Kata Nabi, semua riwayat mengatakan al haqqu itu sahlun, kebenaran itu nyaman, bawaan kebenaran itu nyaman, ditanyakan siapapun akan diakui. Tapi kalau nggak bener itu berbelit-belit. Kalau barang haq itu pasti gampang.
Tapi masalahnya selalu ada orang yang pinter berargumentasi. Karena itu lalu ada aturan:
البَيِّنَةَ على المُدَّعِى
Yang mengklaim itu harus lebih punya bukti.
***
Lihat tiap ada fenomena sosial, fatwa pasti berseliweran. Karena semua punya naluri/semangat berfatwa, tapi ilmunya pas-pasan. Semangatnya jos, ilmunya pas-pasan. Tiap hari saya pun disowani, bertanya fatwa. Saya tanyai: njenengan benar bertanya, atau sedang mencocokkan dengan kemauan?
“Aslinya mencocokkan, Gus. Karena saya kemarin sudah telanjur fatwa.”
Semua senang sekali kalau diminta berfatwa. Plang-pleng. Lihat zaman di pondok, senangnya menvonis-vonis: ini wajib, ini haram, ini sunnah. Tidak boleh hidup seperti itu, menurut saya itu kriminal. Faktornya hanya bi ghairi ‘ilmin: dia tidak sadar bahwa dalam tubuh manusia itu ada potensi khayali.
Hikam mencontohkan khayali itu: Jika orang dalam kondisi tertentu, mengalami ketertekanan tertentu, ada potensi khayali. ibarat suara angin yang masuk jendela, dikira suara macan, sehingga dia ketakutan.
(catatan: Kutipan Hikam Gus Baha’ dari syarh:
ماحجبك عن الله وجود موجود معه ولٰـكن حجبك عنه توهّم موجود معه
Agama jangan sampai seperti itu.
Agama Itu punya sisi kelemahan
Maksudnya begini. Ketika Rasulullah bercerita tentang betapa terhormatnya damusy syuhada ( دم الشهداء ) , betapa terhormatnya damusy syuhada’, itu kan Rasulullah dulu memang perang melawan orang kafir. Perangnya pun berhadap-hadapan, wajar kalau damusy syuhada’ sangat terhormat, karena betul-betul perang li i’lai kalimatillah.
Lha kita ini ingin damusy syuhada’ dengan versi kita sendiri. Misalnya sebelumnya sudah setengah putus asa, lalu memakai bom bunuh diri. Di Pakistan, Irak, dsb.
Tingkat compang-campingnya negara, banyak yang menjadikan orang putus asa. Semakin banyak yang putus asa, semakin banyak yang menghalalkan bom bunuh diri.
Tapi mereka tetap berfantasi itu termasuk damusy syuhada’. Ya kita tidak memvonis iya atau tidak. Kita tidak memvonis itu. Tapi betapa asal-usul motivasinya itu tidak selalu seperti jihad zaman Rasulullah, karena kondisinya sangat berbeda.
Ya seperti kalian inilah, sudah tidak punya uang seperti ini, jadi pasukan berani matinya Gus Dur kan ya berani? Hidup sudah tidak bahagia, ada perekrutan pasukan, kan senang.
Atau contoh lain: kyai NU mana saja, orang yang nganggur-nganggur itu, jadi tim pilkada yang mana saja pasti semangat. Karena santri, seolah ada nuansa jihad, padahal semangat motivasinya: daripada nganggur di rumah. Karena santri, berkhilah jihad. Sebenarnya haqiqatnya baisnya ya daripada nganggur.
Ya misalnya saya sendirilah. Misalnya pekerjaan punya, uang punya, pengaruh juga punya. ya pasti biasa-biasa sajalah. Misalnya memilih di pilkada ya karena memang harus memilih, secara syariat harus memilih, tapi ya biasa-biasa saja.
Saya sering didatangi: Gus, ndherek yang mana?
Saya biasa saja. Maksudnya ndherek itu bagaimana?
“Maksud kula njenengan kersa apa nggak?”
Kula nggak kersa.
Karena itu menganggur itu penting. Calon kepala daerah menghadapi orang tidak menganggur itu juga pusing: menyuapnya dari mana.
Ya, sama saja seperti jamaah-jamaah itu. Hakekatnya karena nganggur atau jihad? Alasannya itu tadi: punya fantasi agama, bahwa kumpul2 dzikrullah itu pasti baik. Itu fantasi saja. Sebetulnya untuk menjadi baik itu banyak sarana dan elemen untuk menjadi baik.
Abu Dzar kurang bagus bagaimana, beliau sudah ingat Allah lama, dibarengkan pada saat shalat. Tapi oleh Rasulullah ditegur: ingat Allah terlalu asyik pada kondisi tertentu itu kadang punya efek yang tidak baik: penggembala2 unta yang waktunya mengandangkan unta mereka tidak bisa melakukannya shalat asar yang diimaminya tidak selesai-selesai.
Maka sampai Rasulullah secara resmi ngendikan:
إذا أمَّ أحدكم الناسَ فليخفف
فإن فيهم الضعيف وذا الحاجة
Kau kalau mengimami jangan lama-lama, karena di antara makmummu ada orang yang sudah renta, dan banyak yang punya kepentingan.
Berarti kita sebagai organisator yang baik, membuat undangan ke jamaah juga harus diukur: mis. kalau hari Senin rawan jam kerja, kalau begitu hari libur atau Ahad. Harus dihitung, sedangkan shalat saja oleh Rasulullah dihitung, sejauh mana tidak berefek buruk pada makmum. Kalau shalat sendiri: fal yuthawwil masa’a, terserah mau sebentar atau lama. Artinya ketika terkait dengan orang lain, efek pada orang lain kita pikirkan. Kita punya organisasi, punya lembaga, tentu punya versi pengelolaan umat. Paham ya.
***
Dari cerita-cerita saya tadi, supaya supaya jamaah di sini, siapa saja yang mengaji sama saya, agama itu punya satu sisi kelemahan. Kelemahan agama adalah karena pemeluknya terus punya versinya masing-masing.
Seperti tadi: darah orang mati syahid.
Itu telah begitu banyak melahirkan aliran kekerasan, kemudian punya versinya masing-masing. Versi paling esktrem adalah yang kemudian menghalalkan bom bunuh diri, atau tidak bom bunuh diri tapi menghalalkan darah orang lain, hanya karena beda aliran, beda paham.
Ya itu tadi: dia punya fantasi sendiri. Misalnya membaca hadits tentang jihad, lalu fantasinya: wah kalau begitu saya mati syahid saja.
Dia tidak sadar bahwa tidak semua motivasinya itu baik. Ya kita harus evaluasi, kalau memang Belanda menyerang Indonesia, ya kita otomatis harus jihad, dan itu mujma’ ‘alaih, zaman Mbah Hasyim ‘Asyari pun bikin resolusi jihad, mewajibkan santri jihad zaman mengusir Belanda. Kalau itu kan jelas, mirip-mirip zaman Rasulullah. Semua itu kan muqtadlal hal (مقتضى الحال), sesuai konteksnya.
Kewajiban jihad
Saya pernah membaca di beberapa kitab, kewajiban jihad itu penting. Seandainya dulu tidak diwajibkan jihad, ketika kita dijajah Belanda dan Jepang, kita juga bingung andaikan Islam tidak punya ajaran jihad. Tapi ketika hukum itu berdasarkan muqtadlal hal, maka hukum itu menjadi gugur ketika muqtadlal halnya tidak ada.
Jadi tanggapi saja secara ilmiah. Kita juga kebingungan lho ketika dijajah, andai tidak ada bab jihad di fiqh. Ketika dijajah Belanda, dijajah Jepang, terus ajarannya hanya kasih sayang: “Mari, diambil saja.” Waktu Belanda menjajah, dipersilahkan saja untuk diambil, seperti ajaran orangtua kita mengalah.
Tapi barokahnya ada ajaran jihad, kita bisa melawan Belanda dan merasa jihad fi sabilillah. Tapi di mana-mana ya jihad itu ada konteksnya. Lalu mengapa Rasulullah dulu tegas? Ya karena memang konteksnya harus tegas. Rasulullah jelas benarnya, musuhnya jelas kelirunya. Di zaman akhir tidak semudah itu.
Tapi kalau jihad sekarang dalam kondisi tertib, normal, kan susah. Nggak ada ulama yang antijihad. Kita pasti jihad. Nyatanya pada zaman ada Jepang, ada agresi Belanda, semua ulama juga fatwa bahwa santri harus ikut angkat senjata.
Selama ini Islam garis keras kan menuduh NU, kyai-kyai itu nggak berani jihad. Kata siapa? Dalam sejarah, kita ini sering melakukan jihad. Tapi kan yang benar-benar kondisinya furqan: mana yang haq mana yang bathil.
Tapi kalau kondisi sekarang, kalau sampai berdarah-darah, itu kan …. Ya nanti dulu. Bukan karena kita takut. Nggak. Tapi jangan-jangan fantasi damusy syuhada’ itu lebih memotivasi kita daripada perhitungan strategi.
Ini jawaban bangsa indonesia, seluruh dunia, bukan jawaban saya
Ini tidak usah jadi jawaban yang perlu dibentur-benturkan, biasa saja, normal saja. (Semua ada konteksnya) Misalnya saya dengan Mas Imam ini karena dia tamu, ya saya hormati, tapi kalau mengganggu waktu saya, ya tidak saya hormati lagi. Ya sudah normal saja.
Karena itu dilatihlah, menghadapi fenomena apa saja, hadapi secara normal saja, karena agama ini menyediakan semuanya. Jadi intinya itu saya mohon, semohon-mohonnya, agama ini datang dengan nggak suka namam, tidak suka mengadu untuk membentur-benturkan, jadi yang tukang membentur-benturkan ya harus tobat, itu ancamannya berat. Termasuk membentur-benturkan itu ya menyampaikan perkataan ini untuk membenturkan dengan ini.
Sudahlah, kamu membayangkan bertemu Allah berani tanggung jawab apa tidak? Maksud saya kita semua. Sehingga jangan pula yang suka islam rahmatan lil ‘alamin lalu tidak membicarakan bab jihad. Ya jangan juga. Dulu kita tidak bisa membayangkan ketika ada penjajah, andaikan orang Islam tidak dibekali bab kewajiban jihad. Tapi semua itu ya ada muqtadlal halnya, ada konteksnya.
Ini normal saja. Yang sampaikan ini hukum normal. Jadi kalau ada yang menentang saya, artinya menentang semua kitab yang ada di fiqh itu memang. jawabannya memang seeperti itu. Ya sudah. Kita ingin رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ, ingin saling mencintai, saling melengkapi, saling menghormati, dan semua kita doakan:
الَّلهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ
dan seterusnya
Dan selalu guru-guru kita, Mbah Moen, bapak saya, setiap bertemu orang, bertemu kelompok tertentu, selalu doanya:
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا
supaya kita itu baik-baik saja, karena menyatukan hati itu memang tidak mudah. Rasulullah yang kekasih Allah saja didhawuhi Allah:
Aku sendiri (hai Muhammad) yang menyatukan hati ‘Aus dan Khazraj.
لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مَّآ أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
Jadi kalau ingin Indonesia damai, semua wali maupun nggak wali, apalagi yang menjabat, harus berdoa. Yang bisa mendamaikan itu hanya kersane Allah. Kita nggak bisa. (Di situ kita ingat) di antara sifat Nabi di beberapa kitab terdahulu adalah mengumpulkan api dan salju. Ketika Ka’abul Ahbar dan banyak peneliti Taurat mengetahui Nabi punya shahabat Abu Bakar, yang dingin sekali, dan punya shahabat Umar, itulah yang dimaksud. Mengelola hati orang itu tidak mudah.
Jadi kita harus sering berdoalah:
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا
Dan kita disatukan oleh indonesia. Semua anak bangsa harus kita hormati. Kita harus ingin Indonesia ini baik, lebih baik, karena PR kita ini banyak sekali, jangan dihabiskan untuk hal-hal yang (malah memisahkan). Ini bukan jawaban saya kok, ini jawaban nurani seluruh bangsa Indonesia, seluruh bangsa dunia. Ini normal, (pertanyaanmu tentang ajakan jihad) tidak perlu dijawab, itu sudah normatif, normal sekali.
Sumber: https://www.facebook.com/groups/386305265399880/
* Transkrip ini dirangkum dari ceramah Gus Baha dalam video. Live! https://youtu.be/T1LG2i1OU2k

No responses yet