Sang Pencipta yaitu Gusti Allah.

Dengan ekspresi kecintaan, entah itu memuji atau mengasihi makhluk, hakikatnya kita belajar untuk menghubungkan sesuatu itu dengan asalnya hingga asal usul yang paling puncak. Dengan begitu, sampailah pada kesadaran puncak bahwa semua keindahan itu dari dan milik Gusti Allah.

Kalau sudah mencapai kesadaran puncak itu, logika kita akan selalu berkata “Dengan pemahaman yang jelas dan secerah matahari di siang bolong seperti ini, bagaimana bisa ada orang yang menisbatkan keindahan dan fanatik pada sesuatu selain Gusti Allah? Sangat gak masuk akal!”.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *