Categories:

Oleh: Imam Ghozali (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)

Manuskrip atau naskah kuno adalah salah satu dari sekian banyak peninggalan nenek moyang yang harus kita jaga dan lestarikan selain peninggalan-peninggalan lainnya dalam bentuk tradisi atau kebudayaan yang ada di seluruh penjuru bumi nusantara khususnya. Karena tidak sedikit peninggalan yang juga diturun-temurunkan itu dicatat dalam naskah kuno. Filologi, merupakan salah satu bentuk penelitian yang berfokus pada objek naskah dan teks kuno. Disebutkan juga bahwa objek kajian yang berupa naskah dan teks yang merupakan hasil goresan tangan ini menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil dari budaya yang ada di masa lalu. Naskah yang berupa teks ini, yang tersebar di bumi nusantara biasanya tertulis dengan berbagai macam aksara, adapun yang banyak ditemukan ialah aksara Arab Pegon Jawa, aksara Arab Pegon Melayu, aksara Jawa, dan berbahasa Arab.

            Layang Samangun, merupakan salah satu karya dari goresan tangan yang ada di masa lalu. Naskah ini menceritakan tentang Raden Samangun yang bertemu dengan Raja Atas Angin di negeri Puser Jagat. Cerita dalam naskah ini adalah hasil adaptasi dari cerita Samson yang beredar di Timur Tengah dan juga dunia Barat. Namun di dalam literature yang lain, penulis menemukan adanya perbedaan dalam isi manuskrip ini, yakni bahwa Samangun adalah seorang putra dari orang keturunan suku Quraisy yang bernama Khalid. Khalid sendiri memiliki beberapa anak perempuan dan hanya satu laki-laki yakni Samangun, sehingga Samangun adalah anak yang sangat ditunggu-tunggu oleh Khalid.

            Namun meskipun keterangan isi yang berbeda, namun ciri-ciri dari dua literature yang penulis gunakan sebagai rujukan inicmemiliki beberapa kesamaan, diantaranya adalah; bahasa tulisan manuskrip ini menggunakan bahasa Jawa dengan aksara Pegon, terdiri dari 48 halaman, alas naskah atau teks menggunakan kertas bergaris, tinta tulisan berwarna hitam dan biru, terdapat halaman yang kosong, tahun kolofon 1385 H, dari segi penjilidan sama-sama disebutkan memiliki kondisi yang baik, serta tempat penyimpanan yang sama yakni di daerah Kedawung, Kota Cirebon.

            Adapun beberapa perbedaan yang penulis dapatkan dari dua liteture yang menjadi sumber rujukan selain pada isi sebagaimana yang telah dipaparkan di atas diantaranya adalah; dari segi ukuran, rujukan pertama menyebutkan bahwa ukuran manuskrip ini yaitu 21×16, sedangkan dalam rujukan yang kedua disebutkan ukurannya adalah 20×15,5. Kemudian juga pada jumlah barisnya, pada rujukan pertama, dituliskan bahwa tiap lembar atau halamannya itu terdiri dari 15 baris, sedang pada rujukan kedua berjumlah 14 baris.

            Sayangnya pengarang ini tidak diketahui siapa tokohnya, namun penyalinnya diketahui bernama Raden Syarif Ruhani. Beliau tidak hanya menjadi penyalin atau penerima naskah manuskrip Layang Samangun saja, tetapi ada juga manuskrip lain yaitu naskah Cariyos Walangsungsang yang didapat dari Pangeran Rohadi Wijaya Jayakelana sang pemilik asli naskah Cariyos Walangsungsang.

            Saat ini, naskah yang merupakan warisan turun-temurun ini dimiliki oleh Drs. Rafan Syafari Hasyim, M.Hum, tepatnya di rumah pribadi beliau di Jl. Raya Kedawung no.491 RT.4/3 Cirebon Kota. dengan gaya tulisan yang dikenali sebagai khat naskhi, terdapat cantuman yang merupakan kolofon dari naskah manuskrip tersebut dengan uraian waktu jam 7, kamis 9 Maulid 1385 H, namun tidak ada penomoran halaman, tidak ada kata alihan, dan tidak ada garis panduan. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *