Masih membahas dzikir ke 13 dalam Ratibul Hadad, mbah. Dzikir ini mengisyaratkan tentang kesempurnaan kecintaan dan kepatuhan yaitu adanya khouf atau rasa takut dan khawatir atas murka dan takdir buruk dari Gusti Allah Ta’ala. Diibaratkan dalam akhir surat Al Baqarah, bahwa Gusti Allah memberi rizqi sekehendak-Nya dan mengadzab sekehendak-Nya, gak ada hitungan logis atau jaminan apapun. Inilah yang kita khawatirkan, mbah.

Ndoro Imam Al Habib Abdullah Al Hadad, Shohibur Ratib, dalam Nashoihud Diniyyah dawuh tentang ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ..

“Duh, wong kang nduwe iman, bertaqwalah kepada Gusti Allah secara sebenar-benarnya taqwa..”

Bahwa seorang beriman harus punya keyakinan bahwa meskipun seseorang itu punya sejuta nyawa dan sejuta umur dan setiap harinya digunakan untuk taat dan mencintai Gusti Allah, itu semua berkat Gusti Allah sendiri yang berkehendak demikian. Amal baiknya tidak akan ada tanpa rahmat dari Gusti Allah Ta’ala.

Karena itu kita gak usah heran, bisa saja seorang ulama dicabut ilmunya atau seorang wali dicabut kedudukannya dan mengangkat seorang pendosa menjadi seorang wali. Ya semua sak karepe kersane Gusti Allah. Maka seorang hamba hendaknya bersikap tidak mengunggulkan keimanannya dan tidak terlalu senang bila punya kelebihan.

Ada pujian dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Kyai mushonnif tentang doa ahso tsana’ yang menggambarkan sifat Kebesaran Gusti Allah Ta’ala :

أعوذ برضاك من سخطك و بمعافاتك من عقوبتك و أعوذبك منك لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك

“Hamba berlindung kepada ridho-Mu dari siksaan-Mu dan hamba berlindung kepada pertolongan-Mu dari adzab-Mu dan hamba berlindung kepada-Mu dari kemarahan-Mu, tidak ada milyaran pujian kepada-Mu dari makhluk sebaik pujian-Mu yang Engkau tujukan untuk-Mu sendiri”

Hikmahnya bahwa hakikat ibadah itu adalah mengabdi kepada Gusti Allah agar terlindungi dari adzab Gusti Allah. Bahwa sesempurnanya ibadah, iman dan ketaatan seorang hamba, tidak akan bisa meliputi kebesaran-Nya dan tidak akan bisa melindungi hamba dari adzab-Nya, semua hanya ikhtiyar agar turun rahmat dan ridho-Nya. Andaikan sudah taat tapi masih kena adzab, ya itu kehendak Gusti Allah demikian, sehingga rasa takut seorang hamba itu tetap terpelihara. 

Wes, pokoke intinya tidak ada hal bisa dibanggakan, mbah. Jadi kita kudu terus ikhtiyar, sebagai usaha merawat kecintaan kita kepada Gusti Allah. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *