Oleh : Imron Rosyadi Hamid (Rois Syuriah PCINU Tiongkok)
KH. Abdurrahman Wahid tidak sekedar tokoh hebat, tapi juga menjadi bagian dari ‘perjalanan spiritual’ saya sebagai seorang santri untuk belajar tentang kehidupan, tentang kesederhanaan, tentang kegigihan mempertahankan sebuah nilai dan semangat menjaga keberagaman. Sebagai salah seorang yang “pernah dekat” secara fisik dengan Gus Dur, saya kagum dengan kemampuan komunikasi beliau yang par excellent tidak hanya dengan Kyai2 sepuh dan kalangan pesantren, masyarakat biasa, kalangan NGO dan profesional, tetapi juga kemampuan berkomunikasi secara bernas, runut dan gamblang dengan media massa. Saya ingin memulai cerita dari “Ngingas”, tempat dimana saya sering bertemu Gus Dur waktu itu ketika beliau masih menjabat Ketua Umum PBNU di rumah H. Masnuh Sidoarjo yang kebetulan kedua putrinya pernah nyantri di Singosari. Di rumah H. Masnuh itulah dulu Gus Dur selalu transit jika ada acara di Jawa Timur dan biasanya banyak wartawan yang “mengejar” Gus Dur ke sana. Di Ngingas pula saya dulu bisa menyaksikan secara langsung bagaimana Gus Dur hafal banyak sekali nomer telpon dan disana pula saya bisa bertemu H. Ghafar Rahman sekjen PBNU yang kala itu heboh dengan isu bantuan dana SDSB di era Presiden Suharto, sering bertemu Pamanda dari istri, Almaghfurlah KH. Amanullah Abdurrahim Tambakberas (ayahanda Gus Wafiyul Ahdi ), Gus Nu’man Pati (Allahumma yarhamhu) yang selalu hadir bersama Gus Dzul Hilmi (Imam Masjid Ampel, putra KH. Ghozali Sukorejo), Cak Anam (Ketua Ansor Jawa Timur), bahkan sesekali bertemu KH. Sa’id Aqil Siradj dan Gus Ipul yang waktu itu masih menjadi wartawan Tabloid Detik Jakarta ketika “nderekke” Gus Dur ke Jawa Timur.
Di tempat itu pula saya belajar tentang kesederhanaan seorang pemimpin: pernah sarapan nasi bungkus sego jagung bersama Gus Dur yang dibelikan H. Masnuh, meskipun untuk bisa bertemu Gus Dur di Sidoarjo saya harus berboncengan sepeda motor dari Singosari bersama Cak Ghofur Amin (Adik KH. Buchori Amin) dini hari. Di tempat itu pula saya pernah membawa teman yang berhasil membuat sebuah alat penghemat bbm untuk mesin kendaraan yang ingin mempresentasikan temuannya ke Gus Dur sebelum beliau pergi ke Israel. Dalam kesempatan lain, bertepatan dengan hari dimana Prof. Dr. Billy Judhono direshuffle sebagai menteri oleh Presiden Soeharto, ada wartawan bertanya ke Gus Dur tentang peristiwa politik tersebut, jawab beliau, biarkan saja, sebentar lagi Pak Harto juga selesai.
Di luar Ngingas, saya pernah beberapa kali ikut rombongan mobil Gus Dur jika ingin bersilaturahmi ‘dadakan’ ke KH. Abdullah Faqih, (Langitan) atau yang lain serta tentu saja, pernah bertemu di Kantor PBNU Kramat Raya yang waktu itu masih tergolong sederhana.
Sekuel sejarah yang terpotong justru ketika Gus Dur menjadi Presiden RI ke 4, saya hampir tidak pernah bertemu secara fisik kecuali saat Muktamar NU ke 30 di Lirboyo Kediri, tetapi saya selalu mengikuti perkembangan kehidupan formal beliau sebagai kepala negara melalui media massa.
Kesempatan bertemu kembali secara fisik dengan Gus Dur justru ketika sudah tidak menjabat Presiden, beberapa kali Gus Dur ke rumah kami di Singosari atau bertemu di Gedung PBNU lantai 1 bahkan di acara2 keluarga istri di Jombang.
Di luar itu semua, ada pengalaman yang sangat membekas dalam kehidupan saya ketika menyaksikan kegigihan Gus Dur dalam berjuang untuk mempertahankan nilai kebenaran dan mengembalikan apa yang tengah “dirampas” secara sistematis justru oleh orang2 yang pernah dibesarkannya. Kegigihan perjuangan seorang pemimpin yang tak pernah mengenal lelah, meski di tahun-tahun itu beliau harus sering keluar masuk RSCM akibat sakit yang dideritanya.
Pada suatu sore di depan kamar paviliun RSCM tempat Gus Dur di rawat, saya dikenalkan dengan dr. Hamid Bangkalan, Pamanda dari Gus Dhohir Farisi, saya bilang ke beliau agar pernikahan Mbak Yenny Wahid dipercepat saja mengingat kondisi kesehatan Gus Dur yang semakin hari semakin sering di RS, walaupun saya yakin pihak keluarga pasti sudah punya hitung2an sendiri mengenai waktu yang baik untuk melaksanakan pernikahan Mbak Yenny Wahid.
Waktu terus berjalan, pernikahan dan hari bahagia itupun berlangsung, saya ikut senang bisa menyaksikan Gus Dur menikahkan salah satu putri kesayangan yang boleh jadi akan meneruskan perjuangan politiknya. Gus Dur telah meninggalkan kita semua, kullu man alaiha faan, wa yabqa wajhurobbika dzu al jalalli wa al ikraam, tetapi beliau pergi menghadap Penciptanya dengan tidak membiarkan kita mudah menyerah karena masih ada banyak persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang perlu kita perjuangkan tanpa kenal lelah.
Tiongkok, 10 Desember 2018
Gambar: Saya sowan Gus Dur saat menjadi Ketum PBNU ketika era Orde Baru. Kantor PBNU masih sederhana dan tidak bertingkat

No responses yet