Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan” (Al-‘An`ām: 129)

Ketika Al-Hafidz As-Suyuthi menafsirkan ayat ini, beliau mencantumkan hadis berikut:

” ﻛﻤﺎ ﺗﻜﻮﻧﻮا ﻛﺬﻟﻚ ﻳﺆﻣﺮ ﻋﻠﻴﻜﻢ ” 

“Sebagaimana keadaan kalian, seperti itulah pemimpin kalian” (HR Al-Baihaqi)

Demikian pula penafsiran ulama Salaf, A’masy:

ﺇﺫا ﻓﺴﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﻣﺮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺷﺮاﺭﻫﻢ

“Jika keadaan manusia sudah rusak maka yang jadi pemimpin adalah orang yang buruk” (Tafsir Ad-Dur Al-Mantsur)

Kalau kita mengutuk sana sini dengan menuduh para pemimpin di semua tingkatan adalah jelek, ya karena kita semuanya memang demikian keadaannya. Oleh karenanya dahulu para Sahabat terdiri dari orang-orang mulia maka yang terpilih menjadi pemimpin seperti Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar, Sayidina Utsman dan Sayidina Ali.

Sebab Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah berhasil mendidik pribadi-pribadi yang luar biasa. Mendidik umat inilah yang terus dilanjutkan perannya oleh ormas-ormas Islam seperti NU, Muhamadiyah, Al-Khairat, Nahdlatul Wathan, Perti dan sebagainya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *