Oleh : Nismara Aulina Ginting
Zaman sekarang adalah zaman yang serba digital, mulai berita digital koran digital dan masih banyak yang serba digital. Salah satu dampak positif digital adalah kita dapat menemukan naskah-naskah kuno yang saat ini sudah hilang atau rusak bentuk fisiknya, dan dapat kita temukan dalam bentuk digital. Naskah-naskah kuno melewati proses yang disebut pendigitaliasian. Setelah itu barulah naskah dapat kita temukan dengen bentuk digital. Naskah-naskah kuno yang sudah didigitalkan tersimpan aman dalam situs-situs digital yang memuat naskah kuno atau manuskrip.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manuskrip artinya adalah naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi. Dalam pengertian tersebut tentunya sudah jelas bahwasanya naskah tulisan tangan sudah tidak memiliki daya tarik masyarakat. Kebanyakan masyarakat sekarang telah meninggalkan hal-hal yang berbau dengan tulisan tangan dan berpindah menggeluti tulisan yang terdapat di internet tentunya mudah diakes.
Khastara dan Hikayat Raja Dentajaya dari Negeri Sentapuri
Banyak sekali situs digital yang menyimpan berbagai macam naskah-naskah kuno atau manuskrip yang sudah di digitalkan, salah satunya yaitu Khastara (Khasanah Perpustakaan Nuasntara). sebuah situs untuk menemukan semua koleksi digital perpusnas RI. Situs ini menampilkaninformasi detail koleksi dengen lengkap dan mendukung format PDF Flip agar mudah dibaca.
Sumber : https://khastara.perpusnas.go.id/
Khastara merupakan salah satu situs penyedia naskah kuno atau manuskrip yang sudah didigitalkan mempunyai ribuan koleksi naskah kuno. Salah satunya yaitu Hikayat Raja Dentajaya dari Negeri Sentapuri, nakah ini memiliki katalog ID: 241843 dengan BIBID: 0010-36447360 dan nomor kontrol: INLIS000000000162198. memiliki nomor panggil: W 155. Dimuat dalam Koleksi Khastara Perpustakaan Nasional pada tanggal 03-06-2009. selain itu nakah ini memiliki 50 halaman dengan ukuran sampul sebesar 19,5 x 31 cm dan ukuran blok teks sebesar 11,5 x 22,5 cm, dan memiliki 17 baris dalam setiap halaman. Dalam penulisannya nakah ini menggunakan bahasa melayu dan beraksara arab. Nakah ini di tulis menggunakan tinta berwarna hitam bacaanya pun sangat jelas terlihat. Dan naskah Hikayat Raja Dentajaya dari Negeri Sentapuri dapat diakes : https://khastara.perpusnas.go.id/landing/detail/241843
Pada awal teks naskah ini bertuliskan: Bismillahi r-Rahmani r-Rahim Wabihi nasta’in billahi ‘ala. Ini hikayat peri pada menyatakan ada sebuah raja di dalam negeri Sentapuri namanya negeri itu. Adapun raja itu bernama Raja Dentajaya disebut orang ialah terlalu besar kerajaannya di dalam negeri itu. Dan tersebut pula baginda raja itu ada ia memeliharakan tiga istrinya itu.
Dan pada akhir teks naskah ini bertuliskan: Setelah itu maka tersebutlah baginda raja itu sesudahnya pulang dari Mekkah al-Musyaropah maka lalu ia membuat halaman di dalam tempat yang sunyi, iyalah melakukan ‘ujlah selama-lamanya berbuat ibadah kepada Allah ta’ala hingga sampai kepada akhir umurnya wallahu a’lam tiada tersebut lagi intaha bi l-shawab. Kisah tentang raja Dentajaya dari negeri Sentapuri, seorang raja besar yang tidak pernah melakukan ibadat kepada Tuhan. Ia mempunyai 3 orang istri, yaitu Raja Dewi, Lela Sari, dan Gandarawati. Pada suatu ketika, tanpa alasan tertentu raja Dentajaya menceraikan Raja Dewi sehingga istrinya itu menderita. Sementara itu diceritakan tentang saudagar Hanafi dari negeri tetangga. Ia mendengar berita tentang Raja Dewi yang hidupnya disia-siakan raja, dan ia bermaksud melamarnya.
Adanya naksah Kisah tentang raja Dentajaya dari negeri Sentapuri yang didigitalkan dan dapat diakses melalui situs Khasanah Perpustakaan Nuasntara, menurut saya sangat bermanfaat bagi para pembaca. Naskah ini juga merupakan salah satu nakah yang cukup bagus untuk dikembangkan dan diteliti lebih dalam lagi. Dan masih banyak manuskrip-manuskrip yang perlu penelitian lebih lanjut, bukan hanya Hikayat Raja Dentajaya dari negeri Sentapuri. Tetapi masih banyak manuskrip lain yang perlu diteliti. Dengan kita meneliti manuskrip yang ada sama saja kita melakukan pelastarian dan mencintai manuskrip-manuskrip tersebut. Tugas kita hanya tinggal mempelajari manuskrip yang sudah didigitalkan dan mengamalkan kebaikan yang terkandung dalam manuskrip tersebut dikehidupan sehari-hari, itulah peran manuskrip digital di zaman sekarang ini.

No responses yet