Pasal Bagaimana Cara Bicara Kanjeng Nabi Muhammad SAW, hadits riwayat Sayyidina Hasan RA (1)
سألت خالى هند بن أبي هالة وكان وصافا، فقلت صف لى منطق رسول الله ﷺ، قال كان رسول الله ﷺ متواصل الأحزان، دائم الفكرة، ليست له راحة، طويل السكت، لا يتكلم في غير حاجة، يفتتح الكلام ويختمه باسم الله تعالى، ويتكلم بجوامع الكلام، كلامه فصل، لا فضول ولا تقصير..
“Aku (Sayyidina Hasan bin Ali RA) bertanya pada pamanku, Sayyidina Hind bin Abu Halah (1). Beliau seorang ahli dalam meriwayatkan tentang sifat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka aku bertanya: Ceritakan kepadaku cara Kanjeng Nabi Muhammad SAW berbicara, Paman.
Pamanku menjawab : Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah orang yang banyak mengenyam kesusahan (2). Beliau selalu berpikir (3), bahkan hampir tidak sempat beristirahat santai (4). Beliau lebih banyak diam (tidak berbicara) (5), beliau tidak bicara kecuali bila perlu (6). Membuka dan menutup pembicaraannya dengan menyebut asma Gusti Allah (7). Isi pembicaraannya padat dengan makna (8), kata-katanya jelas, tidak bertele-tele dan mudah dipahami (9).”
Penjelasan :
1. Sayyidina Hind bin Halah adalah saudara seibu Siti Fatimah binti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah putra dari Siti Khodijah Kubro RA dari suaminya terdahulu yang bernama Abu Halah. Sayyidina Hind wafat pada waktu Waqi’atul Jamal dan berada di pihak Sayyidina Ali karomallahu wajhah.
2. Mengenyam kesusahan bermakna khouf atau takut pada kedudukan Gusti Allah.
Tanda orang yang diridhoi adalah takut pada Gusti Allah
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
“Gusti Allah ridho terhadap mereka dan merekapun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah tanda bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (Al Bayyinah 8)
Seperti kata syair
على قدر علم المرء يعظم خوفه
فلا عالم إلا من الله خائف
“Sudah sewajarnya ilmu seseorang itu memunculkan ketakutan yang besar. Maka tidak disebut ahli ilmu jika ketakutan itu tidak disebabkan kedudukan Gusti Allah”
3. Kanjeng Nabi SAW lebih banyak memikirkan umatnya. Kanjeng Nabi SAW dikenang sebagai Nabi yang sering susah memikirkan nasib umatnya
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (At Taubah 128)
Walaupun hatinya begitu susah, wajah beliau selalu ceria dan tersenyum sehingga para sahabat pun nyaman bergaul dan hidup dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
4. Hampir tidak sempat istirahat pun jadi kewajaran jika keadaan hati Kanjeng Nabi terus hidup memikirkan agama Gusti Allah dan nasib umatnya seperti itu. Selama 24 jam, beliau terus menjalankan perintah Gusti Allah mulai ibadah, mengajar, berjihad, berdakwah, bersosialisasi, mengurus keluarga, mengatur negara dan lain-lain. Tiap detik langkanya demi tegaknya agama dan umatnya. Sehingga beliau jarang terlihat beristirahat.
5. Karena banyak takut kepada Gusti Allah dan banyak berpikir tentang umatnya, melazimkan Kanjeng Nabi SAW dengan banyak diam
6. Kanjeng Nabi SAW pun hanya berbicara bila dirasa beliau perlu berbicara, baik untuk kepentingan dirinya atau orang lain. Karena banyak bicara adalah satu keburukan dan menandakan kurangnya akal.
Kanjeng Nabi SAW dawuh
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
“Siapa saja yang beriman pada Gusti Allah dan hari kiamat, maka fokuslah pada pembicaraan yang baik atau diamlah”
7. Tiap berbicara, Kanjeng Nabi SAW selalu mengawali dan mengakhiri dengan menyebut nama Gusti Allah sehingga tiap kalam beliau selalu dikelilingi barokahnya asma Gusti Allah. Ismullah di sini adalah diawali basmalah dan diakhiri hamdalah.
Ada pula naskah yg menggunakan shighot (بأشداقه بدل باسم الله) yang bermakna Kanjeng Nabi SAW saat berbicara, membuka dan menutup rahang selebar kalau kita mengucapkan “الله”. Artinya, beliau saat bicara tidak nggremeng namun tidak membuka rahangnya lebar-lebar. Melainkan pertengahan, persis seperti kalo kita ngomong “الله” secara benar.
8. Kanjeng Nabi SAW berbicara dengan kata-kata singkat, namun banyak faidah yang bisa diambil. Istilah dalam ilmu Ma’ani adalah Ijaz. Bukan perkataan ambigu, namun perkataan singkat yang padat dan mengumpulkan semua definisi makna yang dimaksud. Kalimat global yang menghimpun semua kalimat rinci.
Tidak heran, para sahabat sendiri kadang berbeda pendapat dalam memaknai satu dawuh Kanjeng Nabi. Namun semua pendapat yang beda tersebut dibenarkan oleh Kanjeng Nabi SAW.
9. Kanjeng Nabi SAW bila berbicara dengan perkataan yang jelas. Jelas di sini bisa dimaknai bisa memisahkan antara yang haq dan yang batil. Bisa juga dimaknai kata perkata yang meluncur terpisah-pisah secara jelas dan intonasinya jelas, sehingga bisa ditangkap isi pembicaraannya oleh pendengarnya dengan jelas.
Kanjeng Nabi SAW berbicara tidak bertele-tele dan tidak terlalu singkat, bermakna tidak berlebihan, tidak kurang dan tidak lebih. Sehingga tidak ambigu.
Karena padat, jelas dan tidak bertele-tele, maka perkataan Kanjeng Nabi SAW mudah ditangkap, mudah dipahami dan mudah dihafal oleh pendengarnya.

No responses yet