Categories:

Oleh : Muh. Nur Abidin (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)

Sejarah Jawa sudah dimulai dari beberapa tahun lamanya sebelum islam masuk ke jawa.

Tak heran bila jawa sesudah islam masuk sudah mengenal ragam budaya maupun kebiasaan. Melihat juga bahwa jawa sendiri bukanlah suku, melainkan nama tempat, dari itu banyak orang berdatangan, alias pendatang merupakan orang-orang yang kemudian membentuk budaya jawa. Adalah perkataan KH Agus Suyatno. Lebih lanjut beliau menuturkan, bahwa hal tersebut didasari dari banyaknya suku besar di Indonesia memiliki tatanan adat yang jelas, memiliki kepala suku, dll. Yang mana hal tersebut sukar ditemukan dalam masyarakat jawa. Namun di sisi lain, dari ragamnya pendatang dalam kitab karangan Empu Tantular dinisbatkan kata “Bhineka tunggal ika”, berbeda-beda namun tetap satu jua. Dan KH Agus Suyatno juga memaparkan, dari keragaman pendatang menghasilkan kebiasaan orang jawa memiliki sikap welcom, ramah terhadap yang lain.

Sampai pada kebiasaan menulis orang jawa. Memang dalam pandang sejarah, banyak kisah simpang siur yang mendasari kapan jawa mengenal tulis-menulis. Namun pada tulisan ini penulis bertolak dari kisah Adji Saka yang mengenang gugurnya 2 penderek (murid). Mereka diabadikan dalam karya Adji Saka yaitu “Hanacaraka, datasawala, padha jayanya, magabathanga” ​yang artinya “Ada sebuah cerita, terjadi sebuah pertarungan, mereka sama-sama sakti, dan akhirnya semuanya mati”. Dari dasaran itulah dirumuskan aksara jawa untuk keperluan masyarakat jawa dalam mengabadikan sesuatu hal berbentuk tulisan.

Dalam hal ini pun, digunakan oleh kiyai-kiyai sepuh dalam menuliskan terjemahan kitab arab, petuah-petuah jawa, sastra kuno, dll. Yang sampai saat ini bisa kita sebut dengan sebuah manuskrip. Manuskrip ini pula berangsur-angsur dari menggunakan media batu, tanah liat, daun-daunan, sampai pada mulai dikenalnya kertas sebagai media tulis.

Berbicara manuskrip/ naskah kuno. Penulis menemukan sebuah naskah yang berjudul “Paribasan: Suwargo Nunut, Neroko Katut”. ​Sekilas dari judul tersebut dapat dipahami bahwa masyarakat jawa mengenenal pribahasa/ paribasan ​           ​yang mengatakan dalam bahasa Indonesia “Surga Menumpang, Neraka Terbawa”.

Naskah ini penulis temukan di Khastara.perpusnas.go.id berkatalog 1307229 dengan kode panggil NB 809. ​​Serta fisik naskah ini termuat dalam 34 halaman dengan beberapa halaman hanya berupa halaman kosong. Untuk penulisan naskah menggunakan aksara jawa/ ​huruf jawa hanacaraka ​yang disusun rapi seperti buku dengan pengait benang/ dijahit untuk menggabungkan lembaran-lembaran naskah.​​ Bahasa yang digunakan ialah bahasa jawa kromo, mengingat yang dikisahkan merupakan bangsawan. Kemudian untuk isinya, diawali dengan “Bab, Paribasan: Suwargo nunut, neroko katut”. Di dalamnya mengisahkan 2 putri R A. Sundari dan R A. Rugmaningsih. Dimana dari kedua putri tersebut naskah ini digambarkan melalui kisah mereka.

Selanjutnya dalam bagian akhir dibawah kata “Tamat” terdapat tanggal penulisan dalam tahun hijriyah dan masehi. Pada hijriyah bertanggal 26 Ruwah 1879 dan pada masehinya bertanggal 4 Juli 1948. Serta ada paraf unik sebagai akhir dari penulisan naskah.

Meski baru sedikit yang penulisan mampu mengkajinya, dalam naskah tersebut menyadari beberapa hal. Pertama, naskah ini sepertinya bukan hanya satu bab saja. Dan bab paribasan: suwarga nunut neraka katut merupakan salah satu bab yang tertuliskan dalam bentuk satu buku. Kedua, dikarenakan kurang cakapnya penulis dalam memahami teks aksara jawa dan kondisi tulisan yang beberapa tintanya blur, penulis kurang mampu memahaminya lebih dalam. Ketiga, penulis menangkap, sejatinya budaya menjaga ilmu, budaya, sastra dalam bentuk tulisan sudah dikenal kakek-nenek kita di masa lalu. Meski naskah ini masih tebilang cukup muda yaitu 3 tahun setelah kemerdekaan. Hal itu cukup untuk memotivasi kita sebagai penerus masa depan untuk lebih meningkatkan ghiroh kepenulisan, ghiroh pelestarian budaya, ghiroh berliterasi. Sebagai penunjang Indonesia semakin maju.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *