Hari ini suatu pengalaman menarik sekaligus menjadi introspeksi dan pembelajaran.

Ketika menjadi makmum shalat jumat, saya mendengar pada rakaat pertama imam sesudah membaca surat al-Fatihah, ia melanjutkan membaca surat al-Ma’un (أرئيت الذي يكذب بالدين ) ayat 1 sampai 7.

Pada rakaat kedua, sesudah membaca surat al-Fatihah, imam melanjutkan membaca surat al-Kahfi (الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعله له عوجا…) ayat 1 sampai 5.

Surat al-Ma’un (surat ke 108) sedangkan surat al-Kahfi (surat ke 18).  

Dalam kajian Ilmu Fiqh, urutan bacaan surat seperti ini adalah makruh hukumnya, menurut mayoritas ulama, sebab menyalahi tuntunan Rasulullah SAW. 

Dalam sebuah hadis, Beliau berpesan:

فَابْدَءُوا بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ

… maka mulailah (membaca) sebagaimana apa yang dimulai Allah menyebutkannya. (HR. Nasai dari Jabir).

Hadis ini pada dasarnya berkaitan dengan kasus prosesi ibadah Sa’i, yakni harus mulai dari Shafa menuju Marwa, karena Shafa lebih dahulu disebutkan Allah dalam al-Qur’an daripada Marwa.

Namun demikian, para ulama khususnya dalam madzhab Syafi’i juga menjadikan hadis ini sebagai dalil perlunya tertib dalam penyelenggaraan ibadah. 

Misalnya tata cara berwudhu. Allah lebih dahulu menyebutkan basuhlah wajahmu, kedua tangan sampai siku, sapulah sebagian kepala dan kedua kaki hingga mata kaki. (QS. al-Maidah ayat 6).

Atas dasar inilah, kita berwudhu secara tertib, sesuai urutan yang disebutkan Allah dalam al-Qur’an. 

Bukan berwudhu memulai secara acak, apalagi terbalik, memulai dari membasuh kaki lebih dahulu dari pada kedua tangan.

Adapun masalah membaca surat sesudah membaca surat al-Fatihah dalam shalat, walau ini tidak wajib, namun merupakan adab kemuliaan, sebaiknya membaca surat yang lebih dahulu disebutkan Allah dalam al-Qur’an sesuai urutan susunan mushaf al-Qur’an.

Misalnya pada rakaat pertama membaca surat al-Kahfi ayat 1-5. Sebaiknya pada rakaat kedua membaca lanjutan ayatnya, yaitu ayat 6-8. Sebaiknya bacaan rakaat pertama lebih panjang dari rakaat kedua.   

Akan lebih baiknya, apabila satu surat dibaca secara lengkap dan tuntas serta tertib berurutan.

Misalnya pada rakaat pertama membaca surat al-Ma’un (أرئيت الذي يكذب بالدين …) tuntas ayat 1-7 (ويمنعون الماعون).

Surat al-Ma’un atau surat Araita alladzi dalam Mushaf al-Qur’an berada pada urutan ke 107.

Maka sebaiknya, pada rakaat kedua membaca surat al-Kautsar (إنا أعطيناك الكوثر) ayat 1-3 tuntas.

Surat al-Kautsar adalah urutan surat yang ke 108.

1. Surat al-Ma’un/107.

2. Surat al-Kautsar/108.

Inilah namanya adab tertib membaca surat sesudah al-Fatihah dalam shalat,

Bukan membaca surat secara acak, apalagi terbalik. 

Surat yang belakangan urutannya disebut, justru dibaca lebih dahulu.

Dalam kajian Ilmu Tafsir, ini namanya Munasabah (hubungan kesesuaian yang serasi) antar ayat dan surat al-Qur’an, ini mempunyai hikmah dan rahasia.

Misalnya, pada surat al-Ma’un (surat ke 107) isinya adalah sifat-sifat buruk manusia, berupa tanda-tanda pendusta agama, yaitu menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, lalai dari shalat, suka pamer riya’, dan tidak mau membantu.

Sedangkan pada surat al-Kautsar (surat ke 108) isinya adalah sebaliknya, yaitu sifat-sifat baik dan terpuji, berupa mensyukuri nikmat, perintah shalat, ikhlas benar-benar karena Allah bukan riya’, dan perintah berkorban.

Sifat-sifat buruk dan negatif dibaca pada rakaat pertama,

lalu pada rakaat kedua membaca surat al-Kautsar,

di antara makna dan pesannya, adalah agar sifat-sifat buruk tersebut ditutupi dan diganti dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji.

Inilah hikmah dan rahasianya, mengapa ayat dan surat dalam al-Qur’an itu dibaca secara tertib dan urutan.

Begitu dibalik, pada rakaat pertama membaca surat al-Kautsar (surat ke 108), dan pada rakaat kedua membaca surat al-Ma’un (surat ke-107), maka makna dan pesannya menjadi kabur dan hilang, sebab menjadi sifat-sifat baik justru ditutupi dengan sifat-sifat buruk.

Begitu juga pada rakaat pertama membaca surat Wadhdhuha (surat ke 93) ayat 1-11, sebaiknya pada rakaat kedua membaca surat Alam Nasyrah (surat ke 94) ayat 1-8. Isinya sama-sama mengenai lapang dada.

Pada rakaat pertama membaca surat al-Kafirun (surat ke 109) ayat 1-6. Sebaiknya pada rakaat kedua membaca surat Qul Huwallahu Ahad (surat ke 112) ayat 1-4. Surat al-Kafirun isinya mengenai kekafiran, sedangkan surat al-Ikhlas, Qul Huwallahu Ahad, isinya masalah tauhid, mengesakan Allah, membersikan diri dari kekafiran. 

Wallahu A’lam bi Shawab. 

Semoga Bermanfaat

Pontianak, Jumat, 11 Desember 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *