Categories:

Oleh: Vena Silviana

Kerajaan Melaka berdiri pada abad ke-15. Kerajaan Melaka adalah sebuah kerajaan melayu yang berdiri di Melaka, Malaysia. Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara yang memeimpin  kerajaan sejak tahun 1403 hingga 1424. Pada pertengahan kepemimpinannya Raja Perameswara memeluk agama islam tepatnya di tahun 1424 dan kemudian berganti nama menjadi Iskandar Syah.

Salah satu peninggalan Kerajaan Melaka ini yaitu manuskrip yang berjudul Undang-Undang Raja Melaka. Naskah undang-undang Melaka merupakan salah satu peninggalan budaya Nusantara berupa tulisan tangan yang ditulis di masa kerajaan Melaka.

Manuskrip adalah naskah tulisan tangan yang telah ditulis oleh seseorang di masa silam. Naskah-naskah itu biasanya berbahasa arab pegon menggunakan bahasa melayu, beraksara Jawi, ada pula yang memakai aksara Sunda, dan lain-lain tergantung dimana manuskrip itu ditulis dan ditemukan. Pentingnya penguasaan bahasa sebagai salah satu kunci utama untuk mengkaji dan memahami manuskrip.

Saat ini telah banyak manuskrip-manuskrip yang didigitalisasikan. Hal ini dilakukan agar manuskrip dapat terjaga dengan baik sehingga tidak mudah rusak dan hilang. Banyaknya naskah-naskah kuno yang rusak akibat dimakan usia dan bencana alam membuat para peneliti manuskrip atau biasa disebut filolog mengalih mediakan manuskrip dari lembaran kertas menjadi bentuk digital. Hal ini juga dimaksudkan agar manuskrip dapat diakses dengan mudah dan dibaca oleh masyarakat zaman sekarang dan yang akan datang.

Saat ini sudah banyak bermunculan situ-situs media yang mengembangkan dan mendigitalisasikan manuskrip seperti DREAMSEA, SOAS, RAS, EAP dan lain sebagainya. Kemudahan akses serta kelengkapan informasi mengenai manuskrip yang didigitalisasikan masih terjamin keasliannya. Seperti manuskrip Undang-Undang Raja Melaka adalah salah satu naskah yang telah didigitalisasikan oleh situs Royal Asietic Society (RAS).  

Memahami Manuskrip Undang-Undang Raja Melaka

Manuskrip Undang-Undang Raja Melaka merupakan salah satu naskah digital yang dikelola  Royal Asiatic Society dan didigitalkan oleh See Indonesia Manuscripts in Great Britain pada tahun 2014.          Ditulis dengan menggunakan arab pegon dan berbahasa melayu sehingga memudahkan pembaca memahami apa yang ditulis oleh pengarang. Naskah Undang-undang Raja Malaka ditulis di atas kertas ukuran 21×17,5 cm dan jumlah halaman sebanyak 56 halaman dan memiliki 44 pasal. 

Ada lebih dari lima puluh naskah Undang-Undang Melaka yang kemudian dibagi menjadi enam bagian, yaitu: Undang-Undang melaka pokok,Undang-Indang Melaka versi Aceh, Undang-Undang Melaka versi Patani, Undang-Undang Melaka versi Panjang, Undang-Undang Melaka versi Islam dan Johor, Undang-Undang Melaka versi Fragmentaris. Keenam kumpulan itu berbeda struktur dan isinya.

Undang-Undang Raja Malaka ditulis pada masa Sultan Iskandar Syah Zulqarnain yang yang kemudian diturunkan kepada Sultan Iskandar Syah  Hang Sidi Ahmad, mengungkapkan bahwa Undangundang ini selesai disusun pada hari Kamis, 16 Sya’ban 1216 tahun jim. Pada pasal 01 ia menyebutkan bahwa adat ini berasal dari Sultan Iskandar Zulkarnain, lalu turun ke Iskandar Syah (sultan pertama Melaka, bergelar Mahmud Syah), Muzaffar Syah, Mansur Syah, Alaiddin Ri’ayat Syah dan Mahmud Syah. Merujuk ke paparan ini, berarti Undangundang Melaka sudah ada–tertulis atau tidak–sejak sultan pertama lalu disempurnakan dan ditulis kembali pada masa sultan-sultan berikutnya dan terakhir pada masa Sultan Mahmud Syah (1478-1511). Hal tersebut tertulis dalam Naskah pembuka Undang-undang malaka:

Bismillahirrahmanirrahim. Ketahuilah Hai Thalib akan segala adat ini turun-temurun daripada zaman dulu Sultan Iskandar Syah Dzulqarnain yang memerintahkan segala manusia. Maka datanglah kepada zaman ini Sultan Iskandar Syah adalah raja itu yang pertama menyusup negeri Malaka ini yang bergelar Sultan Muhammad Syah Zul. Fii Al‘ilm ialah raja yang pertama masuk agama Islam meletakkan adat perintah segala raja-raja dan menteri dengan segala orang besar-besar dan meletakkan hukum perintah negeri lalu turun kepada Baginda Sultan Muzzafir Syah dan turun kepada Sultan Mansur Syah dan turun kepada putra Baginda Sultan Ali Addin Ri’ayah Syah  dan turun kepada putra Baginda Sultan Mahmud Syah Khalifah Al Mukminin Zul…”

Masuknya Hukum Islam ke dalam Tradisi Melaka

Merujuk pada Undang-Undang Melaka, ditemukan bahwa islam  datang menambahkan unsur hukum ke dalam tradisi Melaka. Pra Melaka-Islam dimana adat Melaka belum bersentuhan dengan hukum islam. Setelah Parameswara masuk islam dan diganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah masuklah hukum-hukum Islam dalam Undang-undang Melaka. Disinilah Hukum Islam mulai mendapatkan kedudukan dalam adat Melaka.

Masuknya Islam dalam Undang-Undang Melaka dapat diliha pada pembuka undang-undang tersebut dengan berawalan Bismiilah, dan penutup hamdalam serta shalawat kepada Nabi, hal ini juga menjadi ciri adanya islam dalam Undang-Undang Melaka. selain itu, dalam beberapa fasal terdapat hadist-hadist dan ayat al-Quran  yang dijadikan sebagai landasan kerja pemerintahan kerajaan Melaka.

Selain hukum-hukum yang disebutkan diatas, dalam undang undang ini juga diatur adat-adat Melaka seperti pada pasal pertama yang berbunyi: Larangan memakai pakaian berwarna kuning atau tembus pandang atau keris berhulu emas. Tiga syarat hamba raja: benar, taat dan mengharap ampunan raja.  Syarat-syarat raja; ampun, murah, perkasa, dan adil. pada pasal kedua berbunyi Orang yang memakai bahasa raja-raja divonis hukuman mati. Orang yang menyalahgunakan titah dan atau memalsukan surat raja divonis hukuman mati. Kemudian pada pasal 3 Beberapa larangan dalam penguburan rakyat biasa atau pembesar yang mati, larangan memakai tilam, bantal dan sapu tangan berwarna kuning dan pasal-pasal lain yang berbicara mengenai adat Melaka.

Jadi, Undang-Undang Melaka ini berisi mengenai hukum-hukum adat kerajaan Melaka yang bersampingan dengan hukun-hukum yang dibawa oleh Islam didalamnya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *