Politik Eksklusif hanya bisa tegak dengan tangan besi, ia tak bisa hidup dengan cara musyawarah atau mufakat —
*^^^^*
Eklusifisme tak bisa tumbuh di tanah demokrasi. Eksklusifisme melahirkan tiran. Kecil tapi beringas. Joe Biden salah satu yang paham itu. Sebab itu ia begitu akomodatif dan menerima perbedaan meski melawan keyakinan dan imannya— tak tau seberapa kuat ia bisa bertahan menahan gempuran dari dalam yang mengibarkan ekslusifitas sebagai satu-satunya jalan. Inklusifitas telah membawanya menjadi orang nomor satu di negeri paman sam itu. Meski politik ekslusif Trump begitu kuat menahan, akhirnja bobol juga.
Mandela juga demikian, ia bangun Afrika Selatan dengan pemaafan dan lapang hati, terhadap siapapun yang pernah menyakiti, bukan marawat dendam atau permusuhan. Politik mencari lawan sudah bukan lagi saatnya. Apalagi terus menebar kebencian, permusuhan atas nama agama atau ideologi sektarian.
Para foundhing father kita juga telah mengisyaratkan itu— Bhineka Tunggal Ika adalah simbol inklusifitas, sebab memang negara kita kaya perbedaan. Jadi politik macam apa yang antum tawarkan. Bukankah ideologi Islam bisa dicacah dalam banyak varian. Masing-masing varian punya turunan. Setiap turunan saling musuhan. Jadi apa yang diperjuangkan ?
*^^^*
Jangan-jangan kita sedang tidak melawan musuh tapi melawan teman sendiri yang akan melawan musuh. Tapi keburu mati sebelum ketemu musuh. Sebab yang kita pertengkarkan hanyalah ‘cara melawan’ musuh. Cara bikin partai atau ideologi yang tersungkur karena konflik yang tidak berkesudahan.
Allamah Muhammad Iqbal dan Sir Muhammad Ali Jinah bapak negara Pakistan telah banyak mengingatkan agar perjuangan Islam tak hanya berhenti pada cara— atau seperti yang pernah dinyatakan Prof Din Syamsudin bahwa politik Islam hanya riuh di permainan tapi miskin eksekutor. Indah hanya di permainan tapi miskin goal. Mungkin benar kata pemain dan pelatih Jerman legendaris Frans Backenbaur :’tak perlu bermain cantik yang penting bisa cetak goal dan menang’. Pilihan sulit ditengah konflik akut.
Jadi pilih yang mana ? Bermain cantik tapi kalahan atau yang penting menang dengan beragam cara — Abu Musa Al Asy’ary dan Amru bin Ash adalah contoh baik, bagaimana memenangi sebuah pertempuran di meja runding, hanya berbekal akal cerdik, tak perlu menilai siapa diantara keduanya mana yang baik dan mana yang culas. Ini politik akal cerdik, bukan akal sehat tapi kalah. Syaikh Afghan penganjur Pan Islamisme mungkin saja benar: ‘ pegang apinya jangan abunya’
*^^^*
Sampai disini kita akan berpolemik lama dan tidak pernah slesai, sementara musuh Islam sudah menguasai semua lini. Politik Islam memang butuh banyak perangkat dan kompleks — bahkan perang ayat suci sesama politisi untuk pembenar pun tak bisa dihindari —-

No responses yet