Paijo bergegas keluar dari masjid dan berharap bisa datang lebih dahulu dari jamaah Warung Yuk Tin yang akan makan siang. Namun seorang jamaah terburu mengikuti dan bertanya;
Jamaah : “Jo apa kamu percaya dengan khutbah tadi yang menceritakan bahwa Abu Lubabah bertobat dengan mengikat dirinya di tiang masjid Nabawi selama 13 hari tanpa makan dan minum ?”
Paijo : “Kenapa kamu selalu mengingat dan memikirkan ucapan/kata-kata yang berpotensi salah, ketimbang mengingat nasehat baiknya?” Khotib tadi bermaksud baik dengan menceritakan kisah Abu Lubabah yang bertobat atas kelalaiannya tidak ikut perang Tabuk kerena ingin menjaga hartanya. Agar kita bisa mengambil pelajaran bagaimana cara taubat yang baik. Alih-alih memahami substansi pesannya, kamu malah cari-cari potensi kesalahan dari penjelasan si Khotib.
Kang ! Kita memang harus hati2 dalam menerima semua informasi. Soal Abu Lubabah ada riwayat lain yang menyatakan bahwa dia hanya mengikat diri selama seminggu (sekitar enam atau tujuh hari), sebelum kemudian dilepaskan oleh nabi. Yakni setelah nabi mendapatkan wahyu bahwa tobatnya diterima oleh Allah. Tentu saja riwayat ini lebih masuk akal dari pada penjelasan si khotib yang 13 hari tanpa makan minum. Karena secara “teori” tidak ada yang sanggup tanpa makan dan minum selama 13 hari. Inilah pentingnya menelusuri informasi sehingga kita punya gambaran yang lebih utuh tentang “kebenaran” yang ada di dalamnya.
Jamaah : “Begitu ya Jo?”
Paijo : “Kang kita jangan terlalu merusak otak kita dengan penyakit “Kepo” (Knowing Every Particular Object) atau terlalu ingin tahu tapi melupakan substansinya. Sebab ada sebuah hadist riwayat Bukhori-Muslim yang maknanya menyatakan bahwa Allah membenci orang yang suka menyebarkan kabar burung (desas-desus/hoax), banyak bertanya alias “kepo” (untuk menutupi kebenaran), dan orang yang menyia-nyiakan harta.” #SeriPaijo
Repost, 23 Desember 2016-2020

No responses yet