22 tahun lalu ada seorang kiai yang sangat dihormati oleh hampir semua kiai di Indonesia. Tentu kiai ini tidak begitu populer kecuali di kalangan khusus kiai. Ketika itu beberapa kiai berkumpul hanya membicarakan soal bagaimana cara membentengi ummat. Sebab situasi genting saat itu akan berdampak sangat lama terhadap perjalanan sejarah bangsa di masa depan. Di awal tahun 1990-an bapak sering bercerita soal sang kiai yang sukanya pakai ketu atau kopiah hitam dan baju batik ini. Saya tidak pernah menduga bahwa di akhir tahun 1990-an bisa melihat sosok sang kiai yang begitu dikagumi bapak. Padahal usianya juga tidak lebih tua dari bapak. Tetapi entah kenapa bapak selalu memujinya dan bahkan disandingkan dengan Gus Dur dan almarhum Kiai Achmad Shiddiq. Padahal sang kiai tidak sepopuler keduanya.
Malam sebelum pertemuan para kiai tersebut, kami bersama rombongan masih sempat ngobrol sama Gus Mus dan Kiai Muchit Muzadi di warung dekat penginapan kami. Meskipun tidak banyak menyinggung agenda pagi esok harinya, kedua kiai yang bersahabat itu ngobrol ringan sesekali bercanda dengan humor khas pesantren. Kami hanya bisa menikmati pemandangan yang langkah itu dengan dag Dig dug menunggu kabar langit keduanya. Sampai kami istirahat tak muncul kabar langit dari kedua idola santri itu. Apalagi para kiai yang lain juga mulai berdatangan, kami pun beristirahat untuk menyiapkan agenda pertemuan Langitan esok paginya.
Pagi itu suasana Langitan nampak cerah dan ada sedikit mendung. Hampir semua kiai yang kami undang (PP RMI) sudah datang, Gus Mus, dan Kiai Muchit Muzadi juga sudah masuk di ruangan pertemuan. Tetapi tidak ada tanda2 pertemuan akan dimulai. Para kiai muda yang juga ikut hadir duduk diemperan ruang klas utama yang dijadikan tempat pertemuan khusus itu. Berkali-kali Gus Mus meminta para kiai muda itu agar masuk ruangan namun tak satu pun berani beranjak masuk. Karena memang di dalam klas itu sudah tak banyak lagi sela yang bisa diduduki. Tiba-tiba suasana cerah dan tenang pagi itu berubah sangat cepat dengan datangnya mendung pekat dan angin kencang. Seorang kiai berbisik “beliau datang”. Sayapun menengok ke pintu masuk area pertemuan itu. Ada mobil MPV sederhana semacam L300 warna putih masuk dan segera berhenti didekat area pertemuan.
Sosok kiai kurus dengan kopiah hitam turun dan tiba-tiba para kiai bangkit menyambut dan menyalami beliau. Para santri senior pun tidak banyak bereaksi sebelum kemudian seorang kiai berbisik keras beliau adalah sang kiai. Maka para santri berebut mencium tangan sang kiai kharismatik ini. Aku pun terpana sedikit tidak percaya dengan kesederhanaan beliau. Gus Mus pun segera membuka acara inti setelah prosesi pembukaan dilakukan oleh panitia. Sang kiai itu tidak banyak berbicara, hanya menceritakan isyarat yang didapat dari santrinya. Bahwa akan banyak sekali fitnah yang akan menimpa jam’iyah dan ummat Islam. Para kiai harus banyak riyadho atau ikhtiar spiritual agar bisa kuat menjaga jam’iyah dan juga Gus Dur yang ingin berkompetisi jadi calon presiden. Padahal saat itu partai saja belum punya dan pak Harto masih jadi presiden. Para kiai sepakat dan kemudian pertemuan pun selesai. Sosok kiai idola itu pun saat ini sudah kapundut, konon para kiai percaya do’a beliaulah yang sangat “manjur”. Setelah usai pertemuan saya memberanikan diri “nebeng” mobil Gus Mus Toyota Marx II putih. Ke Surabaya untuk ikut pertemuan dengan aktivis mahasiswa keesokan harinya. Di Surabaya sendiri mahasiswa mulai gaduh dengan aksi-aksi menuntut reformasi agar presiden Soeharto segera lengser.
Entah apakah sekarang “tradisi Langitan” itu tetap dilanjutkan atau tidak. Tetapi saya yakin para kiai sepuh secara diam-diam tetap bertemu dan mendoakan agar jam’iyah tetap terhindar dari fitnah yang maha berat, sehingga tetap bisa berhikmad untuk bangsa dan ummat. Hampir semua kiai yang hadir dalam pertemuan itu sudah kapundut, tinggal beberapa saja yang masih sehat dan semoga yang tersisa adalah mereka yang do’a-do’anya juga mustajabah. Sehingga bisa mendoakan jam’iyah dan bangsa ini untuk tetap solid dalam merawat kebhinekaan. #SalamLangitan.

No responses yet