Ditulis oleh: Syafiq Niami (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
Seiring berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi yang kian canggih menandakan kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat. Adanya kemajuan ini tak terlepas dari peradaban zaman-zaman sebelumnya, sebagai salah satu bukti adanya peninggalan peradaban masa lampau adalah ditemukanya berbagai manuskrip-manuskrip kuno yang merupakan hasil karya tulis ilmuan terdahulu.
Di nusantara sendiri berbagai manuskrip kuno tersebar luas di berbagai wilayah, salah satunya adalah naskah kitab Minhajul Atqiya’ fi Syarhi Ma’rifatil Adzkiya’ ila Thariqatil Auliya, kitab ini ditulis oleh Syekh Zainuddin Al Malibari yang kemudian disalin ulang oleh Muhammad Saleh bin Umar Samarangi atau yang sering dikenal Mbah Soleh Darat tahun 1333 H. Kitab ini ditulis dengan aksara arab dan jawa sebagai syarahnya diatas kertas Eropa polos tanpa cap air dengan ukuran 26×19 cm, kemudian dijilid dengan benang, serta sampul dengan kertas karton tebal yang berwarna kehitaman, pada naskah lengkapnya terdapat beberapa halaman kosong.
Dikutip dari halaman https://lektur.kemenag.go.id/manuskrip/web/koleksi-detail/lkk-wonosobo2015-kar22.html#ad-image-0 kitab ini merupakan kitab syarah dari matan Hidayatul Azkiya. Didalam kitab tersebut mengandung pelajaran yang sangat luar biasa, yaitu mengenai tuntunan bagi manusia dalam melaksanakan ketaqwaan kepada Allah Swt sang pencipta, juga berisikan mengenai ilmu tasawwuf dan kewalian. Ada beberapa pemahaman yang bisa kita dapatkan ketika membaca naskah kitab karya Syaikh Zainuddin Al Malibari ini diantaranya, yaitu Kiai Sholeh Darat menerangkan dua bait nadzam pada halaman 99.
Jadi secara garis besar ada beberapa point yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat berdasarkan pendapat dari Syaikh Zainuddin Al Malibari pada halaman tersebut, yaitu mengenai empat langkah jitu agar umat manusia selamat dalam menghadapi fitnah kejahatan dunia, sehingga selama hidupnya selalu berada dalam kondisi yang penuh dengan ketenangan dan tidak merasakan kesulitan. Langkah yang pertama, yaitu memberikan maaf atas kebodohan seseorang. artinya adalah jika ada seseorang yang bersikap bodoh dan ia tidak bisa memberi rasa hormat kepada manusia lain maka tugas kita yaitu memaafkanya, karena hal tersebut akan menjadikan seseorang sadar bahwa kebodohan yang ia lakukan akan membawa dampak buruk dan bisa menyusahkan orang lain.
Langkah kedua, yaitu jangan sekali-kali kita menjadi orang yang bodoh atas hak-hak manusia lain. Artinya, kebodohan seseorang terkadang membuat ia lupa diri sehingga berbagai cara digunakan untuk mengelabuhi orang lain guna kepentingan dirinya sendiri tanpa memikirkan hak-hak manusia lainya. Padahal perilaku tersebut bisa saja membawa seseorang itu kepada kondisi ketidaknyamanan dalam hidupnya sendiri.
Langhkah ketiga, yaiu memiliki sikap konsisten terhadap hidup dan tidak mengharap pemberian orang lain. Hal ini menujukan bahwa setiap manusia itu memiliki kemampuan untuk bekerja keras meraih apa yang diinginkanya, sehingga dalam hidupnya tidak serta merta hanya bergantung pada orang lain saja, dalam artian kita dituntut untuk produktif dalam hidup agar kita mampu meraih segala sesuatu yang kiat impikan.
Dan langhkah terakhir, yaitu menjadi orang yang Dermawan (suka memberi kepada orang lain). Dalam hal ini memang Rasulullah sendiri juga sudah memberikan contoh dan memerintahkan terhadap umat manusia untuk bersikap dermawan terhadap sesama, karena pada sejatinya manusia itu hidup bersosial.
Hal yang bisa kita petik dari Keempat langkah yang disampaikan didalam naskah tersbut adalah, langkah-langkah diatas memang penting untuk kita jalani karena jika kita mampu melaksanakan hal tersebut dengan sebaik-baiknya maka kita senantiasa mendapatkan kasih sayang sesama manusia sehingga kita bisa terselamtkan dari berbagai kebencian. Jika kita ingin dihormati oleh orang lain maka kita harus mampu menghormati orang lain terlebih dahulu. Sebagaimana Pesan yang disampaikan oleh mbah Sholeh Darat, yaitu “Barangsiapa yang tidak melaksanakan empat hal ini, maka pasti terjadi konflik (padu tukar) yang menyebabkan lahirnya fitnatunnas (fitnah manusia)”. Berdasarkan pelajaran diatas ternyata memang benar sebuah naskah atau manuskrip kuno menyimpan makna yang dalam, selain sebagai rekam jejak keilmuan masa lampau, juga mampu menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia saat ini. Manuskrip-manuskrip kuno memang sudah sepantasnya harus tetap kita jaga dan dilestarikan karena berbagai keilmuan bisa kita gali dan diaplikasikan pada kehidupan saat ini.

No responses yet