Salahsatu yang membedakan Gus Dur dengan para kiai maupun orang2 di sekitarnya, ia seorang penikmat karya sastra yang tiada banding. Bahkan ia pernah mengaku pingin jadi seorang novelis, bukan kiai apalagi presiden. Meskipun ia tidak menulis novel, puisi, cerpen atau karya sastra yang lain, tapi minatnya dalam dunia sastra tidak diragukan lagi. Bahkan Gus Dur pernah mengklaim dalam sebuah wawancara dengan majalah Gatra, Maret 1992,
“ Tidak banyak orang yang menyamai saya _ kecuali sastrawan serius_ dalam hal keseriusan membaca novel-novel sastra dunia.”
Sejak kapan Gus Dur mulai menyukai karya sastra hingga turut memengaruhi cara pandangnya dalam melihat berbagai persoalan kehidupan nyata?
Menurut Kang Sobary, salahsatu karibnya, Gus Dur mulai menyukai karya sastra dunia sejak mondok di Krapyak, Yogyakarta, di bawah bimbingan Kiai Ali Maksum. Diceritakan, suatu ketika, saat teman-temannya harus belajar dan menghafal hadis, Gus Dur justru asyik membaca buku The Old Man and The Sea karya Hemingway. Saat salahsatu rekannya nyeletuk bertanya tentang buku apa yang dibacanya, Gus Dur dengan bercanda menjawab, “Buku hadis Amerika.”
Tidak hanya karya Hemingway, rupanya pada saat mondok itulah ia mulai bersentuhan dengan novel-novel karya sastrawan dunia lainnya, seperti Tolstoy, Chekov, Dostoyevsky, Boris Pasternak, Gogol, Pushkin dan banyak sastrawan Rusia lainnya. Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam novel karya Dostoyevsky cukup memukau dirinya. Juga kekaguman pada kerumitan persoalan lokal yg diletakkan pada kalangan bangsawan dan kelas menengah Rusia di “Perang Damai”nya Tolstoy. Intinya, meski ceritanya sangat lokal tapi dikemas dalam kerangka keprihatinan yang universal menjadikannya sebagai problem umum siapapun di dunia.
Karena pengalamannya menjelajahi sastra-sastra dunia, ia sempat mengkritik karya-karya Buya Hamka yang dinilainya terlalu cengeng dan tidak memberikan perenungan yang dalam akan pergulatan kemanusiaan.
“Apa anehnya orang putus cinta dan melarikan diri ke Makkah, atau terputus lakon dengan jalan tenggelam bersama kapal, seperti dikisahkan Buya Hamka dalam Di Bawah Lindungan Kakbah dan tengelamnya Kapal Van Der Wijck?”
“Tidak ada yang istimewa karena tidak diletakkan dalam tema besar yg benar-benar universal,” tanya sekaligus jawab Gus Dur.
Namun demikian ia tetap mengagumi karya Buya Hamka yang asyik dibaca karena penggambaran warna lokalnya begitu hidup. Hanya Gus Dur tidak merasakan adanya jalinan kuat pada problem pelaku dalam kisahnya menjadi persoalan umum kemanusiaan. Begitu juga karya sastrawan lokal lain, seperti AA Navis dan Djamil Suherman. Semua dinikmati dengan tetap meninggalkan kritik dan catatan atas karya2 mereka. Sesuatu yang menunjukkan betapa Gus Dur sebagai seorang pembaca sastra yg serius dan berkelas.
Pengalamannya menjelajahi dunia sastra dan apresiasinya atas semua karya sastra akhirnya membentuk sosok Gus Dur sebagai ulama yang kosmopolit, terbuka dan bebas. Hal ini seakan memberi pesan, khususnya kepada para agamawan untuk memperluas cakrawala pengetahuannya agar memiliki pemahaman keagamaan yg komplit, mampu menyentuh pada persoalan riil yang dihadapi masyarakat, agar pandangannya tidak hitam-putih, salah-benar dan tak mudah memberi stempel sesat, munafik dan kafir kepada liyan.
ila Hadhrati Gus Dur lahul Fatihah…

No responses yet