Oleh : Zul Fahmi (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


(Gambar cover: Bagian isi Hikayat Abu Samah koleksi SOAS, University of London)
Perkembangan manuskrip saat ini dapat dikatakan sangat memprihatinkan. Jumlah dari peminat dan pengguna manuskrip semakin hari semakin berkurang. Bagaimana tidak? Akses yang sulit dijangkau, serta merosotnya pengguna bahasa dan aksara dari manuskrip yang bersangkutan pada akhirnya mengakibatkan manuskrip-manuskrip kuno terlupakan. Dekadensi ini membawa dampak yang lebih serius jika tidak diperhatikan, yaitu punahnya manuskrip kuno. Padahal manuskrip-manuskrip ini merupakan warisan budaya leluhur yang kaya akan nilai-nilai kehidupan.
Dari sekian banyak manuskrip yang tersebar di Indonesia, Hikayat Abu Samah (Selanjutnya HAS) adalah salah satu manuskrip yang cukup populer karena telah dialihbahasa serta dialihaksarakan pada berbagai bahasa daerah lain. Pada HAS koleksi Perpustakaan University of Leiden dan Museum Nasional Jakarta, misalnya, telah mengubah salinan bahasanya menggunakan bahasa Melayu-Aceh yang kental dengan rima syairnya. Pada koleksi SOAS, University of London juga telah mempopulerkan penggunaan bahasa dan aksara Betawi-Melayu. Hal ini tentu menyadarkan kita bahwa manuskrip-manuskrip kuno ini kaya akan budaya yang tidak terdokumentasi di dalam sejarah.
HAS yang ditampilkan pada gambar merupakan salah satu koleksi dari SOAS, University of London. Naskah tersebut berbentuk buku dengan diameter 21 X 15.5 cm yang terdiri atas 65 halaman. Setiap halaman terdiri atas 13 baris, menggunakan alas kertas Eropa berwarna cokelat, memiliki hardcover depan dengan ornament cokelat tua kusam, serta tidak memiliki cover belakang akibat rusak. Pada bagian belakang tertera pemilik dari naskah ini, yaitu Encik Karim bin Mamat.
Naskah ini menggunakan bahasa dan aksara yang berbeda. Bahasa yang digunakan dalam HAS ini adalah bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Selain itu, ada juga perbedaan warna tinta yang menandakan perbedaan bahasa yang digunakan. Untuk tinta berwarna hitam untuk menuliskan bahasa Melayu, sementara untuk tinta berwarna merah untuk menuliskan bahasa Arab.
Secara fisik mungkin HAS tidak memiliki keistimewaan. Tidak seperti manuskrip lain yang berbentuk unik seperti lipatan-lipatan horizontal, gulungan, atupun memiliki pigura di bagian bingkai teksnya. Namun, keunikannya ini justri lahir dari cerita yang dibawakan.
Pada awal kisah naskah ini diceritakan sebagai berikut:
“Bismillahirrahmanirrahim. Allhamdulillahhirabilalamin wal’aqibtalmutaqin washalatu wasalamuali rasulu saidina Muhamadi waalihi washabih ajma’in amaba’du. Kemudian daripada itu maka ini hikayat Amiralmumin Umar Radiyallahu’an yang mendirikan amarallah ta’ali dan mengerjakan hukum Allah ta’ali di atas anaknya yang bernama Abu Samah. Adapun kata sahaba Al-Hakit, maka wafatlah Sayidina Abu Bakar Sidiq radiyallahu’anhu. Maka Amiralmumin Umar ibnu Khatab akan gantinya. Maka baginda Umar kerasa setianya daripada Khalifah yang lain. Maka yaklah manusia tiada terikut auliyah pekerjaan pada mengerjakan hukum allah ta’ali daripada kami Islam dengan tiada manggil kepada yang lain sedikit jua pun. Maka adalah amiralmu’minin Umar radiyallahu’an menjadi khalifah itu. Maka dibunuhnya bapanya dengan senjata sebab tiada mau masuk agama islam dan di bunuhnya anaknya dengan hukum zinah dan makan arak.”, (Hikayat Abu Samah, hal. 3)
HAS menceritakan tentang seorang anak bernama Abu Samah. Dia adalah anak dari Umar bin Khattab yang menjadi khalifah pada saat itu menggantikan Saiddina Ali. Abu Samah memiliki wajah yang tampan, lemah lembut, dan bersuara merdu ketika melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Bahkan di dalam hikayat tersebut diceritakan, Malaikat sampai turun dari langit dan dibuat menangis dengan suara Abu Samah yang dikatakan mirip dengan suara Rasulullah ketika membaca Al-Qur’an. Namun sayang, masa mudanya harus hilang direnggut oleh ayahandanya, Umar bin Khattab, karena difitnah telah meminum arak dan menghamili seorang perempuan Yahudi. Dia dirajam hingga tewas dan dimasukkan oleh Allah ke dalam Surga. Hal tersebut juga terjadi pada ayahnya Umar bin Khattab yang mati ditangan Umar karena menolak untuk masuk Islam.
Keunikan Hikayat Abu Samah
Hal yang menjadi perhatian saya adalah terkait penggunaan bahasa Melayu-Betawi serta waktu disalinnya HAS ini. Dilansir dari alif.id, 1 dari 6 naskah HAS yang ada di dunia menyebutkan bahwa penulis naskah ini bernama Muhamad Cing Saidullah di sekitar abad ke-19 atau tahun 1823. Jika kita melihat biografi Muhamad Cing Saidullah, dia adalah juru tulis pribumi yang bekerja di Algemeene Secretarie, Betawi yang bertugas untuk memenuhi pesanan penyalinan naskah yang hendak di kirim ke Belanda dan Eropa.
Jika kita kilas balik pada sejarah, abad ke 19 merupakan puncak dari masa keemasan susastra klasik Betawi. Sebagai pusat pemerintahan sejak abad ke-18 sampai abad ke-19, Betawi atau Batavia menjadi pusat kekuasaan Pemerintah Hindia-Belanda. Hal ini ditandai dengan dijadikannya Betawi sebagai skriptorium naskah-naskah kuno, selain Riau dan Palembang. Salah satu buktinya terdapat dalam Hikayat Pelanduk sebagai berikut, “Dan habislah cerita Hikayat Pelanduk Jenaka menjadi raja dalam rimba padang sujana itu….. tamat al-hikayat Pelanduk dalam negeri Betawi”. Proses penyalinan naskah inilah kemudian yang membuktikan bahwa intelektualitas masyarakat Betawi sudah tinggi. Mu’jizah dalam penelitiannya mengatakan bahwa naskah-naskah yang disalin masyarakat Betawi memiliki keunikan, terutama banyaknya dekorasi naskah berupa ilmunikasi, ilustrasi, dan kaligrafi yang sesuai dengan jenis cerita.
Kemudian yang tidak kalah penting adalah metadata dari HAS koleksi SOAS, University of London menyebutkan bahwa naskah ini menggunakan bahasa Melayu-Betawi. Perlu diketahui bahwa bahasa Betawi adalah bahasa Melayu juga. Keliru agaknya jika kita mengatakan bahwa, “Bahasa Betawi tidak memiliki ciri khas. Bahasa Betawi itu yaa bahasa Indonesia juga.”
Bahasa Betawi adalah bahasa kreol, artinya, bahasa ini terlahir dari proses penggabungan bahasa-bahasa penutur yang digabungkan dari berbagai suku di Indonesia, seperti Melayu Pasar, Bugis, Makassar, Bali, Arab, Eropa, dan juga Tiongkok Selatan (terutama bahasa Hokkian). Maka jangan heran ketika kita membaca naskah HAS, tidak ada pencirian khusus terkait penggunaan dialek Betawi dalam teksnya. Karena Muhamad Cing Saidullah dalam menyalin naskah ini masih menggunakan bahasa Melayu yang formal.Alasannya sederhana, sebab bahasa Melayu-Betawi saat itu belum berkembang pesat seperti bahasa Betawi yang kita kenal saat ini.
Pertalian Budaya Betawi, Melayu, dan Islam
Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya Islam bergerak sangat masif di Nusantara. Penulisan naskah HAS, misalnya menggunakan bahasa dan aksara Arab dengan tinta warna merah dan bahasa Melayu beraksara Jawi dengan tinta warna hitam menjadi penanda bahwa di abad ke-19 pengaruh dari etnis Arab yang tinggal di Betawi sangat kuat. Sehingga, hampir seluruh manuskrip di nusantara, khususnya Betawi pada saat itu menggunakan bahasa Arab. Selain itu, penggunaan dua bahasa dan pembedaan tinta berwarna dalam penulisan sastra Melayu klasik merupakan ciri khas tersendiri dalam pola penulisan teks-teks keislaman pada masa itu.
Selain itu, HAS juga menitikberatkan pada nilai-nilai ajaran moral yang diperuntukkan untuk siapa saja yang membaca, tidak terbatas pada orang Betawi, Melayu, ataupun Umat Islam saja. Hal tersebut diwakilkan dalam HAS koleksi Perpusnas yang berbunyi,
Semua saudara laki wanita, utara selatan tua muda
Hikayat jangan dibaca saja, diperkena indah suara
Jangan dibaca dengan sukaan, jadi mainan berhura-hura
Demi Allah kalau demikian, kelas Tuhan memberi neraka. (HAS koleksi Perpusnas, hal. 52).
Dalam HAS misalnya kita diajarkan untuk tidak meminum khamar dan berzinah. Konsep ini sebenarnya konsep budaya Islam. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 90 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Masyarakat Arab pada zaman Jahiliyah saat itu tidak terlalu menganggap bahwa “adab” itu penting. Sehingga kasus-kasus pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, dan sebagainya dianggap sebagai suatu tradisi yang legal. Maka ketika ajaran Islam menyebar luas, barulah perbuatan-perbuatan itu dilarang.
Berbeda dengan di Nusantara, khususnya di zaman kerajaan, bahwa mengkonsumsi minuman beralkohol adalah suatu tradisi yang telah diturunkan oleh leluhur secara turun temurun. Kita dapat melihat catatannya dalam Prasasti Pengumpulan (902 M), Serat Lima (1903), maupun Serat Centhini Suluk yang menyadarkan kita bahwa tuak dan arak adalah sajian yang selalu ada dalam upcaya penetapan tanah ataupun perayaan besar kerajaan. Hadirnya naskah bernuansa Islam ini bukan semata-mata hendak menghilangkan budaya luhur kita. Namun lebih sebagai pengingat masyarakat saat itu akan bahayanya efek dari minuman beralkohol.
Di sisi lain, masyarakat Betawi adalah masyarakat heterogen, pusat pertemuan beragam etnis yang tentunya menjunjung nilai-nilai universal. Oleh karena itu, gambaran yang pantas untuk pelaku yang meminum khamar dan berzinah adalah di rajam hingga tewas. Tujuannya apa? agar masyarakat takut jika berbuat demikian.
Selain itu jika kita mundur sedikit pada sejarah, tradisi tulis menulis sudah dikenal lebih dulu oleh orang-orang Jahiliyah Arab (pra-Islam) dengan sebutan “Muallaqat”, yaitu suatu tradisi menguasai Ka’bah dengan membuat syair-syair yang ditulis dengan tinta emas dan dipajang di dinding Ka’bah. Hal ini tentu menunjukkan kepada kita bahwa intelektulisme tradisi tulis menulis di Arab sudah berkembang pesat.
Baru kemudian di abad ke 15-18 pusat studi Islam semakin menyebar di seluruh dunia hingga sampai ke nusantara. Maka, rasanya tidak heran jika banyak karya-karya sastra Melayu berisi tentang hikayat-hikayat nabi, cerita khulafaur rasyidin, dan segala hal yang berbau keislaman, tidak terkecuali HAS. Karena dengan menyebarnya studi keislaman ini, tersebar pula karya-karya tulis Intelektual Muslim yang dianggap sebagai “acuan” dalam menjalani kehidupan yang tentunya sesuai dengan syariat Islam.
Pada akhirnya wacana yang saya bangun pada tulisan ini hanya akan menjadi bualan belaka apabila tidak ada inisiator yang menggerakkan kesadaran akan pentingnya kebudayaan masa silam. Tulisan ini juga sedikit banyaknya memberikan sumbangsih untuk tetap menghargai, melestarikan, juga menjaga manuskrip-manuskrip kuno agar tidak punah, baik dalam punah secara fisik ataupun punah secara praktis. Berbagai upaya juga telah dilakukan seperti mendigitalisasikan manuskrip-manuskrip tersebut agar tidak hilang dari peradaban. Dengan tetap menjaga warisan leluhur, kita akan terlihat sebagai bangsa yang bermartabat, memiliki daya literasi kuat, dan berintelektual tinggi.

No responses yet