Oleh: Rizky Aldyantama
Sebelum ditemukannya mesin tik, manusia menulis di berbagai macam media. Media tulis tersebut ada yang berupa daun, kulit pohon, kulit binatang, bahkan jika mundur lebih ke belakang lagi manusia menulis di atas batu. Prasasti merupakan contoh hasil tulisan manusia di atas batu. Jika hasil tulisan manusia yang berada di daun, kulit pohon, dan sebagainya disebut dengan manuskrip.
Manuskrip merupakan naskah tulisan tangan yang ditulis oleh orang pada zaman dahulu yang masih ada sampai saat ini. Manuskrip berasal dari bahasa latin, yaitu manu dan scriptus yang artinya adalah ditulis tangan.
Manuskrip bukan hanya sekadar tulisan tangan biasa, melainkan isi atau kandungan dari manuskrip sangatlah beragam. Mulai dari keagaman, sosial, budaya, sastra, dan bidang-bidang ilmu lainnya. Manuskrip juga bisa menjadi rekam jejak dari suatu peristiwa bersejarah di masa lampau. Oleh karena itu, manuskrip sangatlah berharga. Selain berisi hal-hal penting, manuskrip juga bisa menjadi bahan penelitian di bidang akademik.
Indonesia juga mempunyai banyak sekali manuskrip. Manuskrip tersebut dapat dijumpai di berbagai belahan wilayah di Indonesia. Salah satu provinsi yang banyak terdapat manuskrip ialah Aceh. Sampai-sampai Aceh dijuluki “lumbung manuskrip” di Melayu-Nusantara.
Selain berada di Indonesia sendiri, manuskrip milik Indonesia atau manuskrip yang berasal dari Indonesia disimpan dan dijaga di perpustakaan Universitas Leiden di Belanda. Hal tersebut sudah terjadi sejak lama. Karena Indonesia dijajah oleh Belanda, maka banyak warisan Indonesia yang dibawa oleh Belanda. Karena hal tersebut, sekitar 26.000 manuskrip berada di perputakaan Leiden.
Manuskrip-manuskrip yang berada di Indonesia masih banyak juga yang dimiliki oleh individu. Biasanya manuskrip tersebut merupakan peninggalan dan dijaga secara turun-temurun. Oleh karena itu, pelestarian manuskrip sangat diperlukan, supaya manuskrip yang dipegang oleh individu dapat terjaga dengan baik, bila suatu saat nanti manuskrip tersebut rusak atau bahkan hilang karena bencana.
Saat ini Indonesia juga memiliki lembaga-lembaga yang menangani manuskrip. Lembaga terseut salah satunya adalah Dreamsea. Dreamsea merupakan lembaga yang menjaga serta mendigitalisasi manuskrip-manuskrip yang ada di Asia tenggara. Selain Dreamsea, di perpustakaan nasional juga banyak menyimpan manuskrip.
Dalam pelestarian manuskrip, salah satu cara yang digunakan adalah digitalisasi manuskrip. Cara tersebut memanfaatkan teknologi masa kini untuk menjaga manuskrip. Manuskrip tersebut difoto dan datanya disimpan pada suatu server, sehingga bila manuskrip aslinya terkena sesuatu atau mungkin hilang ataupun rusak, manuskrip tersebut masih ada bentuk digitalnya dan akan terus bisa diakses.
Salah satu manuskrip yang sudah didigitalisasi adalah manuskrip Syair Kupu-kupu. Syair tersebut merupakan satu dari sekian banyak manuskrip yang telah didigitalisasi. Manuskrip ini dapat diakses di website Orient Digital. Website tersebut berpusat di Berlin.
Manuskrip tersebut ditulis di atas kertas dengan menggunakan tinta berwarna hitam dan berwarna merah dengan jumlah halaman 45. Manuskrip tersebut berasal dari wilayah Asia Tenggara. Menggunakan aksara Arab dengan cara baca atau pengucapan bahasa Melayu.
Syair tersebut tersebut terdiri dari 494 ayat ganda, yang masing-masing terdiri dari empat ayat yang berima seluruhnya atau 1 dan 3 serta 2 dan 4. Syair kupu-kupu tersebut berjumlah 45 halaman dengan ukuran panjang kertas 21 cm dan lebar 17 cm. Dalam setiap halamannya syair tersebut ditulis dalam 12 baris dan syair tersebut ditulis dalam 2 kolom.
Teks “Syair Kupu-Kupu” ini adalah dongeng. Isi teks tersebut adalah cerita tentang kupu-kupu yang sangat indah. Dari sekian banyak bunga ia meminum nektar sampai bunganya layu. Suatu hari ia bertemu dengan kupu-kupu lain (balang) yang bertubuh luar biasa dengan penampilannya. Secara alami, kupu-kupu pertama jatuh cinta pada balang, tetapi dia tidak berani mendekatinya karena kakaknya yang waspada. Itu sebabnya dia harus menahan kerinduannya sampai tubuhnya sangat kurus.
Dari manuskrip tersebut kita dapat mengetahui sebuah cerita atau dongeng romansa tentang seseorang yang tidak dapat mengungkapkan cintanya. Tetapi, yang membuat cerita tersebut unik adalah penggambarannya tidak menggunakan manusia dalam tokohnya, melainkan binatang seperti kupu-kupu, belalang, kunang-kunang dan lain-lain.
Hal tersebut adalah salah satu contoh dari manfaat pelestarian manuskrip, kita dapat membaca syair atau dongeng yang ditulis dari masa lampau. Kemudian selain membaca, kita juga dapat memanfaatkannya untuk penelitian, seperti penelitian di bidang sastra. Manuskrip ini, selain menjadi warisan budaya, merupakan gudang bagi penelitian. Oleh karena itu, kita wajib melestarikan dan terus mengembangkan penelitian di bidang manuskrip.

No responses yet