Oleh : Atika Fatimatuz Zahra (Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang)
Naskah ini pada laman Blasemarang dinamai dengan kitab Safinatul Bahriyah dengan kode naskah BLAS/SUM/16/AT/23, namun dari apa yang penulis baca dalam naskah itu sendiri dalam versi PDF, tertera nama kitab ini sebenarnya adalah Safinatul Bahrain dan ditulis oleh Jalaluddin al-Mahalli. Kondisi naskah dari apa yang penulis lihat tergolong cukup baik dengan kertas yang masih utuh dan tulisan yang masih bisa terbaca. Jenis kertas yang digunakan berupa kertas daluang, yang mana jenis kertas ini memang telah lama dipakai untuk menulis naskah-naskah kuno kerajaan nusantara, al-Qur’an di pesantren dan juga sebagai bahan baku wayang. Untuk jumlah halamannya sendiri, merujuk pada naskah kitab dalam bentuk PDF, berjumlah 145 halaman dengan 13 baris pada tiap halamannya. Naskah ini sekarang dimiliki oleh H. Madani dari K.H Abdul Karim.
Dalam kitab ini, terdiri dari dua teks, teks yang pertama membahas tentang akhlak atau tasawuf dan teks kedua membahas tentang asmaul husna dan asma rasulullah saw. Ada dua bahasa yang digunakan pada naskah ini yaitu bahasa Arab dan bahasa Jawa. Disini penulis ingin memfokuskan analisa pada teks yang kedua, yaitu mengenai asmaul husna dan asma Rasulullah Saw..
Dimulai dengan pembahasan asma yang pertama, yaitu asma’ul husna. Dalam kitab Safinatul Bahriyah, susunan asma’ul husna disertai dengan faedah pada masing-masing lafadznya. Baik lafadz asma’ul husna maupun faedah membacanya, keduanya menggunakan bahasa Arab. Seperti contoh berikut:

“Ya Rahman barangsiapa yang membacanya 100 kali, maka akan mendatangkan rahmat”
“Ya Rahiim barangsiapa yang membacanya 100 kali, maka akan mendatangkan keikhlasan dalam setiap perbuatannya”
Namun, urutan asma’ul husna yang ada di dalam kitab ini berbeda dengan urutan asma’ul husna yang kita ketahui. Jika biasanya kita memulai asma’ul husna dengan lafadz Ya Rahman lain halnya dalam kitab ini, lafadz asma’ul husna dimulai dengan lafadz Ya Allah baru setelahnya lafadz Ya Rahman. Kemudian, penulis juga menemukan setidaknya tiga perbedaan lafadz asma’ul husna dalam kitab ini, antara lain adanya lafadz Ya Allah, Ya Subbuhu, dan Ya Mu’thiyyu. Penulis menduga ketiganya itu menggantikan lafadz Ya Malikul Mulk, Ya Qaadiru dan Ya Dzul Jalaali wal Ikram yang mana tidak dapat kita temui dalam asma’ul husna versi kitab Safinatul Bahriyah ini.
Setelah menyebutkan asma’ul husna beserta faedah-faedahnya, pengarang kitab ini menyebutkan beberapa fungsi atau penggunaan dari asmaul husna, disebutkan bahwa selain sebagai bentuk Dzikrullah, asma’ul husna juga dapat digunakan untuk kita berdo’a dan sebagai ungkapan janji atau sumpah.
Berlajut kepada pembahasan asma yang kedua yaitu asma Rasulullah Saw., disebutkan dalam kitab ini asma Rasullullah Saw. ada 102 asma. Untuk susunan penulisan asma Rasulullah Saw. sendiri, berbeda dengan apa yang dituliskan untuk asma’ul husna, jika dalam asma’ul husna setelah penyebutan lafadz kemudian disertai dengan faedah membaca tiap lafadznya, namun tidak dengan asma Rasulullah Saw. ini, dalam susunannya murni hanya menyebutkan ke 102 asma tersebut.
Dan masih banyak lagi penjelasan setelah asma Rasulullah Saw. ini yang masih perlu untuk digali makna keilmuannya lebih jauh, sehingga nantinya dapat menambah wawasan dan khasanah keilmuan yang dilahirkan atau didapat sebagai hasil dari analisa yang dilakukan terhadap teks-teks yag ada dalam kitab Safinatul Bahriyah ini. Wallahu a’lam bisshawab.

No responses yet