Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Usai menerbitkan Cinta Itu Bangsat beberapa bulan lalu, aku merasa bahagia. Di sana, telah kuabadikan hubunganku dengan Gus Dur, yang bermula dari kebencian padanya, lalu berubah menjadi cinta, dan berujung kepada kangen. Akan kupelihara kangen itu, agar aku bisa membayangkan dirinya seperti yang kumau.

Misalnya..

Aku membayangkan, di alam kuburnya, Gus Dur sedang khusyuk membaca. Di hadapannya ada tumpukan buku, di sisi kirinya tersaji sepiring makanan kesukaannya, dan di sebelah kanannya, para guru serta ulama yang ia cintai dan hormati sedang menatap bangga. Kutegaskan, ini hanya sebatas membayangkan. Dan itu sah! Sebab bagi sebuah diri, anugrah Tuhan yang paling tinggi adalah imajinasi.

Semenjak muda sampai tua, Gus Dur dikenal sebagai orang yang tak jijik untuk mempelajari banyak ilmu. Dari mulai teologi, agama, sastra, filsafat, politik, sejarah, sains, kebudayaan, film, musik, dan masih banyak lagi. Ia mengembara dari satu ilmu ke ilmu lainnya.

Ia melahap banyak buku dan kitab kuning tanpa merasa alergi, ia datangi banyak manusia untuk mempersembahkan dirinya sebagai seorang pelajar dan santri. Tak peduli beda, tak peduli bersebrangan pandangan, jika ada ilmu dan hikmah yang bisa dicicipi, di situlah ia memasrahkan diri. Kepada apa pun, kepada siapa pun, Gus Dur tak merasa anyir untuk menengadah hikmah dan berkah.

Dalam proses belajar, aku seringkali hanya memakan ilmu yang aku suka dan puja. Jika aku penggandrung sastra, aku tak sudi belajar politik. Jika aku penikmat filsafat, aku merasa gemetar untuk belajar teologi. Jika aku penganut ajaran tasawuf, untuk belajar fikih dan hukum aku selalu pikir-pikir dulu. Jika aku penggandrung sains, untuk belajar sejarah itu selalu menjalar rasa ngeri. 

Karena aku beragama Islam, aku selalu merasa najis jika belajar kepada Agama Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, atau “Aliran Kebatinan”. Karena aku orang Sunda, aku sungguh malas untuk belajar kepada orang Jawa, Batak, Bugis, Makasar, atau Papua. Sebagai orang Sunni, aku senantiasa berhati-hati jika belajar kepada orang Syiah dan Wahabi. 

Semuanya kubatasi, semuanya kuberi sekat. Akibatnya, ilmuku tak kunjung melebar dan meluas. Bahkan, kebijaksanaanku dalam menilai sesuatu betapa fakirnya. Aku tenggelam dalam kegagapan intelektual dan kedunguan, tapi selalu merasa sebagai penguasa dunia dan pemilik Tuhan. Edan!

Beberapa tahun yang lalu, aku mengkhatamkan kitab ‘Fashlul Maqal’ karya Ibn Rusyd dengan bimbingan Fauz Noor, salah seorang Intelektual Muda NU dari Tasikmalaya. Selain belajar langsung di toko buku milikku, aku pun mengkaji kitab ini melalui rekaman audio saat Kang Fauz mengaji dengan santrinya di Pesantren Fauzan.

Dari semua pemikiran Ibn Rusyd yang kutemukan dalam kitab ini, ada salah satu pemikirannya yang harus kupinjam dalam memahami konsep menuntut ilmu gaya Gus Dur. Dalam pandangan Ibn Rusyd, ada dua cara menuntut ilmu atau hikmah. Pertama adalah konsep ”Abaro” yang disebutkan dalam Alquran, dan kedua adalah konsep “Tholaba” yang diperintahkan dalam hadis Kanjeng Nabi. 

‘Abaro’ atau ‘I’tibar’ bagi Rusyd, adalah kita menggali potensi dan ilmu yang ada di dalam diri kita sendiri. Dengan cara bertafakur dan merenung, sekuat tenaga kita bergantung pada pandangan diri sendiri dalam meraih ilmu dari segala sesuatu. “Allah itu sebenarnya menyuruh kita menjadi seorang filosof” tutur Kang Fauz sambil diiringi tawa. Seolah bercanda padahal serius. 

Berbeda dengan ‘Tholaba’ yang disabdakan Kanjeng Nabi, kita menggali ilmu dari yang di luar diri kita. Aku masih sangat ingat bagaimana Kang Fauz menjelaskan ini, “Sebelum sabda Nabi itu keluar, kebanyakan peradaban dalam konteks menggali ilmu hanya boleh dari diri mereka sendiri. Misalnya, orang India hanya boleh belajar kepada orang India. Orang Yunani hanya boleh belajar kepada orang Yunani. Atau orang Romawi hanya boleh belajar kepada orang Romawi. Nah, ketika Nabi mengeluarkan hadis ‘Tholabul Ilmi..’, itu adalah bentuk pengakuan beliau bahwa di luar dirimu, di luar lingkunganmu, di luar kebudayaan dan peradabanmu, ada banyak orang yang ilmu dan hikmahnya harus kamu petik dan ambil.”

Lebih jauh lagi Kang Fauz menjelaskan masalah ‘Tholaba’, “Jika kamu menemukan ilmu dan kebenaran dari Plato, ambilah! Dari Aristoteles, ambilah! Dari Karl Marx, ambilah! Dari Agama di luar dirimu, ambilah! Dari apa pun saja, jika itu adalah ilmu dan kebenaran, jangan merasa takut untuk mengambilnya. Kita adalah santrinya Ibn Rusyd dalam hal ini.” 

Jika kupakai konsep Ibn Rusyd mengenai masalah ini, Gus Dur telah membuktikan bahwa dirinya adalah pengamal ‘Abaro’ dan ‘Tholaba’, selain menggali ilmu pada dirinya sendiri, dia pun membuktikan bahwa menggali ilmu tak boleh dibatasi ruang, waktu dan kondisi. Hasilnya, Gus Dur menjadi manusia tercerahkan! Ia adalah samudera, dan aku ingin berenang di dalamnya.

Aku kembali membayangkan: saat Gus Dur membaca di alam kubur, ditemani tumpukan buku dan para guru, Kanjeng Nabi Muhammad tersenyum padanya seraya berkata, “Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari umat Islam. Di mana pun kamu menemukannya, ambilah! Dan kamu telah melaksanakan sabdaku ini, Dur.”

Sekali lagi kukatakan, ini hanya sebatas membayangkan. Dan itu sah!

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *