Categories:

Oleh : Dea Nurulita Amana, Mahasiswa UIN Jakata

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan kebudayaan. Banyak sekali peninggalan/warisan leluhur yang belum terjamah dan terlestarikan dengan baik sampai saat ini.

Naskah-naskah kuno merupakan salah satu dari sekian banyak peninggalan leluhur yang harus kita ketahui. Di dalam naskah kuno tersebut banyak tersimpan cerita-cerita, bahkan ilmu-ilmu yang bisa kita pelajari dan kita teliti di masa kini. Naskah-naskah kuno tersebut kita sebut sebagai manuskrip.

Manuskrip sendiri merupakan sebuah naskah kuno yang telah ditulis tangan oleh orang terdahulu yang masih ada sampai saat ini. Kata “manuskrip” berasal dari bahasa Latin ‘manu’ (tangan) dan ‘scriptum’ (tulisan) yang jika diterjemakan yaitu tulisan tangan. sedangkan ilmu yang mengkaji tentang manuskrip merupakan ilmu Filologi.

Saat ini sudah banyak manuskrip-manuskrip yang didigitalkan, hal tersebut tentunya sangat memudahkan kita para pembaca dan peneliti untuk mengaksesnya. Salah satu website yang dapat mengakses manuskrip digital adalah lektur.kemenag.go.id. di dalamnya kita dapat menemukan manuskrip-manuskrip dari berbagai daerah di Indonesia yang sudah didigitalkan, salah satu manuskrip yang terdapat dalam website tersebut adalah naskah Mujarobat.

Mengenal Naskah Mujarobat

Sesuai dengan judul naskah ini yaitu Mujarobat. Sebenarnya apa itu mujarobat? Mungkin sudah ada yang pernah mendengar atau membaca tentang mujarobat. Mujarobat adalah kitab kuno yang dalam masyarakat Jawa sering disebut dengan primbon. Primbon ini adalah buku yang berisi tentang berbagai petunjuk atau ilmu-ilmu, ada juga yang berisi mantra-mantra, azimat, doa-doa, khasiat, dan lain sebagainya.

Naskah yang akan saya ulas ini diberi nama Mujarobat. Sebenarnya naskah ini tidak mencantumkan judul maupun nama penulisnya. Adapun judul naskah ini diperoleh dari kandungan isi dalam naskahnya yang membahas tentang petunjuk dan doa-doa kesembuhan dan keselamatan. Naskah ini sudah didigitalkan dan dapat diakses pada website lektur.kemenag.go.id dengan kode naskah LKK_CIAMIS2013_MLM01.

Naskah mujarobat ini ditulis menggunakan huruf Arab dan huruf Pegon atau huruf Arab Melayu. Di dalam naskah tulisan doa-doa ditulis dengan bahasa Arab, sedangkan penjelasaanya ditulis menggunakan bahasa Sunda dan sesekali diselipkan juga bahasa Jawa.

Kondisi Fisik Naskah

Naskah mujarobat ini berbentuk buku dengan ukuran 17.x 11 cm dan memiliki 74 halaman, pada setiap halamannya terdiri dari 9 baris. Tidak terdapat nomor halaman pada teksnya, tetapi menggunakan tanda terusan ke halaman berikutnya.

Naskah ini ditulis pada kertas bergaris dan jenis kertas yang digunakan yaitu kertas Eropa. Kondisi fisik naskah ini terbilang masih cukup baik. Tidak ada halaman yang rusak ataupun hilang, namun sayangnya kondisi kertasnya sudah mulai usang karena termakan usia, sebagian pinggirannya pun sudah mulai kriting. Seluruh naskah ini ditulis tangan dengan tinta berwarna hitam, adapun tulisan doanya ditulis dengan tinta berwarna merah.

Isi Kandungan Naskah

Sebagaimana sudah dibahas di atas bahwa naskah mujarobat ini membahas tentang doa-doa kesembuhan dan keselamatan. Dikutip dari deskripsi naskah di website lektur.kemenag.go.id. Naskah Mujarobat ini berisi doa-doa yang bermanfaat bagi yang mengamalkannya. Adapun doa-doa yang terkandung dalam naskah ini yaitu: Doa bagi orang yang ingin mudah melahirkan, doa menghadapi api, doa menghadapi binatang buas, doa Sulaeman, doa Syarabah: doa untuk menyembuhkan segala penyakit, Ayat hafzdh untuk penjagaan dari serangan musuh, dan doa Yusuf.

Adapun isi kandungan naskah mujarobat ini dapat dilihat pada halaman pertama dan terakhir teks yang tertulis:

“Du’a Sulaeman… lamun hayang gajauhkeun ing satruna atawa sato sing galak, atawa seuneu, maka dibaca du’a salapan balik… Lamun hayang alus sorane maka dibaca kana kalapa dibeuleum, ka koneng temen ka bawang beureum maka didahar. Lamun aya anu ngajuru…bijilna budak maka dibaca kana cai nu herang tilu balik, diinumkeun, Insya Allah ta’ala tereh bujilna…

Jika teks di atas diartikan maka akan berbunyi sebagai berikut ini.

“Doa Sulaiman … jika Anda ingin menjauh dari musuh atau hewan liar, atau api, maka baca dua sembilan kembali … Jika Anda ingin bersuara bagus maka baca di atas kelapa yang dibakar, sampai kuning seluruhnya menjadi bawang merah lalu dimakan. Kalau ada yang salah … bulir anak anak itu kemudian dibacakan ke dalam air jernih tiga kali kembali, untuk diminum insya Allah tanahnya empuk.

Dan pada penutup di halaman 71-74 berbunyi:

”Syarah Rasulullah Saw paranti ngalokat sakabeh kasakit ( sakit edan atawa sakit mata atawa sakit sirah kana sagala kasakit atawa lamun hayang boga anak, maka maca dua samemeh adus. Ieu du’ana: Bismillahhir Rahmanirrahim, Allah Allah Arrahmanir Rahim dan sebagainya.

Jika teks di atas diartikan maka akan berbunyi sebagai berikut ini.

Ajaran Nabi (damai dan berkah Allah besertanya) adalah untuk mengobati semua penyakit (gila atau sakit mata atau sakit kepala untuk penyakit apa pun atau jika Anda ingin memiliki anak, maka bacalah dua sebelum mandi. Ini dua: Bismillahhir Rahmanirrahim dan sebagainya.

Dari naskah mujarobat ini kita mengetahui bahwa leluhur-leluhur kita dahulu menggunakan primbon untuk mendapat petunjuk tentang kesembuhan dan keselamatan jiwa dan raganya. Dari naskah ini juga kita bisa meneliti lebih lanjut tentang isi kandungan dalam naskah mujarobat ini. Semoga dengan adanya tulisan ini, kedepannya aka nada banyak orang yang sadar bahwa dengan mengkaji manuskrip kita dapat membuka sejarah bagaimana leluhur-leluhur kita hidup pada zamannya.

Sumber: https://lektur.kemenag.go.id/manuskrip/web/koleksi-detail/lkk-ciamis2013-mlm01.html#ad-image-6

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *