Categories:

Oleh : Hilda Ellisya Rohmah  (Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang)

Keimanan adalah hal yang paling mendasar bagi seorang muslim sebab itu  sudah sepatutnya sebagai seorang muslim kita memiliki keimanan yang kuat jika diibaratkan dengan sebuah bangunan maka iman adalah sebuah pondasi yang menampung bangunan tersebut, sehingga menjadi kokoh tidaknya sebuah bangunan tergantung dengan sebarapa kuatnya pondasi yang menopangnya. Jika pondasi tersebut lemah maka bangunan tersebut akan mudah roboh namun apabila pondasi suatu bangunan itu kokoh maka bangunan itu akan kuat walaupun diterpa berbagai masalah.

Dalam menjalani kehidupan semua orang membutuhkan iman bahkan setiap waktu seseorang membutuhkan iman, ketika mereka ditimpah musibah mereka butuh iman untuk bersabar dan tetap berdo’a, ketika dalam keadaan bahagia mereka membutuhkan iman untuk bersyukur, dengan adanya iman seseorang akan beribadah dengan khusyuk namun sebaliknya tanpa iman kehidupan kita dan segala amal baik yang telah kita perbuat selama ini di dunia tiada gunanya, oleh sebab itu iman adalah hal yang paling utama bagi seorang muslim.

pentingnya sebuah keimanan bagi muslim sendiri telah banyak dijelaskan dalam kitab karya alim ulama nusantara saat ini, pentingnya sebuah keimanan ini tidak hanya disadari oleh alim ulama masa kini tapi sudah disadari oleh alim ulama nusantara terdahulu, salah satu bukti kesadaran alim ulama dalam pentingnya sebuah keimanan bagi muslim itu sendiri yakni ditemukanya sebuah naskah kuno kategori naskah sumenep, naskah tersebut merupakan naskah kitab tauhid dimana naskah tersebut terdiri dari tiga teks, teks pertama menjelaskan tentang iman antara ahlu sunnah, qadariyah, jabariyah dan af’al manusia, kemudian teks kedua menjelaskan hukum syar’i, hukum aqli dan hukum adat untuk menjelaskan aqidah lima puluh dengan perbandingan antara ahlus sunnah, qadariyah, dan jabariyah sedangkan teks ketiga menjelaskan tentang shalat dan bersuci. Kini naskah tersebut dimiliki oleh Daud dari K.H. Syamsudin, Manding Timur, Sumenep.

Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwah iman mempunyai tingkatan tingkatan yang berbeda, iman mempunyai lima tingkatan, tingkatan yang pertama yakni iman matbu yaitu imanya para malaikat, yang kedua yakni iman ma’shum yaitu imanya para nabi nabi, lalu tingkatan yang ketiga ialah iman maqbul yaitu imanya orang orang mukmin, tingkatan keempat ialah iman mauquf yaitu imanya orang ahli bid’ah, dan tingkatan yang terakhir ialah iman mardud yaitu imannya orang orang munafiq.

Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwah tingkatan iman yang pertama yakni iman matbu, iman matbu ialah iman yang menjadi tabiat atau iman yang menjadi karakter yaitu imanya para malaikat, keimanan dalam tingkatan ini tidak terdapat pasang surutnya selalu menjalankan perintah dan mentaati tanpa argumentasi, karena sudah dibentuk sedemikian rupa untuk tidak mungkin durhaka kepada Allah SWT.

Tingkatan yang kedua yakni iman ma’shum, yaitu iman yang terjaga. yaitu imanya para nabi yang senantiasa terjaga terpelihara dari segala sesuatu yang dapat menodai imanya dan tidak mungkin dapat digoyahkan lagi.

Tingkatan iman yang ketiga yakni iman maqbul, yaitu iman yang diterima. Iman tersebut merupakan imanya orang orang mukmin, maksutnya adalah imanya orang orang yang benar benar iman kepada Allah SWT dan rasul-Nya yang tidak tercampur dengan kesyirikan dan tidak terdapat keraguan didalamnya.

Tingkatan iman yang keempat yakni iman mauquf , iman mauquf adalah iman yang ditangguhkan atau diragukan. yaitu imanya para ahli bid’ah yang imanya masih bercampur dengan kesyirikan. Dia mempercayai Allah SWT sebagai Tuhanya namun disisi lain dia juga mempercayai ramalan dan dukun.

Tingkatan iman yang terakhir yakni iman mardud, yaitu iman yang ditolak. ini merupakan imanya orang orang munafiq yang pada dasarnya nereka merupakan orang kafir, mereka hanya iman dalam lisanya saja, dihadapan orang yang beriman mereka mengatakan mereka beriman namun dalam hatinya menyembunyikan kekufuran. Walaupun mereka menyatakan kepada kaum muslim bahwa mereka beriman namun tetap pernyataan iman mereka ditolak tidak akan diterima.

Perlu kita ketahui bahwa tingkatan keimanan yang wajib dicapai seorang muslim ialah tingkatan iman yang ketiga, yaitu iman maqbul. imanya orang orang muqmin jangan sampai kita menjadi orang orang munafiq yang ditangguhkan imanya, apalagi mempunyai iman mardud iman yang di tolak, karena muslim saja tidak cukup kita harus menjadi muqmin dalam kehidupan sehari hari, kita harus menjadi pribadi yang ihsan dan selalu mendekatkan diri kepada Allah agar keimanan dalam diri kita semakin hari semakin kuat, agar tidak mudah goyah dari dasyatnya godaan syetan yang terkutuk yang melalaikan manusia dari perintah perintah-Nya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *