1. Saat merasakan sakit dan kesusahan, tidak ditampakkan ke permukaan. Dia munculkan ridho lewat jalur akal dan imannya. Dia paham apa hakikat di balik cobaan itu.

Seperti orang sakit yang ridho minum obat, sepahit apapun itu. Karena tahu obat itu menyembuhkan. Seperti juga orang rantau yang ridho berkelana ke daerah yg jauh dari rumah. Karena dia paham, ada peluang bagi dia di daerah itu.

Ridho jenis ini biasanya bisa diterapkan pada orang awam, asal dia berakal dan berilmu, setidaknya paham ilmu dasar aqidah. Dengan modal itu, bisa muncul ridho pada takdir Gusti Allah.

Dengan modal akal, kita coba berpikir bahwa semua manusia hakikatnya tidak pernah minta untuk dilahirkan, tidak bisa menentukan dilahirkan dalam keadaan normal atau cacat, tidak bisa mendikte mau dilahirkan di tengah orang kaya atau miskin, muslim atau non muslim. Bahkan kita tidak bisa menentukan kita dilahirkan jadi bangsa manusia, jin atau hewan. Semua itu kehendak Gusti Allah secara mutlak.

Dari situ terlihat bahwa manusia sebenarnya tidak ada daya. Semua makhluk hanya mengikuti takdir yang merupakan kehendak Gusti Allah. Jadi sangat jelas secara akal, kalo saat lahir kita mengikuti kehendak Gusti Allah, kenapa juga hidup gak mengikuti kehendak Gusti Allah?

Gusti Allah menghendaki kita menyembah-Nya, ikuti Kanjeng Nabi, ditentukan pula rizqi kita, jodoh kita, nasib kita, sepahit apapun itu, ya itu ketentuan tetap yang akan terus mengikuti kita sampai mati. Kita gak terima semua itupun, gak akan bisa merubahnya. Kalo kita sadari itu secara akal, mau menerima dan melakukannya, kita bisa hidup tenang dan penuh ridho, selayaknya dulu kita hidup tenang di dalam rahim ibu.

Kita juga pahami bahwa tidak setiap manusia lahir dengan normal dan baik-baik saja. Ada yg terlahir punya kelainan, baik fisik maupun psikis. Semua itu bagian dari takdir juga. Tapi kehendak Gusti Allah tersebut tetap berlaku, entah bagaimanapun keadaannya. Maka jalan untuk terpenuhinya takdir Gusti Allah ini, tiap manusia berbeda-beda akan sesuai keadaan manusia itu. Maka jihadnya pun berbeda-beda. Ini semisal orang satu rumah sakit yang punya penyakit berbeda, obatnya pun berbeda tapi tujuannya sama, kesembuhan.

Jadi orang yg terlahir hermaprodit, difabilitas dll, selama dia berakal, tetap wajib bagi mereka melakukan syariat dan sunnatullah, sesulit apapun itu dan semaksimal keadaan mereka, dengan cara yg ditentukan syariat bagi orang yg demikian itu. Dan Gusti Allah pun berjanji meridhoi orang yang selalu bersusah payah mengikuti kehendak-Nya semaksimal yang bisa mereka lakukan. Itulah pahala terbesar bagi orang yg ridho dengan kehendak-Nya.

Diceritakan, satu hari Imam Fath Al Mawshili, seorang wali dan periwayat hadits, saat berjalan, dia tersandung batu hingga kuku kakinya pecah dan berdarah. Langsung dia cabut potongan kukunya yang pecah agar tidak mengganggu perjalanan, lalu Imam Fath Al Mawshili tertawa.

Beliau ditanya oleh teman seperjalanannya yg keheranan, “Apa luka nyerinya itu tidak membuat anda kesakitan? Kok anda malah tertawa?”

Imam Fath Al Mawshili menjawab, “Pahala besar karena menerima takdir terlukanya kakiku ini, lebih aku senangi melebihi rasa sakitnya,”

Maka dari itulah, dawuh Imam Ghozali, siapa saja yang yakin bahwa pahala kesusahan dan kesulitan dari apa yang menyusahkannya itu sangatlah agung, maka dijamin tidak akan jauh dari ridho Gusti Allah.

Bersambung..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *