Di antara kita kadang ada yg membela mati-matian atas dasar saudara seagama dg dalih cinta. Biasanya memanfaatkan ayat: “muslim itu keras pada non-muslim dan lemah-lembut pada sesama muslim”. Persoalannya menjadi bias dan tak proporsional. Gus Mus pernah ngendikan dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial: cinta itu erat kaitannya dg nafsu. Wajar saja bila ekspresi cinta kadang malah menabrak aturan main yg semestinya.
Dalam menentukan sikap kasus di atas, menarik untuk melihat dawuh Imam Ghazali ini: “bila kau berkata: dia Islam, keislamannya adalah suatu ketaatan, mana mungkin aku membencinya”? aku (al-Ghazali) jawab: kau dapat cinta dg keislamannya dan membenci -perilaku- buruknya”. Persoalan ini juga dapat kita samakan dg non muslim: kita tak sepakat dg keyakinannya, tapi kita dapat mencintai lelaku baiknya.
Al-Ghazali melanjutkan: “pada orang yg sepakat dg satu tujuanmu, tapi tidak sepakat dalam tujuan yg lain, kau harus mengambil sikat moderat (tawassuth). Jgn berlebihan dalam menghormati orang yg selalu setuju dengan maksud dan tujuanmu, jangan pula berlebihan dalam ‘meremehkan’ orang yg tak pernah sepakat denganmu. Sebab, kecenderungan orang akan berlebihan dalam ‘meremehkan’ manakala sikap menentang lebih dominan. Sebaliknya, orang akan cenderung berlebihan dalam menghormati dan bersikap baik bila sikap setuju yg mendominasi. Demikian pula seyogianya kita menyikapi orang yg dalam satu sisi ia taat dan mencari ridha-Nya, tetapi dalam sisi yg lain ia melakukan keburukan dan memancing murka Tuhan”.
Foto: Ihyā Ulūm al-Dīn, ädäb al-ulfah wal ukhwah

No responses yet