Di masa pandemi, dialog lintas-iman dalam berbagai pendekatan dan model harus terus dikembangkan. Karena itu saya bersemangat untuk ikut memberi sumbangan pikiran dalam Diskusi Kebangsaan bersama komunitas GKI sore kemarin.
Bukan hanya paparan virus, situasi tidak pasti dan perasaan tidak aman adalah kondisi lain yang nyata. Jika tidak dikelola dengan baik, situasi ini akan mengambil ekspresi negatif seperti makin menebalnya perasan tidak suka kepada kelompok yang tidak disukai, ekspresi intoleransi seperti ujaran kebencian, hingga glorifikasi terhadap kekerasan. Ada banyak riset yang bisa dibaca untuk menopang pernyataan ini.
Pihak atau kelompok yang tidak disukai sangat beragam. Bergantung pada konstruksi dan pengalaman sosial masyarakat. Bagi sebagian komunitas Kristen, kelompok tersebut bisa Islam, bagi sebagian komunitas Islam bisa Kristen. Lainnya, mereka yang dituduh PKI atau Yahudi, pemerintah, atau Cina.
Untuk komunitas-komunitas beragama, peran yang bisa dilakukan adalah memastikan umat dan komunitas mereka dapat mengatasi dampak negatif dari situasi ketidakpastian semacam ini. Saya juga mengusulkan kepada forum ini untuk merumuskan langkah-langkah konkret mitigasi agar mereka tidak menjadi korban sekaligus pelaku intoleransi.
Ini satu soal saja dari dampak pandemi yang harus dijawab komunitas beragama. Belum lagi melihat dampak merosotnya ekonomi, terutama di kalangan kelas menengah. Dibanding masyarakat miskin, saya merasaka kelas ekomi ini lebih rentan terguncang. Mereka yang miskin biasanya punya ketahanan untuk menghadapi situasi sulit.
Usaha-usaha memberi bantuan makanan pokok dan membeli barang-barang kelompok menengah bawah tentu berguna untuk jangka pendek. Saya beruntung dipercaya teman-teman GKI untuk menyalurkan donasi mereka. Dana itu saya salurkan di Depok, Pulau Seribu, dan Kabupaten Bandung.
Meski berjangka pendek, namun dampak panjangnya menurut saya adalah pesan penting yang mungkin dapat ditangkap dari mereka yang dibantu yang terpapar bahwa mereka tidak sendiri. Begitupun dengan publik yang terpapar informasi ini. Mereka yang terbantu merasa memiilki orang lain yang berbeda agama dan keyakinan yang juga peduli. Komunitas gereja juga memiliki pengalaman berkomunikasi dengan komunitas Islam.
Tentu saja pekerjaan rumah yang tidak kalah penting adalah memikirkan langkah jangka panjang yang dapat didorong kepada pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Lantas apa yang dapat dilakukan komunitas komunitas lintas-iman dalam pekerjaan besar ini.
Dalam keseluruhan perbincangan ini peran komunitas beragama seperti organisasi keislaman, komunitas gereja, dan lainnya adalah menyuarakan perubahan struktur sosial, ekonomi, dan politik yang lebih baik. Peran ini memang tidak mudah, tapi fundamental. Apa yang mungkin dilakukan tokoh-tokoh agama adalah bukan hanya suara mereka yang perlu diangkat, tetapi juga suara kaum muda mereka. Mau tidak mau pemimpin agama harus memiliki dukungan penuh agar kaum muda bisa memainkan peran ini bersama anak-anak muda di luar komunitas mereka.
Kalimulya, 23 Desember 2020

No responses yet