Oleh: Siti Zahrotul Hayati (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Mahasantri Darus-Sunnah International Institute For Hadits Sciences)
Dalam diskusi open mind series ke-9, yang diselenggarakan pada 17 Desember, oleh Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Jakarta, Profesor Niko Kapten seorang guru besar Kajian Studi Islam Asia Tenggara dari Universitas leiden menyatakan bahwa kajian studi dan peradaban Islam memiliki masa masa depan yang cerah di Indonesia. Salah satu kajian yang memiliki kekayaan dalam kajian studi Islam di Indonesia adalah kajian manuskrip atau filologi. Hal ini disebabkan Indonesia dianugrahi kekayaan keberagaman sosio-politik masyarakat Indonesia itu sendiri yang terbentuk dari ratusan budaya, sehingga pengkajian studi Islam khususnya manuskrip memiliki distingsi tersendiri karena pengaruh budaya lokal.
Menurut Profesor Doktor Oman Fathurrahman kajian filologi memiliki pengaruh besar dalam peradaban Islam di Nusantara. Filologi membantu menguak dan mempertahankan identitas peradaban Islam di Nusantara.
Salah satunya manuskrip yang ditemukan di daerah Baubau Sulawesi Tenggara yang didigital kan oleh institusi Dreamsea mengenai satu Hadis Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh imam muslim tentang zina yang berbumyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya manusia itu telah ditentukan nasib perzinaannya yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan ditindak lanjuti atau ditolak oleh kemaluan.”
Setelah diteliti, teks hadis yang ada di manuskrip ini sesuai dengan kebanyakan riwayat ulama Arab. Hal ini menandakan bahwa ajaran Islam yang diajarkan di Indonesia sama dengan ajaran Islam yang diajarkan di Timur Tengah yang mana merupakan tempat Islam pertama kali hadir. Dengan begitu manuskrip yang merupakan objek kajian filologi sangat penting keberadaannya agar kita mengetahui bagaimana proses peradaban Islam di Indonesia.
Dengan kita mengetahui peradaban bangsa, maka kita dapat mengetahui identitas bangsa Indonesia. Identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama dengan Islam agama mayoritasnya.
Karakter suatu bangsa dapat dibangun dengan cara mengetahu identitas suatu bangsa, dan tidak lepas dari sejarah bangsa yang dapat diungkap melalui proses pembelajaran filologi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Bachtiar (dalam Suryani, 2012) bahwa sebagian besar sejarah dapat diangkat kembali melalui pengetahuan filologi dengan manuskrip sebagai objeknya. Pengetahuan bangsa Indonesia terhadap sejarah khususnya sejarah Islam di Nusantara akan memperkuat kebudayaan yang dikembangkannya dan juga makin memperkuat identitas kebangsaannya. Oleh karena itu, studi filologi atau pembelajaran filologi sangat penting dan besar bantuannya demi membangun karakter muslim di Indonesia.

No responses yet