Oleh: Rahayu Widya Ningtias, Mahasiswi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN
Manuskrip atau Naskah Nusantara adalah sebuah kekayaan intelektualitas masa lampau yang sangat banyak diminati oleh beberapa kalangan. karena naskahnya yang bersifat langka dan kuno yang menarik untuk dikaji dan di telusuri kembali. Dan banyak hal yang bisa diungkap dari warisan masa lampau tersebut. Dari segi isi, Naskah Nusantara tidak hanya bidang kesusastraan saja melainkan banyak sisi lainnya. bahkan dalam bidang keagamaan, bidang keagamaan memiliki beberapa tema di antaranya meliputi: Kitab suci, tafsir, Hadis, Tasawuf, teologi dan Fikih.
Di daerah Nusantara telah tersebar banyak Naskah mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Bali. Dan tentunya dari setiap Naskah atau Manuskrip memiliki keunikan masing-masing. Seperti contoh Mushaf yang akan dibahas di bawah ini.
Mushaf ini muncul pada abad ke-19 di Majene, Provinsi Sulawesi Barat, yang di salin oleh Haji Ahmad Syeikh Al-Katib Umar al-Masyhur fi jami’i bilad al-Buqis wa ghairiha min ba’d bilad al-muslimin- yang terkenal di seluruh Negeri Bugis dan sebagian negeri Muslim lainnya. Penyalinan tersebut selesai pada Jum’at 27 Rajab 1248 H /20 Desember 1832 (berdasarkan catatan kolofon pada akhir bagian naskah), lalu diwariskan pada keluarga beliau yang sekarang dikoleksi oleh Drs. Sufyan Mubarak.
Ukuran mushaf ini sekitar 43,5 x 28 cm dengan tebal 7 cm, mushaf ini tergolong agak besar jika dilihat dari ukuran tersebut. Bidang teks mushaf ini berukuran 30 x 17,5 cm. Teks Al-Qur’an digoreskan pada kertas Eropa (abad ke- 16) dengan cap kertas Propatria Eiusoue Libertate; Vryheid dan cap tandingan C&I Honig (terletak di pojok kertas plano pada sisi yang berbeda dengan cap kertas). Mushaf ini ditulis menggunakan aksara Arab dan menggunakan bahasa Arab dengan tanpa adanya terjemahan atau penafsiran, sehingga bisa dikatakan kalau mushaf ini adalah mushaf yang masih murni yang sudah lengkap 30 juz.
Naskah ini berbeda dengan naskah lainnya, naskah ini tidak memiliki iluminasi pada bagian awal, tengah, dan akhir mushaf, Dan masih menyisakan bagian kosong yang biasanya dihias, Hal ini menunjukkan bahwa mushaf ini sebelumnya akan dihias oleh sang penyalin, namun tidak terlaksana. Mushaf ini ditashih di Makkah al-Mukarramah, menurut catatan yang berada di awal naskah. Selain catatan pentashihan, pada awal naskah juga terdapat daftar kode imam qira’ah. Do’a membaca Al-Qur’an, lafadz niat membaca Al-Qur’an, serta terdapat hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Imamah Al-Bahili tentang bagaimana etika serta apa manfaat ketika membaca Al-Qur’an. Mushaf yang disalin dengan menggunakan rasm Ustmani ini memiliki catatan qira’ah lengkap meliputi: nama Imam, tahun lahir dan wafat para Imam, kode dari para Imam, serta di kota mana Imam itu tinggal.
Semua catatan qiraah itu ditulis dan dipilah-pilah dalam sebuah tabel, sehingga sangat memudahkan dalam pencariannya, hanya saja penulis tidak menyantumkan keterangan mengenai tebel tersebut dan terkesan sulit dipahami. Teks utama disalin dengan qira’ah Imam ‘Ashim riwayat Imam Hafs, sedangkan di bagian pias diberikan dua versi qira’at lainnya. Yaitu qira’at Imam Nafi’ riwayat Imam Qalun dengan menggunakan tinta hitam, sedangkan qira’ah Abu ‘Amr dengan menggunakan tinta merah.
Tulisan juz dicantumkan di tepi atas halaman sebelah kiri dengan menggunakan gambar yang sangat unik, yaitu bergambar perahu dengan menggunakan tinta merah. Begitu pula pada juz ke-15 surat Al-Isra’, pada halaman yang terdapat lafadz Wal Yatalaththaf, lafadz tersebut ditulis lebih kecil dan terlihat pinggirnya kosong, ini menandakan bahwa halaman tersebut sebelumnya akan dihias tetapi tidak terlaksana. Pada pojok kiri diluar garis iluminasi (berupa dua garis yang berwarna kuning) selalu diberi lafadz yang sesuai dengan ayat selanjutnya, hal ini sama dengan mushaf-mushaf pada umumnya. Pemisah ayat satu dengan ayat lain pada mushaf ini menggunakan lingaran sebesar tulisan ayat dengan menggunakan tinta merah dan di dalamnya terdapat nomor ayat.
Pada mushaf ini, tulisan huruf “kaf” memiliki dua wajah, pertama menggunakan huruf kaf yang terdapat hamzah di tengahnya, kedua huruf kaf yang tidak memiliki hamzah di tengahnya dan ditambahi sleret (tanda garis) pada bagian atasnya. Dalam mushaf ini tidak terdapat tanda waqaf apapun, yang ada hanyalah gambar lingkaran untuk memisah ayat satu dengan ayat lainnya. Tetapi tidak semua surat memiliki tanda pemisah antar ayat, pada surat-surat pendek seperti: An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan lain sebagainya, Mushaf ini tidak memiliki tanda pemisah ayat seperti di surat lain. Wallahu ‘alam bisshawab.
Nama saya Rahayu Widya Ningtias Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang.



No responses yet