Sosok Semar merepresentasikan ketiadaan sekaligus keabadian. Semar tentu bukan Tuhan. Tapi ia menjadi penanda Tuhan bahwa Tuhan itu nyata adanya. Semar adalah bangunan karakter hamba Tuhan yang paling manusiawi sekaligus paling absurd. Saya pertama kali dikenalkan dengan Semar secara serius oleh bapak yang memang pecinta wayang lewat figur Gus Dur. Dalam kehidupan nyata bapak selalu mengulang-ulang bahwa Gus Dur adalah gambaran nyata sosok Semar. Orang yang tidak pernah takut dan kuatir tentang dirinya dan selalu berpikir jauh melampaui zamannya. “Dunia ini adalah tempat pengabdian bukan tempat menebar ketakaburan”, itulah pesan abadi pada sosok Semar, yang tersirat dalam penjelasan bapak tentang Semar dan Gus Dur.
Sebagai pecinta wayang sekaligus orang yang meyakini bahwa Gus Dur adalah wali. Bapak selalu membenarkan semua tindakan Gus Dur, karena beliau tak pernah membaca Gus Dur dengan pikiran umumnya orang awam ataupun cendekiawan. Bapak membaca Gus Dur sebagai kekasih yang sedang jatuh cinta, maka sebagaimana “pepatah; “Kalau sudah Cinta, tai kucing pun baunya sedap. Senyeleneh apapun pikiran Gus Dur akan selalu benar karena (Gus Dur selalu) jadzab.” Sejak pertengahan 1980-an saya sudah didoktrin tentang sosok “Gus Dur” itu Semar dan waliyullah. Aku masih Tsanawiyah saat itu dipaksa “membaca” pikiran-pikiran Gus Dur yang nyeleneh. Majalah bulanan Aula dan berita koran yang memuat informasi tentang Gus Dur pasti diberikan kepada saya untuk saya baca. Pada awal 1990-an saya ikuti pemikiran Gus Dur di suatu seminar nasional di UGM. Bahkan diforum itu saya bertanya dan dimarahi beliau karena menggugat pikiran beliau tentang wawasan kebangsaan yang menurut saya saat itu terlampau idealis. Aku baru lulus SMA saat itu dan belum kuliah. Namun pertanyaaku di forum itu bukan didorong untuk lebih paham soal wawasan kebangsaan, tetapi saya hanya penasaran saja apakah benar Gus Dur seorang waliyullah sebagaimana diyakini bapak. Ketika beliau “marah” dengan pertanyaanku, dalam hati aku percaya Gus Dur wali, tapi nalar rasional ku terus menolak. Apalagi saat itu bahkan Gus Dur “dimusuhi” oleh banyak sekali kiai, yang mengkhawatirkan NU. Tapi kata bapak tentang hal itu; “Itulah bedanya wali dengan kiai. “Lho bukannya para kiai juga waliyullah?” Ujarku. Beliau tersenyum dan menjawab para kiai adalah wali bagi dirinya sendiri dan orang-orang tertentu yang jadi ahlinya. Tapi Gus Dur itu walinya dunia.” Aku semakin pusing tak paham.
Begitulah aku mengenal sosok Gus Dur sebagai Semar yang tidak mudah dipahami tetapi tingkahnya “menghibur” semua orang. Musuh atau kawan sama-sama dibuat tertawa bahagia dalam kekuatiran dan kebingungan. Karena sebagaimana Semar yang tak pernah tuntas menjelaskan dan menyelesaikan pekerjaannya. Dia selalu meninggalkan banyak pekerjaan rumah untuk si Petruk, Gareng dan Bagong. Begitulah Gus Dur meninggalkan banyak sekali warisan pekerjaan untuk diselesaikan oleh para anak ideologis beliau. Warisan yang sebenarnya tidak akan pernah tuntas kita kerjakan. Sebab pekerjaan itu hakekatnya bukan untuk diselesaikan, tetapi “diabadikan” sebagai bentuk pengabdian seorang hamba Tuhan. Maka tak perlu heran jika puncak perjuangan Gus Dur disimbolkan dengan lambaian tangan di Istana “kerajaan” dengan hanya memakai kaos oblong dan celana kolor cingkrang. Banyak sekali pesan yang beliau ingin sampaikan, tapi sebagaimana Semar dia tidak akan benar-benar memberikan penjelasan apa maksud tindakan yang beliau lakukan. Seolah memberikan kesempatan pada setiap orang untuk menafsirkan sendiri-sendiri sesuai keadaan yang diharapkan. Itulah Gus Durku bagiamana dengan Gus Durmu? #SeriPaijo
Tawangsari 30 Desember 2020

No responses yet