Raja Harun Ar Rosyid satu hari setelah sidak, duduk2 di pos gardu penjaga di satu wilayah. Lalu datanglah Mbah Wali Buhlul Al Majnun yang waktu itu menunggangi tongkatnya yang dia anggap kuda. Raja Harun Ar Rosyid pun meminta nasehat pada Mbah Wali Buhlul, “Hai Buhlul, walau kamu dianggap gila oleh orang-orang, apa kamu mau memberiku nasehat?”

Mbah Wali Buhlul dawuh, “Andaikan dunia itu datang padamu dengan mudah, wahai Raja, maka maut pun datang padamu dengan mudah juga. Pikir saja, buat apa istanamu yang begitu banyak, lha wong gardu ini aja udah cukup buatmu untuk duduk dan berlindung dari panas?”

Raja Harun Ar Rosyid spontan menangis mendengar dawuh Mbah Wali Buhlul Al Majnun.

Di lain waktu, Mbah Wali Buhlul Al Majnun juga dawuh, “Untuk apa nasehatku kamu dengar lha wong kematian itu udah cukup sebagai nasehat, ini istanamu, ini pula kuburanmu,”

Dalam sebuah syair dinyatakan

هب الدنيا تساق إليك عفوا # اليس مصير ذاك إلى زوال

“Seandainya dengan mudahnya dunia ini digiring kepadamu, tapi tidakkah akhirnya nanti kamu tinggal mati?”

فما ترجو بعيش ليس يبقى # وشيكا قد تغيره الليالى

“Apa yang kamu harapkan dari kehidupan yang tidak kekal? Karena sebentar lagi akan dihabiskan oleh siang dan malam”

وما دنياك إلا مثل ظل # اظلك ثم آذن بارتحال

“Duniamu seperti bayangan yang menaungimu, kemudian bayangan itu akan berlalu”

Serupa syair tersebut, Imam Hasan Al Bashri dawuh, “Andaikan dunia ini tetap menjadi kekuasaanmu, tapi kenyataannya tidak, karena kamu akan mati. Semuanya akan kamu tinggalkan dan nanti duniamu akan dibagi-bagikan kepada ahli warisnya. Dengan duniamu, mereka saling bertengkar berebutan. Begitu juga istrimu yang masih muda akan menikah dengan orang lain. Kekayaanmu kelak hanya untuk calon suaminya yang baru”.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *