1. Sebelum mengamalkan suatu wirid atau do’a, terlebih dahulu pasanglah niat yang ikhlas, semata-mata bertaqorub (mendekatkan diri kepada ALLAH Ta’ala). Jangan terfokus kepada khasiat, faedah atau kemanfaatan dari suatu wirid atau do’anya. Jika diberikan khasiatnya oleh ALLAH berupa limpahan rezeki atau hasil maksud tertentu, maka itu semata-mata fadlullah (anugerahNya) dan percikan rahmat (kasih sayang)Nya yang meliputi segala sesuatu.

 Jika belum dikabulkan atau belum terasa khasiatnya, berarti pertanda ALLAH ingin menunjukkan pada hamba-hambaNya bahwa Dia Maha Pengatur, Maha Memaksakan kehendakNya kepada semua makhluk. Dia tidak bisa diatur, atau dipaksa harus mengikuti kehendak makhlukNya. Justeru makhluk itulah yang harus mengikuti segala kehendakNya. Yang jelas, tidak ada kehendaknya yang buruk. Semua perbuatanNya baik untuk makhlukNya. Tiada sekalipun ALLAH ingin berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya.

 Maka teruslah secara konsisten mengamalkan wirid tersebut, seraya tetap berbaik sangka (husnu zhan) kepada Yang Maha Kuasa dan tetap yakin suatu saat pasti terkabul juga.

2. Yakinlah bahwa setiap do’a itu pasti dikabulkan. Tidak ada do’a yag ditolak (Q.S. Ghofir/al-Mukmin : 60). Masalahnya hanya soal waktu. Ada kalanya waktunya mendesak atau kita lagi kepepet, maka permohonan kita pasti saat itu juga dikabulkan ALLAH (Q.S. an-Naml : 62). Tapi jika menurut ALLAH belum saatnya dikabulkan, makaDiapasti menundanya sampai kita memiliki kesiapan baik mental (psikologis), ilmu,akhlaq (kepribadian) dan iman. Barulah setelah siap dan pas waktunya, pasti permohonan kita akan diperkenankan. Jika sebelum waktunya sudah diberi atau dikabulkan, berarti sama saja dengan diri sendiri dalam kebinasaan. Dengan kata lain, pemberian yang dipaksakan itu bisa saja tergolong kepada istidraj (pemberian tanpa ridhoNya).

 Menurut Rasulullah saw, do’a seseorang yang belum sempat dikabulkan itu bisa jadi digunakan untuk menolak keburukan/ musibah yang akan menimpanya, atau disimpan di akhirat sebagai penambah pundi-pundi amalnya.(H.R. Ahmad, al-Hakim,Abu Ya’la dan Al-Bazzar).

3. Jika ingin hajat kita terkabul, maka dibutuhkan beberapa hal sebagai berikut :

 a. keistiqomahan(konsistensi) atau mudawamah (langgeng). Maka bacalah dzikir apa saja secara rutin sehingga menjadi wirid yang teratur, berkesinambungan(kontinuitas) tanpa mengenal rasa bosan. Kendati sudah tercapai tujuan kita, tetap saja wirid tersebut dibaca secara rutin.(Q.S. al-Jin : 16).

 b. janganlah sekali-kali kita berburuk sangka (su’u zhan) kepada ALLAH.Tetaplah bebaik sangka (husnu zhan) terhadapNya. Jika seseorang hamba yang berdo’a lalu sudah terlontar ucapan ; “Aku telah lama berdo’a atau berwirid, tetapi belum juga dikabulkan”, ini suatu kekeliruan dan berakibat do’anya itu tidak akan dikabulkan selamanya, disebabkan prasangka buruknya tadi.(H.R. al-Bukhary, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzy, Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a).

4. Untuk lebih mempercepat terkabulnya do’a kita, Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita agar banyak bersedekah menolong orang yag kesusahan, mempermudah oang yang dalam kesulitan dan menggembirakan hati orang-orang beriman. Ibaratnya sedekah itu sebagai “penajam” terkabulnya do’a. (Q.S. Fathir : 10, H.R. Ahmad ari Ibnu Umar r.a)

 Selain itu, Nabi saw menjelaskan pula bahwa siapa saja yang mau dikabulkan do’anya di saat ia dalam kesempitan (sakit, miskin, lemah, bangkrut), maka hendaklah ia memperbanyak do’a di saat ia dalam kelapangan (sehat,kaya,kuat, jaya). (H.R. at-Tirmidzy dan al-Hakim).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *