Saya punya kenalan mulai dari orang Ahmadiyah, Syiah, HTI (apalagi mantan HTI), Salafi (di Jombang ada Salafi yang “lunak” dan “jinak”) dan FPI. Tentu warga Muhammadiyah dan warga NU adalah kenalan terbanyak, dan ini adalah wajar. Tidak ketinggalan saya punya kenalan dengan orang kejawen.
Sebut saja kenalan saya itu namanya Sang Kejawen. Beliau relatif muda, tapi mengkaji kejawennya serius dan dihayati. Kebetulan juga punya keahlian mijat, nyiwer, mengobati dan jamas pusaka saat bulan Suro (monggo yang pusakanya ingin dijamas agar tidak karatan). Sang Kejawen juga biasa diundang upacara adat Jawa oleh komunitas. Bahkan beberapa pejabat juga membutuhkannya walau dengan cara sembunyi.
Ahad kemarin beliau datang ke rumah saya bersama Mas Amin (teman MAPK) yang memang karib dan sama-sama dari Kediri. Dengan sopan; baik lelaku maupun ucapan, Sang Kejawen memasuki rumahku. Saya melihat dia diam sebentar sambil memandang ke rumah saya. Tentu saya agak heran, namun saya mengira hal itu sebagai bentuk kulo nuwun (permisi) ala mereka.
Besoknya saya japri ke Mas Amin dan katanya, bahwa Sang Kejawen ini biasanya kalau mau mengunjungi pasien malah membakar dupa. Kadang dilakukan di rumah Sang Kejawen ketika akan berangkat, lain waktu di rumah pasien. Kasus tertentu yang cenderung berat, dia minta izin tuan rumah untuk membakar dupa di rumah pasien.
Mas Amin juga bilang bahwa Sang Kejawen saat berada di depan teras rumah saya berbisik, “Alhamdulillah, teng mriki kathah energi positif engkang saget mbantu kulo.” Hal yang menarik adalah ucapan alhamdulillah. Karena dalam peristiwa lain semisal saat pamitan pulang, yang diucapkannya adalah kata “rahayu”.
***
Setelah tamu saya ini duduk, tidak lupa saya ajak ngopi dan jagongan. Selanjutnya saya minta untuk dipijat (asal tahu, saya hobi dipijat lho hehe). Sambil mijat, beliau mengisahkan mempunyai anak kecil yang aktif sholat dan mengaji di masjid.
Tentu saya bilang alhamdulillah. Karena saya amati Sang Kejawen ini tidak sholat. Terbukti saat di Tambakberas kemarin dari sebelum Ashar sampai jelang Maghrib tidak sholat, hanya Mas Amin yang sholat Ashar. Maka saya sahuti agar nanti anaknya kalau sudah lulus SD dipondokkan di Tambakberas saja.
Sang Kejawen yang ngugemi masalah kakang kawah adi ari-ari sedulur pancer ini juga bercerita bahwa saat korona beberapa warung minta dicarikan jalan keluar atau gampangnya minta didoakan karena sepi pembeli.
Sang Kejawen juga berkata, akhir-akhir ini sering melakukan juru damai atas pasangan suami istri yang tidak harmonis karena sebab ekonomi dan lainnya.
Hal yang menarik adalah saat saya diskusi dengan Mas Amin tentang koruptor. Pejabat yang melakukan korupsi seakan tanpa rasa kemanusiaan dan tanpa rasa malu serta silih berganti melakukan korupsi. Sampai kita kayak kehabisan kata dan tidak paham jalan pikir mereka. Mereka “wes angel tuturane, wes tutukno sak waregmu” atau sulit diingatkan, silakan puaskan sampai kamu kenyang.
Relevan juga menyitir pesan yang sering diucapkan kiai kampung, silakan berbuat sesukamu karena engkau pasti menemui balasan dari apa yang kamu perbuat nantinya.
وَاعْـمَلْ مَـا شِئْتَ فَإِنَّـكَ لاَقِـيْـهِ
Sang Kejawen lalu menimpali bahwa orang-orang seperti itu nanti akan ngunduh uwohe pakerti atau memetik buah dari perilakunya. Beliau beberapa kali menjumpai pasien yang entah keluarganya berantakan maupun balak lainnya yang dalam beberapa kasus karena ulah si pasien pada masa sebelumnya. Tentu tidak semua kasus karena hal itu.
Terlepas anda percaya atau tidak tentang pendapat Sang Kejawen, tapi yang pasti amal kebaikan maupun amal keburukan nantinya akan kembali kepada kita. Guru ngaji kita dahulu pernah ngajari kami ayat di bawah ini:
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ
***
Foto bersama Mas Amin dengan kaos seragam hehe….

No responses yet