Categories:

Oleh: Aghnia Chusnul Amalia (Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang)

Perlu kita ketahui, bahwa manuskrip itu sangat penting untuk kita kaji bersama-sama, karena untuk menyelamatkan naskah tersebut agar tetap terjaga dengan baik dan bisa bermanfaat bagi khalayak-khalayak yang membacanya. Salah satunya, seperti manuskrip yang akan saya kaji yakni tentang ilmu kalam, sifat wajib dua puluh. Naskah ini bisa diakses, dibaca dan didownload oleh khalayak umum di laman https://lektur.kemenag.go.id/manuskrip/, dengan kode LKK_SLO2016_NSR04, merupakan manuskrip dari Nusantara kementerian Agama RI.

Dalam manuskrip ini tidak ada catatan pada internal teks, baik  terkait tentang nama pengarang, penyalin, maupun tahun penyalinan bahkan naskah ini juga tidak menyantumkan judulnya. Naskah ini masih tersimpan cukup baik, lengkap, serta teks-teksnya masih bisa terbaca dengan baik dan jelas, yang masih tersimpan di Pondok Pesantren Al-Mansur, Popongan, Klaten, Jawa Tengah. Naskah ini juga merupakan koleksi KH. Nasrun. Adapun alas dari naskah ini terdiri dari kertas bergaris, bahkan naskah ini dijilid dengan benang yang kualitasnya bagus, dan juga yang memiliki ketebalan 14 halaman, dengan ukuran 20,5*16 cm, dan terdiri hanya satu kuras yang disertai juga dengan sebuah sampul yang terbuat dari bahan tipis dan memiliki warna biru tua, perlu diketahui juga kalau didalam naskah ini tidak ditemukannya watermark dan countermark.

Adapun tulisan dalam naskah ini menggunakan tulisan yang berbentuk pegon dan juga bahasa Jawa, dengan khath yang berjenis Naskhi dan bertinta warna hitam. Adapun tinta warna merah didalam naskah ini, digunakan sebagai tanda diantar kalimat tertentu saja, yang fungsinya untuk membedakan antar topik dan paragraf yang baru. Secara umum, disetiap halaman terdiri dari 11 baris, tetapi tidak disertai nomer didalam halamannya dan juga tidak ada kata pengalihannya.

Diawal kutipan naskah ini menjelaskan mengenai sifat 20 yang wajib kita ketahui bagi orang-orang yang sudah berakal dan baligh baik laki-laki maupun perempuan, agar menjadikan lebih sempurnanya lagi agama Islam kita, serta tambah baik juga iman kita. Dan dijelaskan juga “ wa man lam ya’rifha falaisa bi’aqiliin” yakni maksudnya barangsiapa yang tidak mengetahui sifat 20 wajib Allah SWT, sifat 20 muhal Allah SWT, serta sifat jaiz Allah SWT, maka orang-orang tersebut dikatakan, kalau mereka semua tidak mempunyai akal dan juga belum dianggap baligh, maka dari itu kita diwajibkan untuk mengetahui itu semua.

Dihalaman tersebut menjelaskan, bahwa sifat 20 wajib Allah SWT yang perlu kita ketahui, yakni: wujud (ada), qidam (terdahulu), baqa (kekal), muhalafatu Lil hawaditsi (berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya), qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri), wahdaniyah (tunggal), qudrat (berkuasa), iradat (berkehendak), ‘ilmun ( mengetahui), hayat (hidup), sama’ (mendengar), basar (melihat), qalam (berfirman), qadiran (berkuasa), muridan (menghendaki), ‘aliman (mengetahui), hayyan (hidup), sami’an (mendengarkan), bashiran (melihat), mutakkaliman (berfirman). Adapun sifat 20 muhal Allah SWT, yakni: adam ( tidak ada), huduts (baru), fana’ (binasa), mumatsalatu lil hawaditsi (ada yang menyamai), ihtiyaju lighairihi (memerlukan yang lain), ta’adud (berbilang), ajzun (lemah), karahah (terpaksa), jahlun (bodoh), mautun (mati), shamamun (tuli), ama (buta), bakamun (bisu), ‘ajiyan (zat yang lemah), karihan (zat yang terpaksa), jahilan ( zat yang sangat bodoh), mayyitan (zat yang mati), ashamma ( zat yang tuli, ‘ama (zat yang buta), abkama (zat yang bisu).

Dihalaman tersebut dijelaskan bahwa, sifat jaiz Allah hanya satu yakni: “Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu” maksudnya Allah SWT itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu apapun atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya, bahkan Allah itu menciptakan seluruh alam semesta ini. Kemudian, naskah ini juga membahas mengenai sifat wajib Rasul ada 4, yakni; shiddiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fatanah (cerdas). Adapun sifat muhal Rasul juga ada 4, yakni: kidzib (dusta), khianat (tidak dapat dipercaya), kitman (menyembunyikan), dan baladah (bodoh).

Dihalaman tersebut dijelaskan bahwa, sifat jaiz bagi para Rasul yakni: “ ‘Aradh Basyariyah” maksudnya rasul juga memiliki sifat-sifat yang sebagaimana seperti manusia biasa (baik sakit, lapar, makan, minum, tidur, dan sebagainya). Bahkan naskah ini juga menjelaskan mengenai faedah dari ‘aradh basyariyah, setidaknya ada 5, yakni:

  • iku supaya wuwuh ganjarane wong agung poro rusul kabeh. Maksudnya itu supaya mendapatkan pahala seperti para rasul.
  • iku kerono amuruk wong agung para rusul kabeh mareng ummate kabeh saking hukum syara’. Maksudnya itu karena para rasul bisa meringankan para umatnya dari hukum syara’.
  • iku kerono mengo lan lumuh wong agung para rusul kabeh saking rahat lan lanat kang bangsa dunyo. Maksudnya, itu karena para rasul tidak rehat dan tidak terpengaruh, baik berbau dari hal keduniaannya.
  • kerono supaya aweh peleng maring ummate kabeh ing inane derajat dunya mungguh ing gusti Allah SWT. Maksudnya, karena supaya memberi peringatan kepada para umatnya terhadap hinanya derajat dunia bagi Allah SWT.
  • kerono dadi anolak ing sasare I’tiqade wong kang bodho-bodho saking ummate kerana lamun ora anaha ‘aradh basyariyah tumiba ing para rusul kabeh iku yekti ono ummat kang bodho-bodho iku katekanan bilahe kang luwih gedhe sebab aningali ing mukjizate Rasulullah kang dadi angase ing iya hukum bangsa’adat kerana mukjizat Rasulullah iku setengah saking sifate uluhiyyah. Maksudnya, karena menjadi penolakan terhadap I’tiqodnya orang-orang yang bodoh dari umatnya. Karena, tetapi kalau tidak adanya ‘aradh basyariyah bagi para rasul itu bakal ada umat- umat yang bodoh, itu karena kedatangan cobaannya dari Allah yang lebih besar, sebab melihat mukjizatnya para Rasulullah yang menjadi alasan hukum adat. Karena mukjizat Rasulullah itu setengah dari sifat uluhiyyah.

Maka dari itu, kita diwajibkan untuk mengetahui penjelasan yang sudah penulis jelaskan diatas, agar kehidupan kita kedepannya bisa lebih cerah lagi dari kehidupan yang sebelumnya. Aamiin. Apa jangan-jangan salah satu diantara kita ada yang tidak mengetahui sama sekali? Jangan sampai kita tidak mengetahui itu semua ya teman-teman. Astaghfirullahal’adzim

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *