Categories:

Oeh: Nurul Aini

Salah satu manuskrip yang akan saya bahas adalah manuskrip Hikayat Raja Jumjumah. Manuskrip Hikayat Raja Jumjumah ini, menggunakan bahasa arab malayu dengan judul Hikayat Raja Jumjumah MS 37 082, item 0. Ketebalannya sebanyak tiga puluh tujuh halaman dengan tulisan yang sangat jelas untuk dibaca.

Website yang ditemukan pada Hikayat Raja Jumjumah adalah SOAS University of London yang merupakan SOAS digital Collection. Pada halaman kedua manuskrip terdapat tulisan bahasa Indonesia dengan memakai pensil. Uniknya, manuskrip yang ditemukan melalui digital tersebut diakses sangat jelas, sehingga sebagai pembaca tidak merasa kesulitan meraba-raba kembali.

Manuskrip Hikayat Raja Jumjumah ini, jika kita mengulik isi dari teks naskah tersebut sangat kental akan sejarah ketika Raja Jumjumah bertemu dan bercerita dengan Nabi Isa pada saat beliau merasakan sakitnya hidup dalam neraka. Mari kita simak kisahnya Raja Jumjumah yang mungkin sangat asing buat para pembaca.

              Hikayat Raja Jumjumah menceritakan tentang seorang Raja yang bernama Raja Jumjumah yang berkuasa di Mesir. Di suatu perjalanan Nabi Isa bertemu dengan Tengkorak Kering yaitu Raja Jumjumah, merasa kasihan Nabi Isa meminta kepada Allah SWT agar Tengkorak itu dapat berbicara. Dan Allah pun memberikan mukjizat sehingga tengkorak itu yaitu Raja Jumjumah dapat berbicara.

Nabi Isa bertanya mengenai apakah Tengkorak Kering seorang laki-laki atau perempuan, dan Tengkorak Kering menjawab bahwa ia adalah seorang laki-laki yang merdeka sebagai Raja yang bernama Jumjumah, ia seorang Islam yang pemurah, baik, mulia, tetapi hamba yang tidak bahagia dan celaka di akhirat.

Raja Jumjumah bercerita semasa hidupnya bahwa ia adalah orang yang pemurah di Mesir dan Syam, kerajaannya sangat besar. Ketika ia bertamasya pergi berburu, ada enam belas ribu budak pengiring, ditambah dengan menteri-menteri dan tentara-tentaranya.

              Ketika Raja Jumjumah mandi ke sungai ia merasakan kedinginan dan para menteri dan tentaranya sangat khawatir dengan keadaan Rajanya. Mereka kembali ke Istana dan Raja masih merasakan sakit, walaupun tabib sudah berusaha mengobati. Dan ternyata datangnya sakit merupakan awal penjemputan sakratul maut Raja Jumjumah.

Nabi Isa bertanya “bagaimana engkau merasakan sakratul maut, dan bagaimana rasanya minum pada saat sakratul maut, dan bagaimana merasakan berada di saat dalam kubur?”. Dan Raja Jumjumah menjawab betapa sakit dan siksanya panggilan sakratul maut itu, dan terdengarlah suara “Keluarkanlah nyawa orang yang durhaka ini,” maka seluruh tubuhnya terbaring di atas bantal, terasa seperti bercerai-berai sendi-sendi tulang. Makan dan minuman, serta pakaian yang terbuat dari emas ternyata menjadi siksaan dan azab baginya.

              Dan diceritakannya bagaimana Malaikat Maut itu datang serta bentuknya. Raja Jumjumah mengatakan bahwa kepala dan kakinya berada pada tujuh lapis langit hingga ke tujuh lapis bumi, serta sebelah sayapnya merupakan azab dan sayap lainnya adalah rahmat.

Mukanya ada enam katanya kepada Nabi Isa Ruhullah. Kesatu dari atas kerjanya mengambil nyawa seluruh nyawa anbiya, kedua muka dari depan kerjanya mengambil nyawa seluruh umat Nabi Muhammad SAW, ketiga muka bagian belakang mengambil nyawa orang kafir, keempat dibagian kanan kerjanya mengambil nyawa penghuni wilayah Masyrik, kelima sebelah kirinya mengambil nyawa penghuni wilayah Maghrib, dan keenam bagian bawah mengambil nyawa segala Jin dan Setan.

              Selanjutnya, ketika ditanya Malaikat yang sangat hitam dan amat tinggi seperti pohon kurma. Dari mulutnya keluar api yang menyala-nyala, kemudian bertanya “Hai orang durhaka yang celaka, siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, dan Agamu, siapa Imammu, apa kiblatmu, dan siapa saudaramu?” Raja Jumjumah menjawab “Engkaulah Tuhanku.” Maka setelah mendengarnya marahlah  kedua Malaikat itu, disiksalah Raja Jumjumah dengan tembaga ke dadanya yang kemudian hancur dan menjeritlah tubuhnya.

Lalu, dililit lehernya dengan tali yang terbuat dari api dan menjeritlah Raja Jumjumah, jika terdengar wilayah penghuni Maghrib maka mendengarkan suara itu seperti halilintar yang membelah. Seluruh tubuhnya dililit binatang seperti ular, lipan, jika ia marah maka digigitnyalah tubuh itu.

Setelah ia disiksa dan protesnya bumi atas prilaku buruknya selama di dunia, maka Allah SWT mengampuninya. Dan Raja Jumjumah meminta kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam perut ibunya untuk dihidupkan kembali, agar semasa hidupnya di dunia ia hanya menyembah Allah SWT.

Ketika membaca manuskrip Hikayat Raja Jumjumah, kita tahu bahwa hidup ini bukan hanya persoal berprilaku baik hati kepada manusia,atau hidup beramal kepada orang yang tidak mampu. Tetapi hidup ini juga tentang menyembah Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya.

Begitu sangat berpengaruhnya keberadaan manuskrip, sehingga kita dapat mengetahui tentang sejarah yang sama sekali belum pernah didengar. Jika kita melihat keberadaan manuskrip sepertinya, masyarakat sangat mengabaikan keberadaan manuskrip itu sendiri, bahkan juga tidak sedikit yang tidak mengetahui manuskrip itu apa. Padahal, keberadaan manuskrip sangat membantu kita untuk mengenal seluk-beluk sejarah nenek moyang kita.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *