Oleh: Riyandika Hasiana, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta
Manuksrip ini dapat ditemukan di situs portal manuksrip digital baik dalam maupun luar negeri. Di luar negeri, naskah ini disimpan di situs proyek SOAS Digital Collection. Situs rintisan University of London itu menyimpan hikayat ini dengan kode MS37082.1. Sayangnya, naskah yang berjumlah 37 lembar ini mempunyai urutan halaman yang tidak lengkap. Untuk melihat kondisi lebih lanjut, bisa klik tautan berikut: https://digital.soas.ac.uk/AA00000127/00001/
Di dalam negeri, bisa ditemukan naskah kuno versi digital di situs Khastara milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan kode 380330. Naskah yang bisa dijumpai juga secara fisik di Perpusnas ini berjumlah 15 lembar. Di versi ini, kondisi isi naskah terbilang lengkap. Naskah ini bisa dilihat dan diunduh melalui tautan berikut: https://khastara.perpusnas.go.id/landing/detail/380330
Kedua naskah digital tersebut ditulis dengan aksara Jawi dan berbahasa Melayu, serta memiliki sampul depan dan belakang. Keunikan lainnya ialah warna tinta yang digunakan adalah merah dan hitam. Perbedaan yang mencolok ialah: Naskah digital versi SOAS memiliki halaman terakhir yang diduga merupakan tanggal pembuatan naskah. Sementara itu, naskah digital versi Khastara menggunakan bahasa latin di dalam halaman perancisnya.


Perjumpaan Nabi Isa dengan Tengkorak di Syam
Hikayat Raja Jumjumah mengawali kisah Nabi Muhammad Saw. yang bercerita perjalanan nabi Isa a.s di padang pasir di Syam. Sepanjang jalan, Nabi menemukan sebuah tengkorak kering tergeletak. Nabi berdoa kepada Allah Swt. untuk diperkenankan berbicara kepada tengkorak itu.
Dengan kekuasaan dan takdir dari Allah Swt. kepada hambanya, tengkorak itu bisa menyapa Nabi Isa a.s. Nabi meminta tengkorak ini mengisahkan semasa hidupnya di dunia.Ternyata, tengkorak kering ini adalah seorang raja yang mahsyur dengan wilayah kekuasaan yang luas. Selain berwajah rupawan dan bergelimang harta, ia juga memiliki hamba sahaya, menteri, hingga pasukan kuat yang berjumlah tidak terbatas.
Nabi Isa pun menanyai bagaimana amalan tengkorak itu semasa hidup. Tengkorak yang bernama Raja Jumjumah itu berkuasa selama 400 tahun. Raja ini mengakui telah bersedekah jutaan dirham dan dinar kepada fakir miskin, memberi ribuan helai kain bagus kepada ulama, hingga memperbaiki semua masjid. Sayangnya ia tidak berniat menjalankan itu semua untuk beribadah kepada Allah Swt. dan tidak menjauhi larangan-Nya. Kesombongannya itu membuat ia lupa diri bahwa seluruh harta benda di dunia hanya titipan semata dari Allah Swt.
Azab dari Allah untuk Raja Jumjumah
Suatu hari Raja Jumjumah mandi di Sungai Al-Ham. Ketika duduk di tepi sungai, ia mengalami demam yang tinggi. Segala tabib didatangkan dari berbagai penjuru. Namun, tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan penyakit itu. Lima hari kemudian, Raja Jumjumah mengalami sakaratul maut.
Selama proses pencabutan nyawa, ia didatangi malaikat maut bersama tiga puluh malaikat lain. Akibat tidak menghindari larangan-Nya (seperti memakai pakaian dari emas dan permata), dadanya ditikam dengan senjata, lalu dicucuri oleh tembaga cair, dan leher dibelenggui oleh rantai.
Ia menawarkan segala harta untuk melepas jeratan itu, sayangnya para malaikat menambahkan siksaan. Betapa sakitnya ketika nyawa sudah bercerai dari badannya, seperti: ditikam dengan senjata, kambing hidup dikuliti, badan dibalut dengan kain tipis yang dibasahi lalu ditarik ke atas duri.
Setelah dikuburkan, Raja Jumjumah bercerita kehebatan malaikat Munkar dan Nakir jika pertanyaannya tidak dijawab dengan benar. Ia mengakui bahwa berbohong saat menjawab perbuatan baik dan jahat semasa di dunia. Alhasil ia dicambuk dengan cemeti, dijepit oleh tanah bumi, dan dimasukkan ke dalam perut bumi yang berbau busuk.
Perjalanan ke Neraka
Ia dibawa oleh dua orang yang berkulit hitam dan berkepala besar, lalu diserahkan kepada Malaikat Zabaniyah di depan pintu neraka. Selama di neraka, ia mengalami berbagai siksaan, yaitu leher dirantai oleh api neraka, dipakaikan baju kulit dari api, perut dililitkan tali api, digantung sungsang, dipakaikan cerpu api, sampai disuruh minum tembaga dan timah cair yang panas.
Raja ini kemudian dibawa oleh Malaikat Zabaniyah ke bukit api neraka. Tempat yang dipenuhi batu, pohon, hingga binatang yang berasal dari api itu merupakan puncak dari siksaan. Ia juga diperlihatkan bagaimana siksaan yang ditimpakan kepada orang-orang yang tidak mandi junub saat memasuki masjid, menyukai istri orang lain, menggugurkan kandungan, serta orang yang tidak pernah mengambil wudhu.
Insyaf dan Hidup Kembali
Setelah melalui berbagai siksaan, Allah Swt. memerintahkan untuk melepaskan Raja Jumjumah dari siksa neraka. Hal itu disebabkan segala dosanya telah diampuni. Mendengar hal itu, Nabi Isa a.s menganjurkan segala apa yang dialami diceritakan kepada orang lain supaya yang mendengarkan insyaf.
Raja Jumjumah memohon kepada Nabi Isa agar bisa menghidupkan kembali dirinya. Nabi Isa dengan mukjizat yang diberikan oleh Allah Swt. mengabulkan permintaan itu, dengan cara: mengambil segenggam tanah, lalu diusapkan ke tengkorak raja itu. Kemudian, Nabi Isa mengambil wudhu, sembahyang, dan berdoa. Raja Jumjumah hidup kembali dan mengucapkan syahadat.
Tak berselang lama, Raja Jumjumah menceritakan kisah yang dilihatnya kepada khalayak ramai. Orang-orang yang menyimak tunduk dan menangis akibat takut akan siksaan api neraka. Nabi Isa a.s mengajurkan kepada semua orang yang mendengarkan kisah Raja Jumjumah untuk mencamkan baik-baik untuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt.
Refleksi Hidup yang tertuang di Hikayat Raja Jumjumah
Berdasarkan kisah yang terkandung di dalam Hikayat ini, mengingatkan kepada firman Allah Swt. yang berbunyi:
“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali (mu)” (QS: Al-‘Alaq: 6-8)
Dalam ayat di atas, Allah Swt. memperingati manusia yang sombong dan bangga atas harta benda yang berlimpah, sehingga seringkali lupa diri untuk beribadah kepada-Nya. Merasa dirinya serba cukup seperti yang diperbuat oleh Raja Jumjumah. Ia terjerumus dalam fana dunia dan bersikap angkuh seakan-akan dunia miliknya. Tapi sebenarnya, segala dunia termasuk harta benda hanyalah milik Allah swt. semata.
Semoga kita terhindar dari azab pedih seperti yang dialami oleh Raja Jumjumah.
Referensi
Harahap, Nurhayati. Hikayat Raja Jumjumah: Suatu Kajian Filologis. Jakarta: Perpusnas Press, 2019.
Penulis: Riyandika Hasiana (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta)

No responses yet