Kita mungkin punya teman, kerabat atau tetangga yang paginya seger buger, ngopi-ngopi cantik sama kita. Eh, sorenya dapet pengumuman “inna lillahi” dari beliaunya karena kematian yg cepat tanpa ada tanda. Kaget itu yang pertama di pikiran. Kedua, akankah kita mengalami kematian seperti itu?
Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh
أكثروا ذكر هاذم اللذات
“Sering-seringlah kalian mengingat hal yang bisa memutus satu kenikmatan secara cepat, yaitu kematian”
Di sini Kanjeng Nabi memakai redaksi hadzim (هاذم) atau pemotong secara cepat, bukan qothi’ (قاطع) yang hanya bermakna pemotong. Maka diibaratkan kematian itu bagai sebuah pedang tajam yang bisa menebas putus batang leher dalam sekali ayunan yang cepat. Artinya ada penegasan bahwa kematian itu pasti datangnya tiba-tiba, tidak pandang bulu dan tidak pandang situasi. Serba gak disangka-sangka.
Itulah mengingat kematian. Mengingatkan diri bahwa sewaktu-waktu kematian bisa datang secara cepat dan dari arah yg gak kita duga. Jangan sampai kita tidak siap. Apalagi musim wabah gini, malaikat Izroil lagi giat-giatnya setoran.
Jangan sampai saat kematian datang, kita lagi indehoy sama selingkuhan, lagi nggosip sama tetangga, lagi makan cilok hasil nyolong, habis misuh-misuh di medsos misalnya. Selain akan menimbulkan pergunjingan tak sedap secara sosial, kita pun dicatat mati dalam keadaan bermaksiat.
Gak heran, ungkapan ngeri yang terukir pada cincin Sayyidina Umar bin Khatthab adalah :
كفى بالموت واعظا
“Cukuplah kematian itu menjadi nasehat”
Kata siapa mengingat mati itu kudu sedih, takut, pake tangisan sendu? Kadang mengingat mati itu kudu dengan perasaan bahagia.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW satu hari ditanya
ولما سئل صلوات الله عليه من الأكياس من الناس من هم؟ قال: أكثرهم للموت ذكراً، واحسنهم له استعداداً، أولئك الأكياس ذهبوا بشرف الدنيا ونعيم الآخرة
“Ketika Kanjeng Nabi SAW ditanya tentang siapakah orang-orang yang paling bahagia itu? Beliau SAW menjawab : Orang paling bahagia adalah yang sering mengingat kematian di antara mereka dan yang terbaik persiapannya di antara mereka untuk menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang bahagia, pergi membawa kemuliaan dunia dan kenikmatan akhirat”
Banyak ingat mati itu dianjurkan karena menghasilkan banyak manfaat dan faedah. Diantaranya pendek angan-angan, gak ruwet masalah dunia, puas dengan pemberian, menyukai akhirat dan suka dengan amal-amal baik. Dengan dilingkupi hal-hal baik tersebut, artinya kita punya kesempatan selamat dalam menghadapi mati. Apalagi sebutan yang pas selain kebahagiaan?
Makanya, saat kita ditakdirkan punya Islam, iman dan bisa berbuat kesholehan, kita kudu gembira, seneng dan bersyukur bener-bener atas hal itu. Karena ini sebuah kenikmatan yang sangat besar di tengah ketidaktahuan kita kapan nyawa kita dicabut. Hal itu bisa jadi harapan selamat saat tiba2 kematian datang. Kalo dapet duit seneng, ditakdirkan bisa melakukan kesholehan justru harusnya lebih-lebih senengnya.
Dawuh Imam Salam bin Abi Muthi’
كن لنعمة الله عليك في دينك، أشكر منك لنعمة الله عليك في دنياك
“Jadilah kamu lebih mensyukuri nikmat dari Gusti Allah berupa kesholehan dalam agamamu, daripada nikmat Gusti Allah berupa harta duniamu”
Sebaliknya, tiap kita sadar melakukan keburukan, segera tinggalkan dan kita minta ampunan betul-betul. Eh, siapa tau saat melakukan keburukan itu, mendadak kita mati. Tentu gak ada harapan selamat. Dan juga jangan pernah seneng kalo kita udah berbuat keburukan. Kali aja itu yg bikin kita macet saat sekarat.

No responses yet