Categories:

Oleh : Asna Nur Fadlilah (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya atau khazanah budaya peninggalan masa lampau, diantaranya peninggalan dalam bentuk naskah-naskah kuno (manuskrip-manuskrip kuno) yang berisikan tentang dokumen sejarah, budaya serta konsep pemikiran masa lampau. Naskah-naskah kuno merupakan hasil pola pikir para leluhur bangsa yang wajib dijaga dan dilestarikan, sehingga banyak dari komunitas budaya atau para pegiat budaya mendampingi masyarakat pemilik manuskrip untuk menjaga dan melestarikannya. Hal ini berlaku juga dengan teks Suluk Adam Suci yang merupakan bagian dari naskah Suluk Winangkane yang tersimpan di Museum Kambang Putih Tuban.

Naskah Suluk Winangkane (SW) ini belum ada nomor identitas (nomor naskah). Tebal halamannya mencapai 376 halaman atau sekitar 188 lembar yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa dan jenis aksaranya yaitu ngetumbar (membulat seperti buah ketumbar) serta bahasa Arab. Sampul dalam naskah ini menggunakan kertas tebal berwarna biru, akan tetapi sekarang sampul naskah tersebut dibungkus dengan kertas warna cokelat oleh pengelola Museum Kambang Putih. Sedangkan yang digunakan untuk menulis teks ada 2 jenis kertas, antara lain: Pertama, kertas Eropa polos dimulai dari halaman 0 sampai 90a dan 108b sampai 186. Kedua, kertas Eropa bergaris dimulai dari halaman 90b sampai 108a. Kondisi naskah mulai lapuk di pinggiran kertasnya, tulisan pada awal halaman mulai menghilang, akan tetapi aksaranya masih dapat dibaca. Tulisan dalam naskah ini menggunakan tinta berwarna hitam, merah dan biru serta ukuran halaman dalam naskah ini adalah 20,7 cm x 16 cm.

Naskah SWmerupakan salah satu karya sastra jawa yang terdiri dari 17 teks yang masing-masing memiliki beberapa pupuh di dalamnya. Teks-teks tersebut mengandung ajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, salah satunya yaitu teks Suluk Adam Suci (SAS). Teks ini terdiri dari tiga pupuh, yaitu Dhandhanggula, Merak Kacancang, dan Sinom. Teks ini juga termasuk teks keagamaan dan etika, yang berisi nasihat-nasihat dari pendhita Adam Suci beserta Dewi Sri dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam. Dalam teks SAS ini, ternyata dapat berfungsi sebagai pengingat dan pembelajaran bagi masyarakat beragama Islam, khususnya tentang spiritual, pendidikan dan keindahan.

Pertama, Fungsi Spiritual. Salah satu fungsi spiritual dari teks SAS yaitu terdapat dalam pupuh Sinom yang menjelaskan tentang perintah belajar ilmu keTuhanan sebagai bekal kematian. Ini tercantum pada naskah SW halaman 28b-29a, dan pupuh Sinom pada bait ke-3 sebagai berikut:

Den padha sira prayitna

Wirasate ingkang tulis

Aja tungkul ngaji tembang

Den sami grahite ngati

Wajib padha ngulati

Ing ngelmu nira yang ngagung

Mumpung sira neng dunya

Mawis sasangune mati

Aja tungkul neng dunya amrih kadunyan

Manusia diciptakan oleh Allah swt. dengan diberikan akal pikiran, sehingga dapat mencari dan mempelajari ilmu pengetahuan. Ilmu yang harus diketahui manusia ketika masih hidup ialah tentang keTuhanan. Semakin banyak ilmu yang diperoleh, maka semakin baik karena ilmu tersebut merupakan bekal bagi manusia setelah meninggalkan dunia.Dalam teks pupuh di atas, pendhita Adam Suci menegaskan bahwa jangan menyerah dalam mempelajari ilmu, karena pada dasarnya selain sebagai bekal untuk kematian, ilmu juga dapat membantu ketika hidup di dunia.

Kedua, Fungsi Pendidikan.  Ada beberapa fungsi pendidikan yang diajarkan dalam teks SAS bagi pembaca, salah satunya anjuran dalam menuntut ilmu. Hal ini dijelaskan di dalam pupuh Dhandhanggula pada bait ke-8, pada halaman 19a-19b dari SW, yaitu:

Den akebat sira angulati

Mumpung sira aneng dunya

Mumpung ana damar gedhe

Sak mricabi nubut

Adoh ira tan den wangeni

Parek tan pagapokan

Punika kawengku

Pada sira ulatana

Iya iku kan ngaran ngelmu sejati

Aja nora kepanggih

Bait diatas berupa ajakan bagi manusia selagi masih hidup di dunia untuk memperbanyak mencari ilmu. Ilmu dalam bait diatas diibaratkan sebagai damar gedhe yang berarti petunjuk atau pencerahan yang akan membantu manusia menjalani kehidupan di dunia dan kelak diakhirat, sehingga ilmu yang disebutkan dalam teks SAS adalah ilmu sejati.

Ketiga, Fungsi Keindahan. Teks SAS merupakan salah satu karya sastra berbentuk tembang yang merupakan genre sastra Jawa berupa puisi dan cara membacanya harus dilagukan dengan seni suara sesuai dengan peraturan tertentu. Keindahan seni suara dalam tembang SAS diperkuat dengan adanya keindahan bahasa, meliputi purwakanthi guru swara (pengulangan bunyi/sajak), purwakanthi guru sastra (pengulangan konsonan), purwakanthi lumaksitha (pengulangan kata), serta asonasi yang menimbulkan unsur keindahan berupa kesedapan bunyi saat dinyanyikan.

Wallahua’lam..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *