Bencana kemanusiaan tak pernah benar-benar hilang dari dunia ini. Sebab bencana itu semacam tantangan intelektual sekaligus spiritual bagi manusia. Ada satu tafsir ayat motivasi sekaligus ancaman yang begitu populer dan bernilai universal, selalu diwacanakan oleh para penda’i semua agama bahwa barangsia bersyukur pada Tuhan maka akan ditambah nikmat Nya, barangsiapa “kafir” atau tidak bersyukur atas nikmat Nya maka ketahuilah bahwa azab Nya sangat pedih. Pertanyaannya bagaimanakah cara kita bersyukur ? Sehingga nikmat itu bisa semakin bertambah. Suatu saat guruku menasehati : “Jo biasakanlah mengucap Alhamdulillah dan kemudian berbagilah nikmat itu dengan sesama (keluarga, kerabat, tetangga atau teman, anak yatim dan orang miskin). Maka semua energi positif berhamdalah dan berbagi itu akan kembali mendatangimu secara melimpah. Soal Azab Nya, sebenarnya itu bukan karena Allah itu kejam, tetapi Azab itu lebih karena kita menganiaya diri sendiri. Karena itulah redaksinya menggunakan kata pedih. Karena serasa menyakiti diri sendiri dengan sadar jika kita tak pandai bersyukur.”
Aku terdiam dan berusaha memahami nasehat guru dan berangan-angan bukankah kami sudah melakukan itu dan bahkan merutinkan hal itu dalam ritual selamatan ? Tiba-tiba guru tersenyum dan berujar : “Kamu tahu Jo betapa para sesepuh kita sudah mengajari kita dengan tradisi selamatan untuk menunjukkan rasa syukur atas nikmat Nya, bukan saja memuji dan berdo’a kepada Tuhan yang diajarkan oleh mereka, tetapi berbagi nikmat Nya dengan semua komponen alam.” Aku bergumam dalam hati ; “Tetapi kenapa kita merasa Alam tidak beranjak membaik? Alih-alih membaik, alam justru semakin keras “bersikap” kepada kita manusia.” Tiba-tiba Guruku pun menjelaskan ” Jo, Kadang kita merasa sudah bersyukur tapi perasaan mengatakan kenapa keadaan tak juga membaik ? Hal itu terjadi karena tidak ada lagi keseimbang dalam rasa syukur itu antara sisi spiritual dan intelektual, karena rasa syukur telah berubah menjadi sebatas ritual. Bahkan tak jarang ritual itu juga dijual menjadi upacara-upacara yang dikomersilkan atas nama kelestarian Budaya. Bukan lagi untuk Nya , yang menentukan kelestarian manusia dan alam.”
Paijo makin tertunduk malu dan mulai menyadari betapa dia selama ini telah menjadi bagian dari manusia yang pura-pura bersyukur, tetapi sebenarnya dia telah begitu dalam bertakabur dengan keangkuhan ego dan intelektualitasnya yang sebenarnya hampir tidak ada maknanya. Sang guru kembali berujar ; “Jo bersyukur bukan sekedar tahaddus binikmah, tetapi soal kesadaran bahwa kita ini selemah-lemah hamba yang tak kuasa berkehendak atas segala nikmat Nya. Kita dulu dicipta oleh yang Kuasa dari “kematian” (tanah) dan atas Kuasa Nya kita dihidupkan. Bahkan diciptakan dengan bentuk paling sempurna. Maka sudah seharusnya ketika kita melepaskan setiap hembusan nafas, kita menyertainya dengan istighfar. Sebaliknya ketika kita menghirupnya kembali, maka sertailah dengan hamdalah disetiap hembusan itu. Sebab yang kita keluarkan dari hembusan itu adalah nikmat Nya dan yang kita hirup dalam setiap nafas juga nikmat Nya. Kita bahkan tak memiliki apapun Jo termasuk diri ini milik Nya.”
Tetiba Paijo melayang layang dalam ketaksadaran, dia melihat jasadnya memudar dan melebur menjadi debu. Kemudian tumbuh menjadi segumpal darah yang dalam sekejab menjadi janin, bayi dan kemudian melihat wajah ibunya bertaruh nyawa melahirkan dirinya. Tiba-tiba dia sudah menjadi bocah lucu yang berlarian, kemudian menjadi remaja, dewasa, dan menua dalam sesaat. Paijo menangis menyadari betapa hidupnya tidaklah begitu “bermanfaat” bagi dirinya, keluarga kecilnya, kedua orang tuanya, apalagi masyarakatnya. Tetiba suara sang guru samar terdengar memanggilnya. “Jo bersyukur itu adalah sebuah pengakuan sejati seorang hamba pada Pemiliknya. Bahwa dirinya yang seorang hamba sebenarnya tidak berhak mendaku atas apapun yang ada padanya. Sebab bahkan ego yang kita punya adalah nikmat pemberian Nya. Agar kita sadar ketika ego kita mencoba berkuasa pada diri kita, masih ada yang Maha Egois yang sebenarnya lebih berkuasa atas diri kita. Jo kita tidak diperintah oleh Nya untuk menbunuh ego pemberian Nya. Kita hanya disuruh mengendalikannya. Maka kendalikan egomu dengan lebih banyak diam dalam permintaan, tetapi aktif dalam pelayanan. Jangan diamkan kedholiman jika kamu menemukan dalam kehidupan. Kedholiman yang dimulai dari rasa sombong dan merasa paling berkuasa biasanya akan membawa bencana besar bagi ummat. Sombongnya Fir’aun digambarkan dengan sangat sempurna di hampir semua kitab agama. Karena itu Allah menghadapkan kesombonhan Fir’aun tersebut dengan “Kebesaran Tuhan” dalam diri Musa”. Tapi kamu bukan Musa Jo, jadi jangan terlalu percaya diri kamu benar dalam setiap langkahmu. Maka segera beristighfar setelah kamu melahirkan “kesombongan mu” untuk melawan kesombongan lain yang bukan pada tempatnya.” #SeriPaijo

No responses yet